Featured Video

Sabtu, 18 Februari 2012

TINGGAL DI RUMAH TAK BERDINDING-Padang


WARGA MISKIN KOTA PADANG
PADANG, Rumah tak berdinding itu, merupakan satu-satunya aset yang  dimiliki Sunarming (43).
Ibu rumah tangga yang akrab disapa Upik, warga RT 4 RW 2 Kelurahan Ambacang ini seakan tak berdaya menghadapi kerasnya ke­hidupan. Ekonomi lemah menjadi satu-satunya alasan bagi Upik, untuk membangun rumah yang lebih layak.

Bahkan, kondisi itu telah berlangsung semenjak 10 tahun lalu, dan dilewati ber­sama suami, serta lima orang anaknya. Mirisnya, belum ada yang tergugah untuk mem­bantu nasib keluarga Upik.
Bisa dibayangkan jika harus tinggal di rumah yang tak berdinding. Cuaca panas dan udara dingin menyelimuti. Jika hujan disertai angin kencang, dengan leluasa genangan air menggantikan posisi lantai rumah. Padahal Upik tidak sendiri, tapi hidup bersama suami dan lima anak, empat diantara anaknya masih duduk di bangku seko lah, sedangkan anak yang pa ling bungsu masih kecil dan belum sekolah.
Pada saat tertentu, tak memungkinkan Upik untuk mendekam di rumahnya. Ia terpaksa mengungsi di rumah sanak keluarganya, yang hanya berjarak beberapa meter dari rumahnya. Itulah nasib yang dialami Upik.
Kesehariannya, Upik hanya bekerja membantu tetangga untuk memanen sayur. Sementara Bujahar (47), suaminya itu bergelut di tengah sawah tetangga tiap hari.
Hanya itu yang bisa mereka kerjakan, yang tentu saja penghasilan tiap harinya tidaklah terlalu banyak.
Bah­kan mereka juga sering tidak menerima pekerjaan, disaat usai panen sayur dan usai bercocok tanam di sawah. Jika mendapat kerja, sehari kerja Ia mendapat upah Rp50.000-Rp80.000.
Meski harus banting tu­lang dari pagi sampai sore dan tidak mempedulikan teriknya matahari dan hujan petir, namun penghasilan yang didapatkan hanya cukup untuk kebutuhan hidup sehari. Belum lagi biaya sekolah anaknya yang harus ditanggung, membuat Upik terpaksa angkat bendera putih untuk membangun dinding rumah.
“Anak pertama saya se­kolah di MAN Durian Taru­ang, yang kedua di SMK 2 Simpang Haru, anak ketiga di SMP PGRI 1 Simpang Anduring, dan yang keempat sekolah di di SD Inpres 31 Pasar Ambacang.
Biaya se­kolah mereka tidaklah sedikit, tapi saya tetap berjuang agar anak saya tetap bisa me­lanjutkan sekolah,” tutur Upik sambil mengikat sayur bayam di rumah tetangganya, ketika ditemui Haluan.
Upik mengaku, selama ini belum pernah mendapatkan bantuan apa-apa dari pe­merintah maupun bantuan swasta.
Ia sangat berterima kasih jika pemerintah ataupun donatur mau membantu me­ngu­rangi beban yang dipikulnya. (h/mir/wan)http://www.harianhaluan.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar