Featured Video

Kamis, 13 September 2012

Takuik Awak, Pak…Banjir di Padang


Awan hitam seperti melekat ke lapisan langit. Tak biasa begini. Awan hitam pekat bagai tinta itu, seolah menyeret waktu dengan cepat ke bibir senja. Serasa sudah malam.

GEMURUH
Rabu (12/9) itu, langit serasa akan runtuh. Tangisan anak kecil beradu bunyi guyuran hujan lebat. Anak-anak itu menangis sambil memeluk ibunya. Anak-beranak itu meninggalkan rumah guna mencari lokasi ketinggian. Sementara para pria sibuk memindahkan barang-barang yang ada di rumah untuk bisa diselamatkan. Begitulah suasana di Limau Manih, Padang, Rabu sore. Sore yang menakutkan.
Rasa trauma warga masih belum hilang, sebelumnya galodo menghantam dan menghanyutkan rumah serta harta benda mereka 24 Juli silam. Berselang sebulan galodo itu kembali datang dan meluluhlantakkan rumah mereka.
“Takuik wak Pak,” ujar anak-anak yang telah selamat.
Seperti yang dialami nenek Nur (73) warga Limau Manih yang bertahan di rumah bersama cucu dan anak menantunya.
Ia sengaja bertahan di rumah, dan menunggu tim penyelamat untuk bisa mengevakuasi dari rumah.
“Alhamdulilah saya berhasil diselamatkan oleh warga dan tim penyelamat,” ujarnya kepada Singgalang di tengah hujan.
Terlihat wajah ceria sang nenek setelah warga beserta tim penyelamat telah mengevakuasi sang nenek.
Nur mengatakan, sebenarnya ia tidak mau meninggalkan rumah mereka, karena air semakin besar dan tim penyelamat memaksa untuk meninggalkan rumah terpaksa nenek itu meninggalkan rumahnya.
“Kini yang manjago rumah anak laki-laki jo minantu ambo. Kalau rumah ditinggaan takuiknya masuak urang,” ujarnya.
Lain halnya salah seorang warga sekitar bernama Buya. Ia berharap pemerintah membersihkan material bekas galodo sebulan lalu yang ada di Danau Kariang.
“Kami mengharapkan sekali kepada pemerintah agar membersihkan bekas material yang ada di Danau Kariang itu. Sebab, material yang ada di sana bisa menjadi bom yang bisa meletus kapan saja,” harapnya. 

singgalang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar