Featured Video

Selasa, 10 Juli 2012

47 dari 3.500 orang rimba di Jambi lulus sekolah formal

Orang Rimba atau biasa disebut Suku Anak Dalam di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi 


Sembilan anak rimba yang mendiami kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), Provinsi Jambi menjadi kader pendidikan bagi kelompok rimba yang ada di daerah itu.

"Proses pengenalan pendidikan bagi orang rimba di Jambi cukup berat dan sulit. Untuk itulah, kami dari Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi mencoba menggandeng anak rimba sebagai kader pendidikan," ujar Koordinator Program KKI Warsi, Jambi, Robert Aritonang kepada wartawan di Jambi, Senin.

Menurut dia, KKI Warsi sebagai salah satu lembaga pemerhati orang rimba Jambi terus berupaya memperkenalkan proses pendidikan bagi suku suku terasing yang ada di daerah itu sejak 1990an lalu.

Hanya saja, proses pengenalan pendidikan bagi orang rimba atau biasa disebut Suku Anak Dalam (SAD) cukup sulit. Mengingat, ada beberapa kelompok orang rimba yang justru menolak atau bahkan menentang proses pengenalan pendidikan formal seperti membaca maupun menulis.

"Bagi kelompok yang menentang, pendidikan formal dinilai akan merusak adat istiadat rimba. Ditambah lagi kendala orang rimba yang selalu berpindah pindah atau melangun," jelasnya.

Ia menjelaskan, untuk lebih memperkenalkan dunia luar kepada anak rimba, KKI Warsi sengaja membawa tujuh orang kader pendidikan itu ke Kota Jambi untuk mengunjungi beberapa sekolah, perpustakaan, balai latihan kerja (BLK), museum dan beberapa tempat lainnya.

"Ini kami namakan pendidikan kecakapan hidup. Artinya, kami mencoba mengenalkan kepada anak rimba, bagaimana orang luar bekerja, sekolah atau menjalankan aktifitasnya. Sehingga, anak rimba nantinya bisa memilih, apakah akan hidup sebagai orang rimba atau akan berbaur seperti layaknya manusia lain yang hidup di luar," ujarnya lagi.

Sementara itu, Tembeko (15) salah satu kader pendidikan mengaku sudah duduk di bangku kelas dua SMP. Ia berharap bisa memperoleh pendidikan layaknya siswa formal lainnya, salah satunya bisa mendapatkan pendidikan gratis.

Ia menceritakan, anak rimba tidak banyak yang mengenal pendidikan. Bahkan, dirinya bersama delapan kader pendidikan lainnya tidak hanya sekolah, namun juga ikut mengajari anak-anak rimba lainnya yang tinggal di dalam hutan.

"Biasanya kami pagi bekerja mencari getah jernang atau karet. Siang sekolah waktu malam kami ikut mengajari membaca atau menulis kawan kawan lain didalam hutan yang tidak ikut program kelas jauh," ujarnya.

Betegu (13) salah seorang siswa rimba lainnya mengakui, ada beberapa kelompok orang rimba yang menentang adanya pendidikan bagi anak rimba.

"Bahkan ada kelompok yang melarang anaknya menikah dengan anak rimba yang sudah mengenal pendidikan. Untuk mengajak belajar juga harus dirayu-rayu terlebih dahulu agar mau belajar," kata siswa SMP yang mengaku bercita-cita menjadi seorang peneliti ini.

Berdasarkan data KKI Warsi, populasi orang rimba di Provinsi Jambi mencapai 3.500 orang yang sebagian besar menyebar di kawasan TNBD di Kabupaten Batanghari, Tebo, Sarolangun serta sebagian Kabupaten Bungo. Dari total populasi itu, berdasarkan catatan KKI Warsi yang sudah tamat sekolah mulai SD, SMP dan SMA baru 47 orang.

Namun demikian, fasilitas pendidikan bagi anak rimba dinilai masih kurang. Sekolah yang tercatat memberlakukan program sekolah satu atap bagi anak rimba baru ada dua sekolah yakni di Kabupaten Sarolangun dan Kabupaten Tebo. (BS)

antaranews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar