Featured Video

Selasa, 11 Oktober 2011

Padang Punya Cerita-Lampu Merah Jadi Pajangan


SAWIR PRIBADI

Diakui atau tidak, Kota Padang kian hari kian maju dan berkembang. Namun seiring dengan itu, banyak pula terjadi cerita-cerita menarik yang terkadang menyedihkan dan tak jarang pula ada yang menggelikan. 
Salah satu kemajuan Kota Padang adalah di bidang ekonomi. Sebagai bukti, lihatlah jalanan penuh oleh kendaraan bermotor. Ribuan kendaraan berbagai jenis dan merek bersiliweran, mulai dari yang paling butut, yang onderdilnya tidak ada lagi di toko sampai kepada kendaraan bermotor mewah yang kalau rusak, onderdilnya harus didatangkan dari Jepang atau Korea.
Akibat kendaraan bermotor yang bejibun jumlahnya, jalanan di dalam kota menjadi macet. Barangkali sekarang tiada hari tanpa macet. Bahkan, jalan By Pass di pinggiran Kota Padang akhir-akhir ini telah menjadi langganan macet pula.
Setidaknya kemacetan terjadi di Kota Padang pada pagi dan sore hari atau juga saat pergantian jam masuk sekolah siang hari. Ruas jalan yang menjadi langganan macet selain By Pass adalah antara Simpang Haru dengan simpang empat By Pass Ketaping. Kemudian ruas jalan antara Simpang Tinju dengan Siteba, Jalan Sisingamangaraja, Jalan Lubuk Begalung, Jalan Hamka, Jalan Perintis Kemerdekaan dan lainnya. Khusus jalan di seputaran Pasar Raya jangan disebut lagi. Di situ macet dari pagi hingga malam. Sebutlah Jalan Mohammad Yamin, Jalan Hiligoo, Jalan Pasar Raya dan Jalan Pasar Baru yang bersimpul di Jalan Permindo. Macet terus! Bahkan, Jalan Pemuda yang satu arah tidak ketinggalan pula dengan kemacetan pada sore hingga malam hari.
Kemacetan di ruas-ruas tertentu ternyata tidak terbantu oleh traffic light (baca; lampu merah). Banyak lampu merah di Kota Padang yang hanya sebagai pajangan saja. Ia ada berdiri kokoh di persimpangan jalan, tetapi tidak berfungsi. Kalau pun ada yang berfungsi, namun tidak diindahkan oleh pengendara. Khusus kasus terakhir ini antara lampu merah dan pengendara sama-sama mempertahankan ego. Sama-sama basibagak.
Di antara lampu merah yang tidak berfungsi terdapat di simpang tiga Anduring. Di kawasan itu, kendaraan dari ketiga arah sama-sama basibagak saja. Begitu juga lampu merah di simpang empat By Pass Taratak Paneh atau lebih dikenal simpang ke Kuranji. Di kawasan ini kendaraan benar-benar basalingkik, terutama pagi dan sore hari.
Untung saja pada jam-jam tersibuk itu ada polisi lalu lintas yang mengatur. Namun, kadang-kadang mereka dibuat kewalahan juga oleh sikap sopir yang sama-sama tidak mau menahan diri.
Di simpang empat By Pass Durian Taruang lain lagi masalahnya. Lampu merah aktif, tetapi tidak diindahkan oleh pengendara. Biar hijau, kuning dan merah bagi pengendara sama saja. Terobos terus! Akibatnya suasana kerap diwarnai oleh sumpah serapah dan carut yang mengketutus.
Sebenarnya, lampu merah di sepanjang Jalan By Pass boleh dikatakan sebagian besar bermasalah. Di kawasan Balai Baru ada dua titik lampu merah. Yang satu tidak berfungsi sama sekali, dan yang satu lagi, yakni di simpang empat ke Siteba sama saja dengan lampu merah di simpang Durian Taruang. Hijau, Kuning dan merah sama saja. Entah pengendara yang buta warna atau memang mereka tidak suka dengan warga yang tiga itu. Entahlah!
Inilah tingkah polah pengendara kendaraan bermotor di Kota Padang. Mereka laksana tagageh semua. Selain menerobos lampu merah, juga mendahului tanpa peduli aturan. Potong kida sudah biasa saja. Tak peduli jalan sempit, asal tersenggang langsung mendahului dari kiri.

Harus diganti
Kepala Dinas Perhubungan Kota Padang, H. Firdaus Ilyas mengakui rata-rata lampu merah di kota ini dalam kondisi ‘sakit’. Bayangkan, dari 33 titik lampu merah yang ada, hanya satu saja yang baru, yakni traffic light di Alang Laweh. Lampu merah itu dibangun tahun 2011 ini, tapi bukan melalui APBD, melainkan bantuan APBN.
Selain satu yang baru itu, hanya sekitar 10 lainnya yang masih bisa berfungsi, walau bagai kerakap di atas batu, iduik sagan, mati ndak amuah. Maklum saja usia lampu pengatur lalu lintas itu sudah lebih 25 tahun.
Firdaus mengatakan, semenjak tahun 2007 tidak ada lagi APBD untuk traffic light. Sementara biaya pemeliharaan di APBD hanya sekitar Rp50 juta lebih saja setahun. “Nah, kira-kira apa yang bisa dilakukan dengan uang sebanyak itu terhadap 33 traffic light?” Katanya.
Oleh karena usianya yang sudah tua, Firdaus menyebutkan solusinya adalah dilakukan penggantian semua traffic light. Kalau ini dilakukan jelas konsekuensinya biaya besar. Bayangkan, harga satu titik traffic light itu sekitar Rp300 juta lebih. “Kalau nanti ada pembangunan traffic light saya maunya tidak pakai tenaga listrik. Maunya pakai tenaga surya seperti yang di simpang Alah Laweh itu,” katanya lagi.
Dari keterangan Kepala Dinas Perhubungan tersebut, wajar-wajar saja banyak lampu merah di Kota Padang yang menjadi pajangan. Diperlukan kearifan semua pihak terkait, Selain Dinas Perhubungan juga wakil-wakil rakyat yang berkantor di Sawahan. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar