Featured Video

Rabu, 26 Oktober 2011

DORA SETELAH TIGA BULAN


RUMAH tipe 36 berwarna kuning di Taruko I terlihat asri dengan pohon belimbing yang sedang berbuah ranum di halamannya. Seseorang mengenakan topi keluar dan menyapa ramah. Ia adalah Dora Indriyanti Trimurni (26), gadis yang diserang penyakit langka, darah keluar dari pori-pori kepala. Seperti apakah kehidupannya sekarang? Apakah penyakitnya telah sembuh?

Dora telah banyak melewati masa-masa kritis dalam hidupnya. Ia dirawat di banyak rumah sakit, terakhir di RSCM Cipto Ma­ngun­kusumo Jakarta. “Saya diperbolehkan pulang pada 3 Juli,” ujarnya sambil mengajak masuk.
Ada harapan, sekembali dari Jakarta ia melanjutkan cita-citanya sembari melupakan penyakitnya. Melupakan? Menurut Dora, ia mesti rutin berobat, memeriksakan penyakit. Melupakan penyakit adalah sebuah obat untuk melanjutkan kehidupannya. “Saya tak benar-benar sembuh, tapi juga tak larut di dalamnya,” katanya.
Gadis yang dulu dikenal bernama Adit ini memulai harinya di tempat kontrakannya Ulu Gadut, bersama adiknya Doni. Tanpa sorot kamera, tanpa bau obat. Ia kembali memulai kehidupannya dan meneruskan mimpi-mimpinya.
Aktivitas pertama yang ia laku­kan adalah kembali ke kampusnya di Universitas Bung Hatta (UBH). Ia menuntut ilmu di Fakultas Hukum. “Saya bertemu teman-teman, sungguh bahagia,” katanya sebulan yang lalu.
Yang membuat Dora sangat bahagia, bertemu dengan Wiwin, sahabat setianya. Tak banyak berubah. Wiwin tetaplah adik (meski tidak kandung) yang terus mendam­pinginya.
Kegembiraan Dora sering tergang­gu karena (lagi-lagi), ia tidak dapat mengelak darah yang keluar lagi di kepalanya. “Saya berobat lagi ke RS M. Djamil Padang. Diperiksa oleh dokter Irza Wahid,” katanya. Peme­rik­saan awal sekembali dari Jakar­ta—dua bulan yang lalu itu—Haluan me­ngi­kutinya. Ketika itu Irza me­ngatakan, Dora mesti rutin berobat.
Tapi, Irza menekankan, obat terbaik adalah mengobati psiko­logisnya. Ia sebaiknya tidak banyak bersedih, merenungi masa lalunya. Seperti diketahui banyak orang, latar belakang Dora memang penuh ujian. Ia menyambung hidup dan mem­biayai adiknya sekolah dengan mengojek, menyamar menjadi laki-laki. Ia pernah menjadi satpam, pernah terjatuh dari tangga di satu perusahaan di Batam.
“Saya seorang keras hati, itu jalan hidup saya,” katanya mengingat lagi masa lalunya. Sekembali dari Jakarta (di saat bersamaan sampel darahnya sedang dikirim ke Jerman), menurut Dora, ia empat kali memeriksakan kesehatan dan empat kali pula ditangani psikiater.
Beruntungnya, ketika penyakit Dora dibicarakan banyak orang, muncul rasa kasihan dari dermawan. Pengobatan Dora dibantu oleh banyak orang, pejabat, bahkan hingga ia sampai di Jakarta. Meski dengan uang yang mencukupi, keseharian Dora tetaplah seperti biasa. “Ke kampus saya masih naik motor. Kadang naik angkot,” ujarnya.
Ingin Rumah
“Saya merindukan memiliki sebuah rumah kecil. Saya ingin sekali mengu­bah hidup. Saya ingin berda­gang, la­banya saya jadikan untuk biaya ke­butuhan sehari-hari,” kisahnya ke­mu­dian. Keinginan itu ia sampai­kan ke lem­baga yang mengumpulkan uang­nya.
Lama meminta, melalui proses yang cukup panjang, rumah idaman ia peroleh pada 27 September. Hampir sebulan rumah itu dibeli, tidak berisi perabotan apapun, Dora menyadari satu hal: ia harus kembali berjuang untuk hidupnya.
“Terakhir saya memeriksakan diri ke Jakarta pada bulan puasa lalu. Saya disuruh kembali memerik­sakan kesehatan setelah lebaran, tapi tak kunjung terpenuhi hingga kini,” katanya.  Dora menyebutkan, ia kembali mengojek.
Menurutnya, ia memang tidak memiliki banyak kekuatan lagi untuk melakoni pekerjaan lamanya itu. Tapi pilihan untuknya tak banyak. Ia mengojek di banyak kawasan: Lubuk Buaya, Taplau, dan sesekali di Bandara International Minang (BIM).
Tapi, aku Dora, tenaganya tak seperti dulu lagi. Dulu ia sanggup ngojek sampai pagi. Sekarang, rata-rata pukul 02.00 WIB dini hari ia merasakan tenaganya tak mampu lagi dipaksakan, dan memaksanya kembali ke rumah.
Ketika itu pula, darah di kepa­lanya tak dapat lagi dihentikan. “Dua minggu ini darah dari kepala keluarnya cukup banyak, tapi saya tak dapat melakukan apa-apa,” ujarnya. Dora, keras hatinya masih seperti dulu. Cita-citanya untuk membuat sebuah warung kecil dan membiayai pengobatannya, akan diusahakannya sendiri. Meski ia tak tahu caranya. (Andika D Khagen)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar