Featured Video

Jumat, 14 September 2012

Bencana Memisahkan Mereka Selamanya


Mata Warni (48) sembab. Di sisinya, Silvia, anak gadisnya yang siswi SMK 6 Padang, tak kalah pilunya. Bagi Silvia, musibah longsor yang menghantam rumahnya, merupakan malapetaka tak terkira. Ayah tercinta, Jamaris (52), tewas tertimbun.

EVAKUASI
Bagi Warni, Jamaris adalah suami, tempat kasih sayang digayutkan. Jamaris sedang sakit di rumah, dijaga anak gadisnya yang lain, Nilla (25). Tapi, keduanya dipanggil Tuhan, dalam sebuah peristiwa tak biasa.
Warga Kampung Ubi, Batu Busuak Padang itu, tidak sendirian. Musibah Rabu (12/9) sore, itu juga menimbulkan duka mendalam bagi pasangan suami istri Emrizal dan Yulimar. Tiga anaknya yang masih kecil dititip di rumah dunsanaknya, yang tak lain, Warni. Tapi, keduanya, Najwa dan Safa dan Raihan juga ikut tewas tertimbun.
Emrizal, sedang di ladang, tapi hatinya tidak enak saja. Ia bagai jaguar berlari kencang pulang ke rumah. Benar saja, longsor telah terjadi. Sesigap yang ia bisa, ia tangkap tangan Raihan. Berhasil. Raihan bisa diselamatkan. Namun tidak dengan Najwa dan Saffa.
Kedua anak gadisnya itu, keesokan harinya hari bersua jasadnya saja. Di sanalah tangis Emrizal pecah. Apalagi Yulimar. Tangis mereka memancing tangis-tangis lainnya.
Sore itu
Sore itu sekitar pukul 16.00 WIB ia bersama dengan anaknya Silvia Ananda pergi ke SMK 6 karena ada undangan rapat di sekolah.
Sebelum Warni meninggalkan rumahnya ia bertemu dengan saudara Emrizal dan istrinya Yulimar. Mereka menitipkan, anaknya Raihan (10), Najwa (8), dan Safa (2) di rumahnya. Mereka masih memiliki hubungan keluarga, sebagai kakak dan adik.
“Karena saya juga pergi ke sekolah makanya saya titip tiga anak kerabat saya ke suami dan anak saya di rumah,” ujar Warni.
Langit kelam dan berat itu, akhirnya runtuh dan mengguyur Kampung Ubi itu. Hujan deras pun turun bagai dicurah dari langit, meski begitu Emrizal dan istrinya Yulimar masih saja membersihkan rumput-rumput yang sudah mulai tinggi di kebun mereka.
“Buk, kita pulang sajalah, karena perasaan saya tidak enak sejak sampai di sini,” ujarnya pada istri.
Sentak Yulimar menjawab, “Iya pak, kita pulang saja, tapi tunggu dulu sebentar, saya mau ke pondok dulu untuk mengambil barang,” balas Yulimar.
Hujan semakin lebat, seakan air yang turun itu bagaikan batu dan menghempas tubuh mereka. Mereka dengan perasaan tidak enak pun segera pulang ke rumah Jamaris untuk menjemput tiga anaknya.
Sesampai di halaman rumah Jamaris, Emrizal melihat air yang bercampur lumpur turun dari puncak bukit dan akan menghantam rumah saudaranya dan juga rumah mereka.
Sekejap mata, tanah yang berada di dekat dan di atas rumah menimbun rumah Jamaris. Ia pun berlari menghampiri rumah, saat itu ia hanya bisa meraih tangan anaknya, Raihan. Dukalara itu pun terjadi.
“Saya bersama Istri hanya bisa berteriak, dan menangis melihat anak, dan kerabat saya dibawa oleh longsor itu. Kalau saja saya tidak pergi ke kebun, mungkin mereka tidak akan seperti itu,” ujarnya.
Firasat anak-anak
Pengakuan Raihan, saat terjadi hujan lebat, Nila sudah mengajak ayahnya Jamaris untuk keluar dari rumah. Firasat anak-anak memang tak tertandingi oleh orang dewasa. Namun, karena Jamaris dalam keadaan sakit, ia mengatakan kepada Nila untuk tetap di rumah, dan berdoa, agar tidak terjadi apa-apa. “Kalau kita keluar, kita mau kemana Nak? Lebih baik kita di sini saja. “Berdoalah kalian semua, agar tidak terjadi apa-apa,” kata Jamaris seperti ditirukan Raihan.
Perasaan tidak enak pun melanda Warni dan anaknya Silvia. Setelah selesai mengikuti rapat di sekolah mereka bergegas pulang ke rumah untuk melihat suami tercinta yang sedang sakit.
Karena hujan yang begitu lebat, mereka berteduh di Mushalla Iqbudiayah, Batu Busuk.
Saat mereka berteduh di mushala itu, mereka melihat di samping mushala telah longsor. Perasaan cemas pun, bertambah dengan adanya longsor itu.
“Lai ndak baa Pak, adiak, jo Uni di rumah, Bu. Pulang wak lai bu, wak tampuh se hujan ko,” ujar Silvia mengajak ibunya pulang.
Karena hujan yang semakin deras, air seperti batu yang jatuh dari langit, Warni memberikan pengertian pada anaknya untuk bisa bertahan sebentar saja.
Terdengar kabar dari warga, ada rumah yang tertimbun dan ada juga orang terjebak di sana. Mendengar kabar dari mereka berlarian ke rumah untuk melihat suami dan anaknya.
Sampai di rumah, ia hanya melihat puncak atap rumahnya, dan disambut oleh kedua kerabatnya dengan isak tangis.
“Saba ni, ikhlaskan se. Alah iko jalan Tuhan,” kata Yulimar kepada Warni.
Tidak yakin Warni beronta dan mencoba berlari ke rumahnya. Beruntung warga yang ada disana menahan agar tidak ke lokasi.
“Apo salah anak ambo Tuhan. Inyo elok, baa kok capek bana baambiak laki jo anak ambo Tuhan. Apo salah ambo kok co itu bana cobaan Kau datangkan Tuhan,” ujarnya berurai air mata.
Bencana telah memisahkan mereka selamanya. Tuhan Maha Besar. (*)
sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar