Featured Video

Selasa, 27 September 2011

RAFLESIA ARNOLDI YANG MERAH MENYALA


Sejak dulunya Indonesia telah memiliki kekayaan alam yang luar biasa, dan itu tak . Ia mampu menyihir siapa saja dengan pesonanya. Tak hanya turis lokal, turis dari mancanegara pun rela jauh-jauh dari nega­ranya untuk berkunjung ke Indonesia demi menyaksikan secara langsung betapa indah­nya negeri ini.

Seperti yang dilakukan dua orang turis mancanegara, Kamal (27) yang berasal dari Prancis dan Nija (26) dari Lithuania. Sejak tiga bulan yang lalu mereka telah meninggalkan benua Eropa demi menjelah Indo­nesia. Sudah banyak daerah-daerah di Indonesia yang mereka kunjungi. Diantaranya Bali, Lombok, Nusa Tenggara dan Sulawesi.
Siang itu, Minggu (25/9) lalu, Kamal dan Nija yang ditemani Haluan serta beberapa orang teman­nya asal Indonesia berangkat dari Kota Bukittinggi menuju Nagari Batang Palupuh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam untuk menyak­sikan indahnya bungan Raflesia Arnoldi yang sedang mekar.
Bunga yang dikenal juga dengan sebutan bunga bangkai ini memang luar biasa cantik ketika mekar. Warna merah menyalanya sangat menarik perhatian. Namun bunga ini hanya bisa dilihat saja. Jika disentuh, ia bisa rusak.
“Kelopaknya akan berubah menjadi kehitaman lalu mati kalau disentuh,” jelas salah seorang pemandu, Joni (30).
Mekarnya bunga Raflesia ini hanya terjadi sekali dalam 2 bulan saja. Oleh sebab itu, Kamal dan Nija tak menyia-nyiakan kesempatan. Seperti akan menjelajah hutan, dua orang asing ini masing-masing memakai ransel yang berisikan laptop, makanan, minuman, dan kotak Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K).
Keduanya juga mengenakan sepatu yang biasa dipakai pendaki gunung. Tak lupa juga sebuah kamera untuk mengabadikan momen-momen berharga. Untuk sampai ke desa Batang Palupuh, mereka harus naik angkutan umum jurusan Palupuh yang biasa ngetem di Pasar Banto Bukittinggi. Ongkosnya tak begitu mahal, hanya Rp 5 ribu saja per orang. Namun, angkot tersebut hanya akan berangkat jika penumpang sudah benar-benar penuh. Alhasil, mereka harus menunggu hingga 45 menit barulah mobil tersebut penuh. Namun Kamal dan Nija tak menun­jukkan wajah kesal atau bosan, mereka terlihat menikmati.
“Ini pertama kalinya kami naik mobil yang seperti ini,” Ujar Nija terba­ta-bata dengan Bahasa Indonesia.
Ia sudah sejak lama mempelajari Bahasa Indonesia namun hingga kini ia mengaku belum menguasainya. Ia selalu menemukan orang Indo­nesia yang mampu berbahasa Inggris sehingga ia merasa tak perlu mahir Bahasa Indonesia.
Setelah penuh, angkot pun melaju menuju cagar alam Batang Palupuh di mana bunga Raflesia Arnoldi sedang mekar.
Sekitar 30 menit perjalanan, akhirnya kami pun sampai di tujuan. Namun kami belum benar-benar sampai, karena masih ada sekitar 3 km lagi perjalanan untuk mene­mukan bunga bangkai itu. Perja­lanannya tak bisa ditempuh dengan mobil apalagi sepeda motor. Kami harus berjalan kaki untuk sampai.
Namun 3 km ternyata tak berarti apa-apa. Mata akan disuguhkan dengan pemandangan alam yang luar biasa indahnya. Hamparan hijau sawah-sawah penduduk  dan beberapa tebing rendah menemani perjalanan kami. Semuanya menyejukkan mata.
Ada sekitar 500 m jalan datar, sisanya kami harus mendaki. Medan yang dilalui cukup licin, jika tak hati-hati akan terpeleset dan masuk ke jurang di sisi kiri jalan. Tak selang beberapa lama, kami menemukan anak sungai dengan aliran air yang jernih. Karena haus, kami pun meminum air sungai tersebut.
It’s tasty and fresh,” terang Kamal setelah minum. Menurutnya air sungai itu lebih enak daripada air minum dalam kemasan yang dibawanya.
Setelah 40 menit berjalan, akhir­nya yang dinanti pun terlihat. Sebuah bunga tanpa batang ataupun daun seperti tergeletak begitu saja di atas tanah. Lebarnya sekitar 80 cm.
“Biasanya lebih besar dari ini, bisa sampai 150 cm,” terang Joni.
Lebih lanjut, bunga ini terdiri dari dua jenis, jantan dan betina. Tak seperti yang jantan, kini jenis betina sudah sangat jarang ditemukan.
Masih ada dua titik lagi tempat bunga langka ini tumbuh, namun kami harus berjalan sejauh 2 km lagi. Ketika akan melanjutkan perjalanan, tiba-tiba hujan turun. Kami pun memutuskan untuk kembali saja. Hujan akan membuat jalan menjadi sangat licin dan berbahaya. Untuk pulang, kami harus melewati jalur yang sama seperti saat masuk.
Hari itu terasa sangat me­nye­nangkan dengan pengalaman dan sensasi baru tentang Indonesia. Esoknya, Kamal dan Nija berniat melanjutkan perjalanannya ke Kota Medan. Di sana mereka akan me­ngunjungi tempat-tempat baru yang tak kalah menariknya. “In­donesia is so amazing, we need the whole life time to explore Indonesia,” terang Kamal. (Laporan: Sonya Winanda)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar