Featured Video

Jumat, 30 Desember 2011

Daerah Terpencil (4) Lima Durian Seharga Rp 1.000



Kompas/Aris Prasetyo
Pintu gerbang di Desa Bangio, Kecamatan Pinogu, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, sebelum memasuki jantung Kecamatan Pinogu, Jumat (23/12/2011). Pinogu berada di pedalaman hutan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone dan memerlukan waktu 9-10 jam berjalan kaki atau naik ojek dari Desa Tulabulo, Kecamatan Suwawa Timur, yang menjadi satu-satunya pintu masuk menuju Pinogu.


GORONTALO, Tanah di Pinogu, salah satu kecamatan di Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, yang berada di pedalaman hutan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, memang dikenal subur. Aneka macam tanaman pertanian dan perkebunan tumbuh tanpa memerlukan pupuk. Sayangnya, hasil panen di Pinogu tidak bisa dipasarkan ke luar karena tiadanya infrastruktur jalan yang memadai.

Luas area di Pinogu yang dihuni 2.040 jiwa adalah 36.000 hektar dan terdiri atas empat desa, yaitu Desa Pinogu, Bangio, Pinogu Permai, dan Dataran Hijau. Aneka tanaman perkebunan yang tumbuh subur di sana antara lain jagung, kakao, kopi, kemiri, dan durian. Tentu saja, selain itu, tumbuh juga padi yang ditanam tanpa pupuk sehingga beras di Pinogu dikenal sebagai beras organik.
Harga hasil panen perkebunan di Pinogu tidak jauh berbeda dengan harga di wilayah lain. Misalnya, kopi di Pinogu adalah Rp 15.000 per kg, kemiri Rp 20.000 per kg, kakao Rp 12.000 per kg, dan jagung Rp 2.500 per kg. Selain tanaman palawija, di Pinogu juga banyak tumbuh buah-buahan, seperti mangga, durian, pisang, atau rambutan. Saat panen raya, harga durian di Pinogu hanya Rp 1.000 per lima buah. Namun, tak satu pun durian Pinogu yang dijual ke luar karena sulitnya transportasi.
"Kalau sedang panen raya, durian di Pinogu (durian) tidak laku dijual. Harganya pun bisa jatuh sampai Rp 1.000 dapat lima buah. Siapa yang mau jual ke luar Pinogu? Susah membawanya," tutur M Arifin (45), salah satu warga Pinogu, yang ditemui Kompas akhir pekan lalu di Pinogu.
Sebagai perbandingan, di Kota Gorontalo, sebuah durian dijual seharga Rp 20.000-Rp 30.000.
Arifin menambahkan, seluruh hasil panen, jika ingin dijual ke luar Pinogu, harus mengeluarkan ongkos angkut Rp 5.000 setiap kilogram. Hasil panen itu akan dibawa ke luar oleh "kijang", istilah bagi tukang pikul di Pinogu, dengan berjalan kaki. Sampai kini, belum satu durian Pinogu pun yang dipasarkan ke luar Pinogu.
Berjalan kaki menuju atau keluar dari Pinogu bukan perkara enteng. Selain menguras tenaga, juga perlu mental yang tangguh karena menembus hutan belantara, menyeberangi sungai, dan menyusuri lereng perbukitan di dalam hutan. Jarak dari Pinogu ke Desa Tulabulo, Kecamatan Suwawa Timur, yang menjadi satu-satunya pintu masuk menuju Pinogu, sekitar 30 kilometer.
Warga Pinogu biasanya berjalan kaki sejauh itu hanya memerlukan waktu enam jam. Bagi orang yang belum terbiasa perlu waktu hingga sekitar sembilan jam, seperti yang dialami Kompas akhir pekan lalu. Kalau naik ojek, ongkosnya Rp 500.000 sekali jalan dan menempuh jarak berbeda serta berselisih 10 kilometer lebih jauh dari jalur jalan kaki.(kompas.com)
TERKAIT:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar