Featured Video

Selasa, 29 Mei 2012

KOLABORASI ORGEN TUNGGAL DAN SALUANG




Organ tunggal dan saluang, masing-masingnya disukai generasi yang berbeda. Kalangan muda menyukai organ tunggal, sedangkan kalangan tua lebih memilih saluang.
Lalu bagaimana jadinya, jika dua hiburan musik itu dipadukan?

Itulah yang tengah marak di Kota Sawahlunto sejak beberapa waktu belakangan. Musik modern organ tunggal dipadukan dengan alunan suara saluang yang sangat kental dengan musik tradisionalnya.  Hasilnya ternyata ‘kadam’. Yang muda dan yang tua pun jadi sama-sama suka dengan suguhan per­paduan musik tersebut.
Salah satu dampak positifnya, kegarangan kaum muda yang sering lupa diri begitu menikmati den­tuman musik tripping dari hiburan organ tunggal bisa diminimalisir secara bertahap. Kaum muda pun mulai terbiasa dengan hiburan saluang. Generasi tua dan generasi muda pun mulai berbaur dalam menikmati hiburan, sehingga suasananya lebih terkendali.
Dulu, ketika hiburan organ tunggal saja yang disuguhkan, sering terjadi kegaduhan, cakak banyak, terkadang sampai ada korban luka-luka, bahkan meninggal dunia. Sebaliknya, begitu ada hiburan saluang yang menyaksikan hanya orang tua-tua saja. Keba­nyakan usaia mereka di atas setengah abad. Kaum muda sangat minim yang tertarik.
Hiburan perpaduan orgen sa­luang dangdut itu biasanya tampil dengan menyajikan musik-musik terbaru, dengan iringan saluang dan dorongan musik orgen tunggal. Orgen tunggal Mustika Solok misalnya, dalam beberapa waktu terakhir mencoba peruntungannya dengan berkolaborasi bersama grup saluang Junita dari Kota Beras. Meski sedikit kesulitan di awal kalaborasi, tetapi kini kedua grup musik yang dulunya memiliki para penikmat yang berbeda, tetap bisa eksis dan terus berkembang. “Awalnya memang terjadi kesu­litan. Sebab, ada perbe­daan men­colok pada dua musik ini. Selama ini, orgen tunggal pe­nyanyinya muda dengan segala gayanya, kini me­ngiringi grup musik saluang yang memiliki kekhasan yang lain,” ujar Jek (37) pemilik Orgen Tunggal Mustika Solok ketika tampil di Kota Sawahlunto.
Namun Jek tidak merasa me­nga­lami kemunduran dalam ber­kreasi. Bergabungnya orgen tunggal bersama saluang, mem­berikan daya tarik tersendiri. Hal itu ditunjukan dengan semakin seringnya orderan datang, yang meminta mereka untuk tampil.
“Malah kini order semakin sering. Mulai dari pesta pernikahan, hingga malam hiburan dari kaum muda sendiri. Kami merasakan, paduan orgen dengan saluang, mampu meningkatkan penggemar musik,” ujar Jek.
Selain itu, menurut Jek dari segi pendapatan juga mengalami pening­katan. Sebab, untuk satu kali penampilan, anggaran yang ditawar­kan ke pemesan tetap untuk kedua musik. Artinya, biaya orgen tunggal ditambahkan dengan biaya saluang.
Sementara itu, Junita pemilik kelompok saluang mengatakan, kehadiran orgen tunggal dalam mengiringi kesenian saluang, mem­berikan dampak positif, yang berdam­pak semakin ramainya peminat dan penonton, ketika pagelaran saluang dan orgen tung­gal dilakukan.
Menurutnya, dulu kesenian saluang lebih cenderung dinikmati kaum usia lanjut. Namun, semen­jak saluang diiringi orgen tunggal, kalaborasi tersebut dinikmati hampir seluruh generasi, tidak hanya mereka yang lanjut usia. (h/fadilla jusman)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar