Featured Video

Senin, 25 Februari 2013

TARUSAN KAMANG DANAU MINI AJAIB











Bupati Agam memboyong pakar geologi Prof. Handang Bakhtiar ke danau mini Tarusan Kamang, Sabtu (23/2), lalu untuk melakukan penelitian. Selain pakar juga turut serta puluhan fotografer, jurnalis dan Putri Indonesia dari Sumbar, Wulandary. Sementara masyarakat menyambut kedatangan mereka dengan kesenian tradisional tambua tasa.
Danau mini seluas lebih kurang 700 meter persegi yang disebut dengan Tarusan Kamang terletak di Jorong Halalang, Nagari Kamang Mudiak, Kecamatan Kamang Magek. Tarusan Kamang itu sebuah danau yang memiliki sejumlah keunikan, tidak berair tetap yang kadang airnya menyusut dan kadang naik.
Turun naiknya air tarusan biasanya terjadi dua kali  setahun. Uniknya pada waktu air akan naik selalu ditandai dengan bunyi dentuman keras dari pojok tarusan. Ditenggarai warga setempat, pada pojok bagian timur tarusan terdapat sebuah lobang.
Kadang lobang itu seperti ada yang menyumbatnya sehingga menyebabkan air tergenang. Lalu pada saat tertentu sumbatnya seperti ada pula yang melepaskan sehingga membuat air keluar dan permukaan tarusan menyusut.
Kapan menyusut dan menaiknya air tarusan tidak dapat ditebak, kadang di musim panas sekalipun air bisa naik. Begitupun kemana air tarusan itu mengalir juga tidak diketahui secara pasti. Ada yang menyebut ke Batang Agam. Tetapi ada pula yang menyebut mengalir ke sungai yang ada di Provinsi Riau.
Pada saat air tarusan menyusut, kondisinya bagaikan hamparan sawah bancah yang luas. Ketinggian air cuma selutut orang dewasa. Kondisi itu biasanya dimanfaatkan warga sebagai tempat melepas ternak itik maupun kerbau, juga sebagai tempat menangkap ikan. Di  tarusan terdapat ikan khas yang tidak ada di tempat lain yang disebut dengan  pantau, dengan rasa enak dan khas. Selain itu terdapat lagi udang dan ikan lainnya.
Keunikan lain danau mini Tarusan Kamang adalah di danau itu terdapat sebuah pulau yang ditumbuhi pohon beringin yang mengapung di permukaan. Pulau itu seperti memiliki “per” di dasarnya yang membuat pulau dapat turun naik. Pada saat air naik, pulau ikut naik dengan sendirinya. Sedangkan ketika air menyusut, pulau turun pula. Pulau itu disebut-sebut sebagai pulau ajaib.
Sumber air tarusan hanya bandar-bandar air kecil di sekitar­nya. Sementara pada saat air menaik, Tarusan Kamang meru­pakan sebuah danau yang dapat digunakan sebagai tempat bersam­pan-sampan, layaknya sebuah danau objek wisata.
Pemandangan di sekeliling tarusan yang diapit Bukit Barisan dan didinding sebuah bukit meman­jang sebagai pembatas nagari Kamang Hilia dan Kamang Mudiak tidak kalah menarik dibanding pemandangan alam di tempat lain. Begitupun bukit-bukit sekitarnya berpotensi dan akan dikembangkan sebagai lokasi olahraga paralayang.
Namun sebagai objek wisata Tarusan Kamang belum terpromosi secara luas, sehingga belum banyak dikunjungi wisatawan dari daerah lain dan mancanegara. Tarusan Kamang hanya banyak dikunjungi wisatawan lokal dari sekitar dataran tinggi Agam, terutama warga Bukittinggi yang berolahraga dengan sepeda di pagi Minggu. Jalan dari Bukittinggi ke tarusan datar dan mulus. Dengan mobil bahkan dapat ditempuh hanya sekitar 15 menit saja.
Kuliner khas Kamang yang dapat dibeli di warung atau rumah warga tempat pembuatannya ada­lah “karupuak kamang”. Lalu tidak jauh dari tarusan dan masih di Nagari Kamang Mudiak ada lagi sebuah objek wisata Ngalau Ka­mang, berupa lobang panjang pada bukit karang yang di dalamnya terdapat batuan “stalaktik” dan “stalakmik” yang indah.
Menurut Bupati Agam Indra Catri, danau ajaib Tarusan Kamang itu akan diberdayakan untuk berbagai keperluan. Seperti  untuk objek wisata, olahraga para layang, serta tempat pembibitan ikan.
Untuk itu perlu dilakukan pene­litian geologis, terutama untuk mengetahui secara pasti penyebab turun naiknya air tarusan dan untuk mengetahui kandungan batu-batuan pada bukit karang di sekitarnya. Dengan demikian dapat diketahui untuk apa batuan itu dapat diman­faatkan sehingga menjadi potensi ekonomi bagi masyarakat setempat.


s



Tidak ada komentar:

Posting Komentar