Featured Video

Senin, 11 Juni 2012

Tradisi Silat Harimau, Filosofi Islam, dan Kepunahan


Kemajemukan negara yang disimbolkan “Bhineka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tapi satu jua kerap mengundang decak kagum dalam berbagai acara budaya internasional. Namun malangnya karena kurang pemeliharaan, budaya itu tak hanya dicaplok negeri serumpun, tapi juga terancam punah. Salah satu budaya yang berpotensi terancam adalah Pencak Silat, sebuah seni beladiri asli Indonesia.

Silat dipengaruhi keragaman budaya yang terdapat di tanah air maka tak mengherankan begitu banyak aliran pencak silat di Indonesia. Kekayaan filofosi, ritme gerak dan sinergi dengan musik tradisional menjadiknnya begitu berbeda.
Apa yang membuatnya terancam? Jika menengok kebelakang,Indonesia selalu dominan terhadap pencak silat. Di setiap penyelenggaraan pesta olahraga Asia Tenggara (SEA GAMES), Indonesia selalu menjadi jawara.
Namun, layaknya cabang lain seperti bulu tangkis, pencak silat lantas seolah mengalami kemunduran. Fakta kemudian berbicara, Vietnam lantas muncul sebagai negara yang mengkilap prestasinya melalui silat.
Belakangan, negara komunis tersebut tak lagi menjadi penggembira di cabang pencak silat bahkan bisa dikatakan calon penggusur Indonesia di pentas pencak silat. Bukan tak mungkin kekhawatiran nantinya pesilat Indonesia akan belajar disana bakal terwujud.
Silat Harimau
Begitu banyak jenis silat yang terdapat di nusantara menyulitkan untuk mengetahui asal muasal darimana pencak silat berasal. Praktisi dan Pemerhati Pencak Silat ssekaligus Sekjen Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Hariadi Anwar menyatakan selama ini belum bisa diketahui darimana pertama kali pencak silat berasal.
Namun, hanya bisa diketahui jenis aliran pencak silat di Indonesia yang berjumlah ribuan. Belum lagi, setiap daerah memiliki jenis Pencak Silat. sebut saja, Silat Betawi, silat Sunda dan silat Jawa.
Satu dari sekian banyak, silat nusantara yang terancam punah adalah silat harimau. Konon silat yang berasal dari warisan kerajaan Minangkabau kini tak banyak yang menguasai. Bahkan untuk orang minang sendiri tak banyak mengetahui.
Persoalan yang terjadi begitu klasik. Hal-hal berbau tradisional dianggap ketinggalan jaman alias “ga lagi canggih”. Kenyataan tersebut diakui Hariadi.
“Dulu, orang yang berlatih silat itu malu-malu menenteng baju latihan. Dikatakan silat kalah tenar dari seni bela diri impor macam karate dan taekwondo,” ujarnya.
Selain kalah tenar dengan seni bela diri Impor, proses mewarisi juga mandek. Hal itu yang kemudian menjadi masalah pada pelestarian warisan budaya Indonesia.
Silat Harimau tidak begitu mudah diturunkan ke sembarang orang. Pakem ini kemudian berakibat tidak terjadinya regenerasi pesilat Harimau. Hingga pada akhirnya, silat Harimau keluar dari pakem yang bisa membahayakan keberadaannya.
Kompromi dan “panggilan nurani” yang kemudian membuat Guru Besar Silat Harimau Edwel Yusri Datuk Rajo Gampo Alam atau yang akrab dipangil pak Datuk kemudian memperbolehkan silat Harimau untuk disebar luaskan.
Keputusan tersebut memang membutuhkan waktu panjang karena amanat leluhur yang diemban Pak Datuk untuk tidak sembarang mengajarkan silat Harimau begitu berat untuk dilepaskan.
Bebicara tentang silat Harimau, singkat cerita belumlah dikenal sebagai silat Harimau seperti sekarang. “Dulu belum dinamakan silat Harimau, namun kemudian ketika saya mewariskan dan berguru dengan ahli silat lain, lantas dinamakan silat Harimau,” cerita Pak Datuk Saat ditemui Republika Online awal pekan lalu.
Setidaknya ada aliran-aliran silat di Minang yang lebih dahulu ada seperti Kuciang Siam, Anjiang Mualim ,dan Harimau Champa. Dari nama aliran terakhir kemudian Pak Datuk mengembangkan silat Harimau. Sebelum itu, dia berguru dengan berbagai ahli silat yang ada.
Kemudian dikembangkan dan lantas diberi nama silat Harimau. Terkait tahun berapa nama tersebut muncul, Pak datuk mengaku tidak bisa menyebutkan lantaran segala hal yang terkait asal muasal silat diwariskan secara lisan bukan tertulis.
Intisari silat Harimau terinspirasi dari gerak-gerakan Harimau. Kuda-kuda dan sikap waspada persis menyerupai Harimau. Maka tak heran, jika mitos yang berkembang mengatakan jika pesilat yang menguasai silat Harimau maka dirinya kelak akan berubah wujud menjadi Harimau.
Meski mitos yang berkembang seputar silat Harimau begitu kental. Seperti pencak silat lain, nuansa islami juga dominan dalam filosofi yang terkandung didalamnya.
Untuk belajar silat, guru memperkenalkan nilai-nilai agama lebih dulu kepada murid. Seperti pada tradisi Minang, silat zahir bertujuan mencari silaturahmi, batin silat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan jika ingin berniat jahat maka terlebih dahulu telah disingkirkan.
Filosofi tersebut tertuang dalam ungkapan,” Awas rasa jangan hilang, berlantai sebelum roboh, bersiang menebas sebelum tumbuh.”
Ungkapan lantas terimplementasi melalui gerakan kuda-kuda yang berdiri dengan huruf alif yang bermakna pesilat berdiri beserta Allah, berdiri dua kali menyerupai huruf lam dan berdiri dengan menyerupai huruf hijaiyah ‘Kha’.
Karakter keras, bukan basa-basi dan tegas menjadi ciri utama ajaran silat harimau. Karena memang didesain untuk mematikan lawan dengan jurus-jurus berbahaya dengan menyerang langsung daerah vital musuh, baik dengan gaya lenting atau terkam Harimau.
Oleh karena itu, silat Harimau kemudian dikenal dengan silat beraliran keras. Demikian keras, hingga potensi penyalahgunaan ilmu begitu besar. Pak Datuk sendiri terbebani jikalau ada anak muridnya yang telah diajarkan kemudian menyalahgunakan.
Untuk mengatasinya, Pak Datuk kerap memberikan pendalaman agama disetiap sesi latihan guna memperkuat iman dan mental anak didiknya.
Upacara Penerimaan Murid
Untuk mengikat anak muridnya dengan tanggung jawab sebagai pesilat Harimau, Pak Datuk selalu mengadakan upacara tradisional sebagai simbol pembaiatan terhadap anggota keluarga baru silat Harimau.
Upacara dilakukan ketika murid sudah siap secara lahir dan batin untuk menerima ilmu. Proses penerimaan itu pun tidak main-main karena didasarkan dengan “penerawangan” pak Datuk terhadap calon anak didiknya.
Pada prosesi upacara, calon murid akan diberikan pisau, yang memiliki makna semakin diasah semakin tajam. Artinya, anak murid harus melalui proses latihan panjang guna mahir menjadi pesilat Harimau.
Kemudian dilanjutkan, pemberian kain putih, hal ini dimaksudkan ketika sang murid berlatih silat maka harus memiliki hati yang bersih dan semua pasti akan berakhir atau mati. Pemberian beras oleh murid kepada guru yang diartikan sebagai murid jangan pernah menyusahkan gurunya.
Pemberian buah jeruk kuku Harimau, buah yang konon sudah langka di Minangkabau diartikan sebagai simbol kelurga silat Harimau.
Sirih lengkap, dimaksudkan untuk menandakan hubungan antara guru dan saudara lain memiliki satu rasa layaknya sirih yang berasa asam, asin, manis dan pahit dan terakhir, ayam jantan, dimaksudkan untuk mengingatkan pesilat harus mengingatkan orang lain atas kewajiban layaknya ayam yang membangunkan orang ketika azan subuh tiba.
Keunikan lain yang dimilik Silat Harimau antara lain dengan filosofi “langkah Ampe” yang begitu tertanam di orang-orang Minang. Jika tidak mengetahui keempat langkah dimaksud maka bukan orang Minang melainkan orang “kabau”.
Tradisi tersebut kemudian tertanam dalam pesilat Harimau. Pertama yang harus diketahui pesilat Harimau, dirinya harus mengetahui dasar kata mendaki yakni menghormati orang yang lebih tua.
Tahu sikap mendatar, yakni harus mengetahui bagaimana dengan bersikap dengan teman sebaya. Harus tahu dasar kata menurun, yakni berlakukan seseorang dengan kasih sayang dan Melereng, harus mengetahui berbicara pada iparnya.
Usai lepas dari pakem yang menghambat perkembangan silat Harimau, kini keberadaan silat Harimau jauh lebih baik. Meski tak ingat jumlah murid yang diajarkan, tapi Pak Datuk mengaku puas. Paling tidak, silat Harimau bisa diturunkan walau belum banyak yang benar-benar menguasai.
Apresiasi Asing Terhadap Silat Harimau
Sepanjang ingatan Pak Datuk hanya ada tiga orang yang menguasai silat Harimau yakni satu orang Indonesia dan dua orang kebangsaan Inggris.
Ditnya mengapa orang asing bisa menguasai, menurut Pak Datuk karena kebanyakan orang asing yang belajar silat Harimau karena tertarik dengan keunikan filosofi dan ritme setiap gerakan yang tidak dimiliki seni beladiri lain.
“Tak heran, mereka begitu detail ingin mempelajari silat Harimau,” tutur Pak Datuk.
Hal mencengangkan lain, ketika Silat Harimau kemudian didokumentasikan melalui sebuah film berjudul “Merantu”, sutradaranya merupakan kebangsaan Inggris yang begitu tertarik terhadap keberadaan pencak silat.
Diakui Pak Datuk, permasalahan ketidaktertarikan masyarakat Indonesia terhadap budaya sendiri dikarenakan memang tidak pernah pertunjukan kebudayaan dikemas secara apik.
“Kemasan kurang bagus dan image yang ditumbuhkan cenderung negatif” seperti misal silat identik dengan dukun dan banyak juga info yang salah terkait silat seperti yang ditampilkan di televisi menjadi penyebab,” ungkapnya.
Pak Datuk begitu berharap, keberadan pencak silat bisa menjadikan kebanggaan seperti yang sekarang terjadi. Namun, silat dikatakan tidak hanya untuk dipelajari bertujuan kompetisi saja melainkan juga filosofi yang terkandung didalamnya. Sebab yang kerap terjadi, silat hanya dipelajari untuk mengalahkan lawan dan mendapat poin bukan untuk mengamalkan filosofinya.
Optimisme keberlanjutan pencak silat dan terutama silat Harimau terus berdengung dihati Pak Datuk. Jika yang ingin berguru dengan dirinya, dengan tangan terbuka Pak Datuk bersedia mengajarkan. Selama berniat mengamalkan silat untuk kebaikan tidak menjadi masalah.
“Bangsa saya ini dikenal sebagai bangsa beradab dan berbudaya tinggi. Bila, saya keluar negeri dengan silat, bangsa-bangsa lain bisa menghormati,” harapnya./cr2/itz

Tidak ada komentar:

Posting Komentar