Featured Video

Selasa, 25 Oktober 2011

Nivo Lahir Tidak Normal


Ibu Tukang Cuci, Ayah Sopir Serap
PADANG - Nivo Fernandes, 3, tak bisa bergerak selincah anak-anak lainnya. Meski pun terlihat normal, beberapa anggota tubuh balita ini tidak tumbuh sempurna. Kaki dan tangannya tidak bisa digerakkan. Di perutnya ada tonjolan yang menyerupai tumor. 
Keadaan in sudah dialami Nivo beberapa bulan setelah ia lahir. Menurut orangtuanya, Rahmayuli, 31, memburuknya kesehatan anaknya dimulai dengan demam tinggi. Nivo pernah dirawat di rumah sakit, namun keadaan nya tidak membaik. Untuk mendapatkan kesembuhan, Nivo diharuskan mengikuti terapi panjang, yang tentu saja memakan biaya besar. Dengan putus asa, akhirnya Rahmayuli mendatangi kantor Singgalang, Senin (24/10).
Diceritakan Rahmayuli, ia tak sanggup lagi membiayai biaya pengobatan puteranya. Sehari-hari, ia bekerja sebagai buruh cuci di Simpang Batang Kabuang, Muaro Penjalinan Koto Tangah Padang. Dengan pekerjaan itu, ia hanya memperoleh penghasilan tak lebih dari Rp300 ribu/bulan. Sementara, suaminya bekerja sebagai sopir serap sebuah angkutan kota jurusan Pasar Raya-Tabing. Penghasilan yang didapatkan hanya sekitar Rp600 ribu.
“Dengan penghasilan serendah ini, rasanya berat sekali membiayai pengobatan Nivo,” kata Rahmayuli.
Diagnosa dokter, Nivo mengidap penyakit radang paru semenjak lahir. Penyakit inilah yang menyebabkan pertumbuhan Nivo tidak sem purna. Bayi seusia Nivo seharusnya sudah bisa berlari aktif dan berbicara, namun ia justru sebaliknya. Jika ia diterapi, kesembuhannya bisa dikejar, walaupun prosesnya panjang. Untuk sekali terapi di RSUD Padang , Rahmayuli akan mengeluarkan biaya sedikitnya Rp50 ribu.
“Rasanya kami tak sanggup mengeluarkan biaya sebesar itu. Semakin lama terapinya, tentu biayanya akan le bih banyak,” ujar Rahmayuli.
Karena ketiadaan biaya, terapi Nivo sering kali macet. Rahmayuli acap kali tidak membawanya berobat, walau pun ia tahu akan berakibat buruk. Ironisnya, jika anaknya meringis kesakitan, Rahmayuli akan membujuk Nivo untuk diam dengan memberinya makanan. “Hal itu terpaksa kami lakukan, agar dia tak menangis kesakitan lagi. Hanya itu yang bisa kami lakukan,” katanya.
Setiap hari Nivo selalu digendong oleh ibunya. Rahmayuli menceritakan, jika ia tengah mencuci pakaian tetangga, Nivo ditidurkan di dekatnya. Yang lebih mengharukan, terkadang ia harus mengendong anaknya di punggung sembari bekerja.
Rahmayuli berharap, ada donatur yang bersedia memberikan bantuan untuk pengo batan anaknya. Dengan adanya bantuan, setidaknya biaya terapi Nivo bisa lebih ringan. “Memang kesehatan anak saya adalah tanggungjawab saya sebagi keluarga, namun besarnya biaya yang dibutuhkan membuat saya terpaksa meminta perhatian. Saya berharap ada yang membantu,” harap Rahmayuli. (405)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar