Featured Video

Rabu, 26 Oktober 2011

Penggagas Kecewa, Tujuan Pedati Sudah Melenceng-Sumbar


BUKITTINGGI, HALUAN — Penggagas acara Pekan Budaya, Dagang dan Industri (Pedati) Nusantara merasa amat kecewa dengan penyelenggaran Pedati mulai dari tahun 2005 hingga saat ini.

Pasalnya, acara yang digelar di arena Pedati, dinilai sudah melen­ceng dan keluar dari batang tubuh Pedati itu sendiri pada saat dicetuskan bulan September tahun 2000 lalu.
“Tujuan kami para penggagas, mencetuskan Pedati untuk merekat persatuan dan kesatuan bangsa. Terutama untuk masyarakat Bukit­tinggi yang dihuni multi etnis. Pedati sekaligus bertujuan untuk mem­populerkan budaya anak nagari,” kata penggagas Pedati Con Piliang kepada Haluan, Selasa (25/10).
Iro­nisnya lagi, para penggagas dahulu, sejak tahun 2006 tidak lagi diikut­sertakan menjadi panitia setelah ada bantuan dana APBD Pemko Bukittinggi. Padahal sejak Pedati pertama hingga keempat, Pedati diselenggarakan dengan dana patungan para donatur.
“Tahun 2000,  saat pertama kali Pedati diselenggarakan, kami hanya punya dana Rp2,5 juta. Kali kedua tahun 2001, hanya ada dana Rp7,5 juta. Tahun ketiga 2003, hanya dengan dana Rp10 juta. Dan pada tahun keempat, 2004, dengan dana Rp15 juta, yang sudah diibantu dana APBD Pemko Rp7,5 juta. Sejak 2006 hingga kini, dananya sudah ratusan juta. Namun acaranya sudah banyak melenceng dari tujuan semula,” kata Con Piliang menjelaskan.
Menurut Con Piliang, ruh Pedati itu, ada Pedati yang disu­guhkan di arena dan budaya anak nagari seperti meniup batang padi, kerajinan perak, menenun, mene­rawang, menyulam dan menjahit bordir kerancang.
“Tapi semua itu tidak pernah ada lagi, kecuali hanya tari-tarian dan dananya pun sungguh besar,” katanya.
Sementara tokoh Bukittinggi, Young Happy, juga memper­tanyakan apakah selama ini ada laporan pembubaran dan keuangan panita dengan dana APBD sekian ratus juta setiap tahun, dari tahun 2006 hingga sekarang.Begitu pula, apakah ada kontribusi even orga­nizer (EO) terhadap pemko sen­diri, tidak pernah disampaikan kepada masyarakat “Sebab EO diberikan tempat dan ruang untuk menjual tenda-tendanya di arena Pedati, tentu harus ada kontri­businya untuk daerah ini. Kalau tidak, ya kita laksanakan seperti dulu lagi, oleh anak nagari. Acara akan lebih meriah dan lebih bermakna,” kata Young Happy.
Pedati yang direncanakan dibuka Menteri Kebudayaan RI pada Senin (24/10) malam, ternyata hanya dibuka Gubernur Sumbar Irwan Prayitno dan hanya dihadiri Bupati Agam Indra Catri.(h/jon)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar