Featured Video

Kamis, 10 November 2011

Hamka, Lantang Menantang Arus


MUSRIADI MUSANIF

PERTENGAHAN Ramadhan kemarin, saya berkunjung ke Museum Hamka di Sungai Batang, Maninjau. Saya berharap, dengan berkunjung ke situ, dapat menapaktilasi sepak terjang Prof. Dr. Hamka dan ayahnya Dr. H. Abdul Karim Amrullah. Sayangnya, museum itu tak mampu memenuhi hasrat keingintahuan pengunjung terhadap tokoh yang namanya harum di Indonesia dan Malaysia.
Di sana, saya menemukan sebuah bangunan yang disebut sebagai Museum Hamka. Menghadap ke Danau Maninjau. Tertutup! Pagarnya pun digembok. Beruntung, ada orang yang tinggal di seberang jalan yang menjual buku-buku fotokopian karya-karya langka Hamka. Lumayanlah, daripada kembali dengan tangan hampa.
Kedatangan saya ke Sungai Batang, murni untuk mendapatkan referensi dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri benda-benda warisan Hamka. Saya berkunjung ke Sungai Batang, karena memang tidak bisa lagi menemukan sosok dan bekas sepak terjang Hamka di Padang Panjang. Jadi, tidak ada kaitannya dengan akan dianugerahkannya gelar pahlawan nasional oleh Presiden RI kepada Hamka.
Kendati demikian, saya termasuk orang yang sangat bangga mendapat kabar Hamka ditetapkan menjadi pahlawan nasional. “Akhirnya mau juga pemerintah mengakui kehebatan Hamka yang pernah berseberangan pendapat dengan pemerintah. Selesai satu pekerjaan. Semoga tahun depan, gelar serupa bisa pula diterima Rahmah El-Yunusiyyah, orang yang sangat dikenal Hamka sebagai pejuang perempuan yang berani mengangkat senjata menentang penjajah,” ucap saya di hati.
Sebagai seorang tokoh reformis kenamaan di masa penjajahan Belanda, terutama pada dasawarsa kedua dan ketiga abad 19, semestinya Hamka memiliki banyak jejak bersejarah di Padang Panjang. Ayahnya dikenal sebagai tokoh besar yang mendirikan pusat pendidikan yang dikenal sepanjang sejarah, yakni Perguruan Thawalib Padang Panjang. Hamka sendiri adalah kepala sekolah pertama di Kulliyatul Muballighien Muhammadiyah (KMM), Kauman, Padang Panjang. Semua jejak itu, nyaris sudah terhapus.
Sosok Hamka memang amat luar biasa. Dia berani lantang menantang arus. Kalau persoalan itu berkaitan langsung dengan akidah dan keyakinan, Hamka tidak akan segan-segan menyatakan penolakannya, meski itu datangnya dari rezim yang sedang berkuasa.
Hamka sangat bangga menjadi anak Minangkabau, sebagai bagian integral dari kelompok besar bernama Melayu. Hamka punya keyakinan kuat, Melayu takkan berarti sama sekali tanpa Islam.
“Tak ada Melayu tanpa Islam, di balik Melayu adalah Islam. Melayu tanpa Islam, maka hilanglah me-nya, maka layulah ia. Minangkabau tanpa Islam, maka hilanglah minangnya, tinggallah kerbau,” terang Hamka suatu ketika, sebagaimana dikutip Rusydi Hamka dalam buku Pribadi dan Martabat Buya Prof. Dr. Hamka, terbitan Pustaka Panjimas, Jakarta, 1983.
Satu hal yang kini mulai jarang dibicarakan orang, Melayu memiliki saham yang amat besar dalam Bahasa Indonesia. Bagi penulis-penulis asal Minangkabau, Medan merupakan titik sentral Bahasa Melayu tersebut. Di dalam Bahasa Melayu, pengaruh Islam dan Bahasa Arab sangatlah kental. Ini pulalah alasan lain, kenapa Hamka sangat mencintai bahasa tersebut.
Dalam pidatonya pada salah satu sidang Konstituante membahas tentang Bahasa Indonesia, Hamka tegas-tegas menyatakan, lidah Melayu yang telah menerima Islam sejak abad-abad pertama tahun hijriyah, tidak asing lagi dengan istilah Arab bahasa agamanya. Oleh sebab itu, Bahasa Arab dapat memperkaya Bahasa Indonesia.
Selain bahasa, Hamka menekankan, ciri kemelayuan lainnya adalah Islam, tanpa mengabaikan pandangan,memang ada bangsa Melayu yang beragama selain dari Islam. Satu hal yang perlu diperhatikan, Melayu memang tidak dapat dipisahkan dari Islam.
Hamka memang manusia multitalenta. Dia adalah pejuang yang berupaya menegakkan bendera tajdid di kalangan umat Islam Indonesia yang kala itu dibutakan penyakit tachyul, bidah dan churafat (TBC). Hamka berjuang lewat pendidikan, sastra dan jurnalisme. Hamka juga menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan Islam dengan turut mendirikan Majlis Ulama Indonesia (MUI), kendari kemudian dia memilih mengundurkan diri karena merasa tidak bisa sejalan lagi dengan laku pemerintah Indonesia.
Tokoh kebanggaan masyarakat Minangkabau itu kini sudah menyandang gelar pahlawan nasional bersama Presiden PDRI Syafruddin Prawiranegara. Menurut catatan DHD 45 Sumbar 143 pahlawan nasional, sebanyak 13 di antaranya berasal dari Sumbar. Sejak kemarin bertambah jadi 15 orang.
Ini adalah momen bagi anak Minangkabau untuk kembali membangkit kejayaan intelektual dan keulamaan masa lalu. Pemerintah Sumbar kini berkewajiban menghadirkan pusat informasi tentang Hamka di kota-kota tempat beliau pernah berkiprah.
Museum Hamka yang ada di Sungai Batang harus dikelola dengan profesional. Jejak Hamka di Padang Panjang, seperti lokasi bekas rumah orangtuanya di Gatangan, Surau Jembatan Besi, Perguruan Thawalib dan Perguruan Muhammadiyah mesti ditata dengan aroma Hamka. Paling tidak, ada ciri-ciri Hamka di sana. (***)
Singgalang)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar