Featured Video

Kamis, 26 Juli 2012

Sudahlah Nur, Jangan Menangis Juga


Arif Rizki
Padang – “Sudahlah, Nur, jangan menangis juga. Hapuslah air mata kau itu.” Demikian kata Mardus kepada Nurdini, istrinya.
Mendengar kata suaminya, Nurdini mengusap air mata dengan kain panjang di lehernya. Tapi setelah itu, giliran Mardus pula yang menangis. Mereka duduk bersimpuh di depan rumah yang sudah terbenam lumpur. Mereka hanya bisa pasrah.

Di depan mereka berdua orang-orang berlalu-lalang mengangkat barang-barang yang tersisa. Tapi mereka tidak beranjak. “Tidak ada lagi yang tersisa. Rumah sudah habis tertimbun tanah. TV entah di mana, belum bertemu lagi,” ujar Nurdini.
TV adalah benda paling berharga di rumahnya. Rumah mereka berada persis di tepi Batang Kuranji. Tepatnya di bawah jembatan Koto Panjang, Limau Manis yang putus akibat banjir bandang ter sebut. Saat sungai meluap, rumahnya termasuk yang pertama terkena hantaman banjir. “Kami belum sempat berbuka puasa. Padahal nasi sudah disiapkan. Tiba-tiba air meluap dan rumah terpaksa ditinggalkan,” cerita Nurdini kepada Singgalang, Rabu (25/7).
Banjir yang tiba-tiba datang, sontak membuat warga di sekitar Koto Panjang meninggalkan rumah. Ada yang naik ke dataran tinggi, ada yang menumpang di rumah tetangga yang aman. Nurdini dan Mardus memilih menumpang ke rumah tetangga.
Mardus dan beberapa warga lainnya mendatangi rumah mereka kembali, setelah air surut pada Rabu dini hari. Sesampai di depan rumah, mereka tak kuasa menahan air mata. Rumah-rumah kecil itu sudah tak berbentuk lagi. “Saya belum tidur dari tadi malam. Nasi bungkus pembagian itu tak tersuap. Letih rasanya. Tak tahu harus bagaimana lagi,” keluh Mardus.
Sehari setelah banjir surut, sebagian warga sudah kembali ke rumah masing-masing. Mereka membersihkan rumah dari lumpur yang kering. Namun rumah Mardus sulit dibersihkan karena lumpur di rumahnya sudah mengering. Enam orang anaknya saling bergantian mencangkul timbunan tanah di dalam rumah yang tingganya mencapai satu meter. “Semuanya sudah habis. Biasanya siang ini saya istirahat sepulang dari sawah. Kini sudah tak bisa lagi, karena sawah pun ikut kena banjir. Habis akal saya, nak. Sebentar lagi hari raya,” ujar Nur.
Sementara itu, nasib Nurdiati sedikit lebih beruntung. Rumahnya memiliki dua lantai sehingga masih ada sisa harta benda yang bisa digunakan. “Semua barang-barang di bawah sudah habis terendam lumpur. Untung saja di tingkat atas masih ada sisa barang,” ujar Nurdiati.
Ia berusaha tegar, meskipun sebenarnya mengalami banyak kerugian. Rumahnya hanyalah rumah jenis semi permanen yang tak terlalu kokoh. Jika bencana serupa datang lagi, dipastikan rumahnya akan terbawa air.
Mardus dan korban lainnya hanya bisa pasrah sambil berharap ada bantuan yang bisa mengembalikan rumah mereka kembali. Lebih dari itu, mereka juga berdoa semoga tak ada lagi bencana serupa di lain hari. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar