Featured Video

Kamis, 27 September 2012

Rakor Pariwisata jangan hanya Seremonial-Tuntut Komitmen Kepala Daerah



Pengembangan pa­riwisata di Sumbar tidak cukup hanya de­ngan seminar dan rapat. Kini yang di­tunggu publik adalah komitmen danaction para pemangku kepentingan mem­bangun industri pariwisata Sumbar. 


Kemauan politik itu harus dimulai dari kepala daerah. Rapat koordinasi kepala daerah membahas pengemba­ngan kepariwisataan Sumbar di Padang hari ini (26/9), dinilai pelaku wisata tidak banyak gunanya bila hanya sere­monial. Sebab, sudah tidak terhitung lagi rapat dan seminar membahas pariwisata Sumbar digelar, tapi sepi aksi. 

“Tanpa komitmen pimpinan daerah, pengembangan pariwisata hanya berja­lan di tempat. Pembenahan infras­truktur pariwisata harus menjadi priori­tas untuk menggaet wisatawan,” ungkap Ketua Asita Sumbar, Ian Hanafiah kepada Padang Ekspres, kemarin (25/9).

Sudah banyak keluhan pe­mangku kepentingan terhadap kondisi pariwisata Sumbar, tapi realisasinya tidak kunjung ada. “Maka dari itu, kami berharap rakor tersebut benar-benar membawa angin segar bagi pengembangan pari­wisa­ta Sumbar,” jelasnya.

Tak bisa dipungkiri, siapa pun mengangumi keelokan alam Sumbar. Namun begitu, potensi itu belum juga mem­buat pemerintah Sumbar ber­sungguh-sungguh mening­kat­kan pendapatan dan ekonomi masyarakat lewat pariwisata .

Ini terlihat pada kondisi objek-objek wisata strategis di Sumbar, yang masih jauh dari ha­rapan. Di samping infra­struk­tur yang minim, prema­nisme di sejumlah objek wisa­ta, dan kebersihan yang tak terjaga.

“Persoalan itu sudah sering disampaikan, tapi belum ada langkah pembenahan yang konkret. Apabila dibiarkan te­rus begitu, maka wisatawan ti­dak nyaman berlama-lama ber­wisata ke daerah ini,” ingatnya.

Asita juga jengah dengan alasan Dinas Pariwisata yang sering menjadikan minimnya anggaran sebagai “kambing hitam” dalam pembenahan objek wisata. “Keterbatasan anggaran sebetulnya bisa saja disiasati. Misalnya untuk satu tahun, pemda fokus pem­bena­han objek wisata pada suatu tempat yang dijadikan desti­nasi utama, sedangkan lainnya perawatan atau pembinaan dalam pengelolaan objeknya,” tegasnya.

Pe­ngamat pariwisata, Yul­no­frins Napilus mengusulkan agar pariwisata Sumbar perlu pembenahan fasilitas umum di objek wisata. Seperti keber­sihan toilet, tempat makan atau restoran, serta pemberan­tasan premanisme. Pria yang selama ini konsen mempro­mosikan pariwisata Sumbar, menambahkan, lahan parkir di objek wisata mendesak ditata.

Karena itu, ia berharap rakor kepala daerah hari ini, melahirkan hasil konkret dan berkomitmen mengek­seku­sinya. Tidak habis pada rakor dan kesimpulan saja. Salah satunya, menetapkan penye­lengaraan iven pariwi­sata se­cara berkala.

“Itu dijadikan kalender tetap, sehingga wisatawan mengetahuinya, begitu pula rekan-rekan dari travel agent. Kalender iven itu dikoordinir provinsi, dan kabupaten dan kota harus sudah siap dengan apa yang akan mereka jual kepada wisatawan,” tandas Nofrins seraya mencontohkan iven pacu jawi, atraksi ke­senian, dan lainnya.

Sebelum tahun baru, kata Nofrins, sedianya telah ada iven agar travel agent mudah memasarkannya. “Persia­pan­nya bisa tiga bulan sebelum itu. Nah, kalender iven yang bisa dijadikan paket wisata ini yang mesti dijadikan perhatian pemerintah daerah, bersinergi dengan travel agent. Lihat Malaysia, kan sudah jelas jad­wal iven dan paket wisatanya setiap tahun, cuma saja di Sumbar yang tak jelas,”  pa­parnya.

Ditambahkannya, target wisatawan juga harus dipa­hami dalam memasarkan des­tinasi wisata. Malaysia, misal­nya. Ketika ada iven besar, wisatawan yang akan dibidik sudah jelas.

“Beberapa bulan sebelum liburan sekolah di Indonesia, mereka sudah sibuk ke berba­gai daerah di Sumbar mema­sarkan paket-paket wisata murah dan menarik untuk dikunjungi di negara mereka. Artinya, mereka sudah tahu jadwal libur negara-negara di dunia,” sarannya.

Nofrins mengungkapkan apresiasinya pada pengem­bangan pariwisata di Sawah­lunto, yang dari kota kecil mam­pu membuat pariwisa­tanya maju dan dikenal luas di dunia. “Harusnya kepala dae­rah yang lain juga mencontoh apa yang telah dilakukan ke­pala daerah Sawahlunto,” ucap­nya.

Ketua Persatuan Hotel & Restoran Indonesia (PHRI) Sumbar, Maulana Yusran me­nyarankan pemerintah daerah tidak hanya fokus pada wisata alam, tapi juga melirik wisata meetings, incentives, conferences, and exhibitions (MICE). Sebab, potensinya tidak kalah besar dengan wisata  alam. Tapi butuh kesiapan infras­truktur, seperti fasilitas ballroom, peningkatan layanan bagi wisatawan serta akses darat dan udara.

Dengan banyaknya wisata MICE di Sumbar, maka akan jadi promosi gratis dalam menggerakkan roda pariwisata dan meningkatkan ekonomi masyarakat. “Sebab, setiap ada iven besar di Sumbar, maka para  pesertanya akan mengi­nap dan  berbelanja. Artinya, pergerakan uang di Sumbar semakin besar. Ini wisata yang sangat menjanjikan,” tuturnya.  (*)

sumber


Tidak ada komentar:

Posting Komentar