Featured Video

Rabu, 24 Juli 2013

Ini Dia Penampakan Hotel Hasil Bisnis Investasi Yusuf Mansur

http://images.detik.com/content/2013/07/24/5/yusufmansurhasan12.jpg

Jakarta - Ustadz kondang Yusuf Mansur punya bisnis baru, yaitu mengumpulkan dana dari warga dan menginvestasikannya di tempat lain. Bisnis ini ia sebut Patungan Usaha (PU).


Bisnisnya tersebut ternyata belum berizin, sehingga ia menghentikan sementara sambil berkonsultasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pasalnya, ada beberapa hal yang ia harus patuhi sebelum bisa mengumpulkan dana masyarakat (aturan yang dilanggar Yusuf bisa dilihat di sini).

Sebelum program PU ini dihentikan, Yusuf sudah berinvestasi menggunakan dana patungan tersebut. Dipakai apa saja uangnya? Simak hasil penelusuran Rabu (24/7/2013).

Hotel dan Apartemen

Dana hasil dari penggalangan dana masyarakat melalui program PU Yusuf pakai untuk membeli hotel dan apartemen dua menara bernama Topas, dekat bandara Soekarno-Hatta. Masing-masing menara terdiri dari 12 lantai dan memiliki 300 kamar.

Nilai pembelian Rp 150 miliar

Banderol harga hotel dan apartemen ia ditaksir Rp 150 miliar. Setiap peserta PU membenamkan modal patungan Rp 12 juta. Yusuf membidik 15.000 pesera PU demi memuluskan proyek ini.

Keuntungan investasi maksimal 8% per tahun

Dari bisnis hotel ini, Yusuf mematok imbal hasil alias keuntungan investasi sebesar maksimal 8%. Jika kemudian hotel tersebut untung lebih besar, katakanlah 12%, maka sisanya akan jadi sedekah yang akan diberikan kepada pesantren di seluruh Indonesia. Namun jika keuntungannya lebih kecil dari 8% atau rugi, itu sudah jadi risiko masyarakat.

"Delapan persen itu cuma plafon (batas atas), kalau ini secara hotel lebih dari 8%, saya minta mereka ridho bersedekah. Wajar dong saya sebagai ustadz minta bersedekah. Anda (keuntungan) jangan banyak-banyak segitu saja setahun. Nah, kalau kurang dari 8%, itu sudah nasib ente," katanya usai melakukan pertemuan di kantor OJK awal pekan ini.

Awalnya apartemen subsidi

Bangunan yang dibeli pakai dana bersama itu awalanya proyek apartemen subsidi yang mulai dibangun 2009. Namun karena ada perubahan kebijakan di tahun berikutnya, maka gedung dengan 250 kamar itu tidak bisa masuk golongan subsidi.

Akibatnya, si pemilik apartemen tak sanggup menjual tiap unitnya sehingga terpaksa dilepas ke Yusuf. Desain bangunan yang setengah jadi itu pun langsung diubah menjadi hotel bintang tiga yang rencananya berfungsi menampuang jemaah haji dan umrah.

Rencana ke depan

Setelah hotel dan apartemen, Yusuf tidak berhenti begitu saja, ia pun semangat mengincar bisnis-bisnis lain, seperti maskapai penerbangan, perkebunan, tambang dan manufaktur.

"Setelah hotel, nanti kita akan coba masuk ke maskapai, Insya Allah. Mulai dari beli pesawat capung, propeler, sampai nanti Airbus komersial. Besok apalagi? Sawit. Tambang emas. Tekstil nanti kita juga main, insya Allah," katanya.

s

Tidak ada komentar:

Posting Komentar