Featured Video

Jumat, 30 Desember 2011

Rusuh di Sampang Kronologi Pembakaran Rumah, Sekolah dan Mushala di Sampang


Kronologi Pembakaran Rumah, Sekolah dan Mushala di Sampang
SURYA/Muchin Rasyid/SURYA/Muchin Rasyid
Seorang anggota kepolisian Resor Sampang memperhatikan puing puing sisa pembakaran yang dilakukan oleh ratuan massa bersenjatakan tajam berupa celurit, gobang membakar empat rumah, sekolah, tempat ibadah dan toko hingga rata dengan tanah. di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Sampang, Kamis. (29/12/2011) saat ini kasusnya ditangani Kepolisian Resor Sampang. (SURYA/Muchin Rasyid)

SAMPANG -
 Ratuan massa bersenjatakan tajam berupa celurit, gobang membakar empat rumah, sekolah, mushala dan toko hingga rata dengan tanah. Bangunan tersebut milik empat orang yang masih satu keluarga di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Sampang, Kamis.
Pembakaran pertama menimpa rumah dan mushala, serta toko milik K Tajul Muluk, di Kampung Nangkrenang. Pembakaran kedua terjadi di rumah Iklil Almilal, kakak kandung Tajul. Kemudian rumah Khoirul Ummuh, ibu kandung Iklil dan rumah Ummuh Hanik, adik kandung Tajul.
Akibat pembakaran itu, seluruh perabot di empat rumah itu tidak terselamatkan dan hangus tak tersisa. Sementara ratusan massa yang membakar menghilang dan sampai sekarang belum ditangkap.
Menurut sumber Surya (grup Tribunnews.com) di lokasi kejadian, selama tiga bulan ini Tajul Muluk bersama istri dan anaknya mengungsi ke Malang, lantaran diancam bunuh warga karena dianggap menyebarkan ajaran yang dianggap menyimpang.
Selama Tajul di Malang, yang menjaga Ponpes Miftahul Huda dengan santri 130 orang, rumah, toko dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) dipasrahkan kepada Alimullah Muhin (22), santri asal Desa Blu’uran, Kecamatan Omben, yang rumahnya dibakar massa, pertengahan Desemnber 2011 lalu.
Sehari sebelum kejadian, jalan setapak menuju Ponpes Miftahul Huda dan sudah diputus warga dengan cara diberi tumpukan batu dan ditancapi beberapa batang bambu dan besi.
Sekitar pukul 08.00 WIB, Alimullah mendengar kabar, jika ponpes akan dibakar. Kemudian Alimullah meminta sebanyak 20 santri yang menginap di asrama dipulangkan. Ali dan pengajar lainnya mengungsi ke rumah Nurhalimah, pengikut ajaran Tajul, yang rumahnya terletak sakitar 200 meter sebelah timur ponpes.
Saat itu ia mendengar teriakan massa dengan lantang untuk membakar ponpes. “Saya tidak tahu siapa yang membakar, karena agak jauh. Saya tidak berani mendekat, karana takut dibunuh,” kata Alimullah
Kapolsek Omben dan anggotanya berikut anggota Koramil Omben, yang mengetahui ada pembakaran langsung bergerak menuju lokasi. Namun di tengah jalan dihadang ratusan massa dengan celurit dan gobang, sehingga kapolsek dan anggota koramil mundur.
Kapolres Sampang, AKBP Solehan dan Dandim 0828 Letkol Inf Agus Wuriyanto, bersama 20 anggota mendatangi lokasi. Kehadiran kapolres dan dandim juga disambut acungan senjata tajam. Namun sebentar kemudian massa mundur dan tidak jelas bergerak ke mana.
“Beberapa saat sebelum terjadi pembakaran, anggota kami menegur warga yang membeli bensin eceran di pinggir jalan. Ketika warga ditanya mengaku buat sepeda motor yang mogok. Ternyata bensin itu digunakan untuk membakar rumah Tajul,” kata Dandim Agus Wuriyanto.


Editor: Yulis Sulistyawan  |  Sumber: Surya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar