Featured Video

Sabtu, 12 November 2011

Jorong Maligi Seperti Kampung “Mati”-PASCABENTROK WARGA DENGAN POLISI


Jorong Maligi masih mencekam setelah polisi melakukan kekerasan terhadap warga. Warga takut keluar rumah. Ibu-ibu menangis karena suami dan anaknya belum pulang. Lelaki kampung masih bersembunyi di hutan.  Maligi seperti kampung mati.

Pasbar, Suasana Jorong Maligi, Kecamatan Sasak, Pasaman Barat, pascakerusuhan antara warga dengan aparat polisi hingga Jumat (11/11) suasananya benar-benar mencekam. Kondisi belum normal. Ketakutan dan trauma masih me­warnai dan juga rasa waswas.
Tampak, kampung nelayan itu lengang bak kampung mati. Warga lelaki tak terlihat. Sebagian besar, katanya, lari bersembunyi ke hutan. Umumnya, warga di sini berprofesi nelayan selain berkebun.
Ibu-ibu berkurung saja di rumah.  Takut bertemu dengan orang yang tak dikenal, apa lagi dengan aparat kepolisian. Sikap oknum aparat polisi boleh dibilang keterlaluan dalam menangani unjuk rasa yang terjadi Selasa (8/11) lalu, benar-benar membuat warga ketakutan dan merinding.
Kini aktivitas warga di luar rumah sangat mereka batasi. Warga mengaku tak tahu apa yang akan mereka masak lagi untuk makan. Kondisi sudah parah benar. Dua hari ke depan mereka ungkin makan singkong untuk bisa bertahan hidup.  Itupun kalau masih ada tersedia.
Lelaki, suami-suami para ibu-ibu kabur ke hutan. Mereka takut dengan sikap oknum aparat yang beringas. Saat Haluan mendatangi Jorong Maligi, Jumat (11/11), ibu-ibu terisak-isak menangis. Wajah mereka tampak lelah. Letih tergambar dari matanya.
“Tolonglah Pak Bupati turun tangan menyelesaikan masalah ini. Kami tak bisa manga-manga do Pak. Baa caro iduik kami lai ko. Bareh alah indak ado lai do. Apo nan ka dimakan lai,” kata seorang ibu terisak, sembari memegang tangan wartawan Haluan, Jumat.
Kondisi kampung itu benar-benar lengang. Sulit menemui warga yang berusia muda. Kampung hanya dihuni warga berusia lanjut. Ibu-ibu pun masih trauma dengan bunyi letusan senjata dan tembakan aparat polisi beberapa hari lalu.
Pasukan Brimob dan Polres di kampung itu, memang tak ada lagi terlihat. Tetap, aparat berkonsetrasi dan bersiaga di perusahaan perkebu­nan PT PHP, di lokasi ke rusuhan yang berjarak sekitar 5 km dari Jorong Maligi.
“Hawa polisinya pasih terasa walau jarak dari kampung lima kilo meter,” kata seorang ibu.
Tak Tahu Kemana Anak-Suami
Seorang ibu menceritakan, semen­jak bentrokan dengan aparat polisi, ia tak tahu lagi nasib anak dan suaminya.
“Sejak kerusuhan terjadi, saya tak tahu nasib anak laki-laki saya, suami, dan ayahnya, mungkin keluarga saya lari ke hutan,” kata ibu yang menga­ku bernama Elis, berusia 40 tahun, dengan suara lirih kepada Haluan.
Menurut Elis, alasan keluarganya kabur, karena ada informasi yang beredar tentang sebanyak  ada 46 warga Jorong Maligi yang masuh daftar pencarian orang (DPO) oleh polisi. Kabar yang menakutkan itu tersebar dari mulut ke mulut.
“Begitu kabar yang beredar. Sejak itu saya tak bisa melihat anak dan suami saya. Saya tak tahu lari kemana mereka,” kata Elis.
Selain karena info yang beredar itu, ujar sejumlah warga, ketakutan warga karena adanya penangkapan oleh polisi dan diiringi dengan bunyi tembakan yang jumlahnya ratusan kali ke udara.
“Daerah kami ini seperti daerah perang,” terang Elis.
Kini, empat hari setelah ben­trokan yang berujung kerusuhan itu, ekonomi masyarakat Maligi macet total. “Kini untuk makan payah sekali Pak, karena nelayan tak melaut, untuk keluar pergi belanja kebutuhan harian takut, suami tak di rumah, lari entah kemana,” ujar Diki  salah seorang warga.
“Tolong lah kami Nak, ka siapa kami akan mengadu lai, kami dirun­dung ketakutan,” ujar salah seorang ibu yang takut disebut namanya.
Kedatangan wartawan ke lokasi itu disambut gembira sekaligus ada juga yang menangis dan berpekikan mengadukan nasibnya kepada warta­wan. Wartawan dijamu makan di lantai rumah. Warga meminta kasus main daram aparat polisi dilaporkan ke Komnas HAM agar semuanya jelas, dan yang bersalah dihukum saja.
Pada awalnya, warga ketakutan keluar rumah saat wartawan berkun­jung. Mereka mengira yang datang polisi, tetapi ketika diberitahu yang datang wartawan, warga baru keluar dan mau bercerita.
Saat berada di Jorong Maligi, dari empat masjid yang ada di kampun itu, saat ibadah salat Jumat, tampak sepi.
“Biasanya masjid di sini ibadah Jumatan selalu penuh, tetapi sekarang bisa bapak lihat hanya dua syaaf saja,” ujar Diki kepada Haluan.
Seorang Ibu Keguguran
Dampak dari kerusahan dan ditangkapnya dua warga, dan satu ibu-ibu yang masih menyusui anak­nya  menimbulkan trauma yang luar biasa bagi masyarakat Maligi.
Dua orang ibu-ibu yang sedang hamil mengalami keguguran akibat benturan benda keras, dan tekanan psikis. Aparat polisi, saat melakukan penangkapan, tutur warga, mereka diangkut ke atas mobil polisi seperti melempar barang ke atas mobil tanpa memperhatikan kemanusiaan. (h/nir)haluan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar