Featured Video

Jumat, 14 September 2012

Digulung Tanah saat Makan Bersama-Kesaksian Korban Longsor di Batubusuk


Jasad korban disemayamkan  di rumah duka,  di Kototuo, Pauh, kemarin (13/9).

















Pasangan suami istri (pasutri) M Rizal, 32, dan istrinya Juli Mardan, 32, paling berduka akibatgalodo (banjir bandang) menghantam Batubusuk, Kelurahan Lambungbukik, Kecamatan Pauh, Padang, Rabu (12/9) sekitar pukul 16.30 lalu. Dua buah hatinya, Najwa, 6 tahun, dan Safa, 18 bulan, serta dua orang kerabatnya meninggal tertimbun longsor.


Pandangan pria berkulit kuning lang­sat itu, tampak kosong. Ketika se­jum­lah handai tolan menyapa, hanya se­nyuman kaku yang sanggup diba­lasnya. Na­manya M Rizal, warga Bukit Ubi, Ke­lu­ra­han Lambungbukit, Kecamatan Pauh ini baru saja mendapatkan cobaan. Dua dari tiga anaknya meninggal ditim­bun longsor.

Sesekali dia menyeka air mata. Ma­ta­nya terus menatap ke dalam rumah. Ya, di dalam rumah tersebut, terbujur dua jasad anaknya, Najwa dan Safa.

Dua jasad anaknya ini dibawa ke ru­mah saudara istrinya, Yuli Mardan, di Ko­­totuo, Pauh. Dari pagi hingga sore ke­ma­rin (13/9), rumah duka silih ber­ganti di­datangi sanak saudara yang melayat. Di ru­mah tersebut juga disemayamkan Nila, 20, korban longsor lainnya. Nila me­ru­pakan anak kakak pertama dari Yuli.

Longsor itu menelan empat korban jiwa, satu lagi bernama Jamaris, 55. Ja­maris merupakan suami dari kakak su­lung Yuli yang bernama Warni. Sedang­kan Nila merupakan anak dari Jamaris dan Warni. Tiga jasad itu disemayamkan di rumah duka di Kototuo dan dim­a­kam­kan di pemakaman kawasan itu.

Sedangkan dari informasi war­ga, Jamaris dimakamkan di Piai, Pauh.

Rumah M Rizal berada di le­reng Bukit Ubi. Untuk men­capai kediaman kedua kakaknya ini, ha­rus melewati lereng bukit yang cu­kup terjal. Kalau mengunakan se­peda motor, menempuh jarak yang lebih jauh karena harus me­mutar ke ujung Batubusuk. Jika ber­­jalan kaki, bisa melewati jalan se­­tapak dan membutuhkan wak­­­tu sekitar 30 menit. Dari ke­te­rangan Nurmilis, adik Yuli dan Warni, rumah dua kakaknya ini saling berhadapan.

Juli ditemui Padang Eks­pres di rumah duka menu­tur­kan, sejak pagi dia bersama sua­minya M Rizal hanya ber­diam di ru­mah. Mereka seakan malas be­rangkat kerja. Tidak ada fira­sat buruk dirasakan Emrizal maupun Juli, waktu itu.

Sekitar pukul 14.00, keluar­ga M Rizal pun makan bersama de­ngan ketiga anak-anaknya, Ray­han, Salwa dan Safa. Saat itu, hujan perlahan mulai deras meng­guyur kawasan Batu­bu­suk. “Saat hujan deras, kami se­keluarga sedang makan siang. Men­dadak air masuk ke dalam ru­mah. Ke­mu­dian, anak-anak ka­mi ajak pindah makan ke ru­mah pak eteknya (Jamaris),” ujar Juli sambil mengusap air ma­tanya saat mengenang keja­dian longsor.

Waktu itu, Jamaris tak enak ba­dan. Hanya Nila menemani ke­tiga anaknya makan. Sedang­kan Warni istri Jamaris, meng­ha­diri rapat orangtua un­tuk anak­nya yang bernama Silfianda yang bersekolah di SMKN 6 Pa­dang.

Kemudian, Juli dan M Rizal mi­n­ta izin kembali ke rumahnya un­tuk menyelamatkan beras da­lam karung.  Sekitar lima m­e­nit mengemas beras, terde­ngar suara gemuruh tanah dan beba­tuan. Suara aneh itu memak­sa M Rizal dan Juli untuk keluar ru­mah. Terlihat, rumah Jamaris se­bagian bangunanya sudah mu­lai tertutup tanah. M Rizal pu­n langsung bergerak cepat ber­g­erak menuju rumah, Jama­ris.

M Rizal berupaya menyela­matkan anak-anaknya. Nahas ba­ginya, dalam sekejap air bah me­nimbun rumah tersebut. Di wak­tu itu, M Rizal hanya sempat menyelamatkan Rayhan. Dari lokasi aman, Rayhan melihat adiknya Safa terbawa oleh air bercampur lumpur.

“Longsor itu terjadi dua kali. Long­sor pertama saya tidak sem­pat menolong anak-anak di ru­mah Jamaris, dan berlindung di balik pohon durian. Setelah ta­n­ah tidak bergerak, saya men­coba kembali mendatangi ru­mah Ja­ma­ris untuk me­ngeluar­kan anak-anak. Ternyata, suara dentu­man ke­ras memecah ba­dan banda ba­kali di atas rumah Ja­maris. De­ngan cepat air me­ngalir deras mem­bawa tanah dan bebatuan. Me­lihat tanah me­rayap cepat, saya pun pergi meninggalkan rumah Ja­maris beserta anak-anak di da­lamnya,” tutur Juli yang sudah men­jadi yatim piatu itu.

Pemilik rumah yang berada di Bukit Ubi, Nurhayati men­jelas­kan, dia telah mengeta­hui tanda-tanda akan longsor, yaitu dari getaran. Selain itu, dia juga me­­lihat ada rengkahan besar di ka­wasan itu. Makanya, dia me­ngajak sejumlah warga Bukit Ubi untuk mengungsi. Tidak la­ma setelah itu, tiba-tiba terjadi long­sor menyapu rumah M Rizal dan Jamaris.

Hujan Deras

Di hari itu, sejak pagi hingga siang cuaca cerah di Batubusuk. Na­mun pukul 14.00, cuaca men­dadak kelam dan men­cekam ketika hujan deras mengikis tanah perbukitan. Sekitar pukul 17.00, jalan-jalan perkamp­u­ngan sudah terendam air se­ting­gi lutut orang dewasa. Airnya be­rubah menjadi kuning cokelat pekat.

“Kayaknya ada yang longsor ini, kok airnya berubah kumuh,” ka­ta Mak Uniang, tokoh masya­ra­kat Batubusuk di RT 01 RW 03.

Ternyata benar. Di RT 01, dua titik tanah perbukitan di atas per­kampungan longsor dan me­nimpa dua rumah warga. War­ga pun mulai panik dan me­ngungsi ke Kampus Universitas Andalas. Namun malang, air sungai Batu­busuk meng­ha­dang warga. Di jemba­tan gan­tung yang dibangun se­jak zaman Be­landa itu, air bah su­dah me­luap se­tinggi jembatan. Suara gemu­ruh air serta den­tuman batu yang menggulung di sungai se­makin membuat sua­sana kian men­cekam.

”Kami terpaksa mundur dan kem­bali ke rumah masing-ma­sing. Sebentar lagi jembatan gan­tung mau ambruk,” teriak be­berapa warga seperti diutara­kan Mak Uniang.

Warga hanya bisa pasrah sem­bari siaga setelah dikepung ancaman galodo dan longsor. Ratusan pasang mata selalu memandang ke arah perbukitan. Sekitar pukul 18.00, rumah yang baru dibangun di sebelah kantor pe­muda Batubusuk, perlahan ber­geser hingga hilang ditelan long­soran tanah. Melihat hilang­nya rumah tersebut, suara jeri­tan tangis warga pun pecah me­nam­bah suasana mencekam. Apa­lagi, listrik pun padam.

Selang 15 menit dari tertim­bun­nya rumah warga Batu­bu­suk di RT 01, seorang warga lari ter­gopoh-gopoh mem­berikan ka­bar bahwa di RT 04 juga long­sor. Banyak rumah yang hilang, mungkin juga orang hilang. Kabar itu menambah merinding warga yang masih berdiri di teras rumahnya masing-masing.

Kabar itu pun direspons se­kelompok pemuda Batubusuk un­tuk memantau kondisi setiap per­kampungan. Sekitar 2 km ber­jalan kaki, 10 orang pemuda di­sajikan dengan pemandangan yang memilukan. Atap rumah yang tertimbun longsoran terba­wa ke jurang hingga 50 meter. Sebab, perkampungan RT 04 berada di atas ketinggan 70 meter dari Sungai Batubusuk.

Waktu itulah, Emrizal me­nga­ku anaknya hilang ketika rumahnya digulung tanah long­sor. Sontak para pemuda pun me­lakukan komunikasi kepada war­ga Batubusuk agar menam­bah personel untuk melaku­kan evakuasi di malam hari. Hingga pu­kul 03.00, Kamis (13/9), para pe­muda menghentikan proses eva­kuasi karena peralatan dan pe­nerangan tidak maksimal. Ma­lam itu, warga berhasil mene­mu­kan dua korban, Jamaris dan Nazwa.

sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar