Featured Video

Rabu, 19 Oktober 2011

Pemimpin vs Pejabat


HISY Dt. Rangkayo Basa

Media massa akhir-akhir ini suka sekali memuat berita tentang gonjang-ganjing setiap akan terjadi pergantian jabatan di suatu instansi pemerintah, swasta, politik atau BUMN. Banyak pula tokoh atau oknum yang memanfaatkan media sebagai jalan untuk meraih suatu jabatan yang dianggap bergengsi. Bahkan, pemberitaan yang penuh rekayasa tidak jarang pula digunakan untuk membunuh karakter seseorang. Ini, menimbulkan korban karena frustrasi, stress sampai gila.
Banyak orang yang menganggap, jabatan tidak saja bisa memberikan kenyamanan materi, tetapi bisa meningkatkan prestise. Banyak pejabat yang merasa sudah jadi pemimpin atau minta diperlakukan sebagai pemimpin. Padahal, jabatan tidak selalu memberikan pengaruh terhadap keberadaan seseorang di tengah masyarakat.
Jangankan di tengah masyarakat, di lingkungan instansinya saja belum tentu dia bisa langsung diterima atau diakui sebagai pemimpin.
Bagi para penggila jabatan ada baiknya memahami beda pemimpin dan pejabat sebelum jadi korban kegilaan tersebut.
* Pemimpin adalah orang yang mempunyai kemampuan memengaruhi lingkungannya, diminta ataupun tidak, karena keberadaannya memang memberikan arti bagi lingkungannya. Lingkungannya juga akan memberikan pengakuan dengan mengikuti arahan, bimbingan, tuntunan atau contoh teladannya tanpa diminta atau merasa diperintah.
* Pemimpin adalah orang merdeka, tidak berkerja berdasarkan batasan uraian tugas, apalagi cuma sesuai dengan fasilitas yang diterimanya. Ia bekerja karena panggilan nura-ninya untuk berbuat yang berarti bagi lingkungannya. Sering-sering tidak mengharapkan imbalan.
* Pemimpin tidak bertanggungjawab kepada siapa-siapa, kecuali pada hati nuraninya sendiri dan kepada Allah.
* Pemimpin tidak pakai SK, sehingga juga tidak berbatas waktunya. Pengaruh pemimpin lebih lama dibanding pejabat. Pejabat hanya diakui sebatas kertas yang bernama SK tersebut. SK dicabut, dia langsung manapiak bagaikan layang-layang putus.
* Pemimpin tidak punya atasan karena dia tidak menerima mandat dari siapa-siapa, sehingga ke bawah pun tidak suka bersikap sebagai atasan.
* Pejabat atau atasan adalah orang yang punya wewenang berdasarkan SK. Ia berbuat sebatas yang ditentukan dalam SK tersebut.
* Pejabat atau atasan sebenarnya bukan orang merdeka karena ditentukan oleh pemberi SK. Ia tidak menyukai kemerdekaan dan ke bawah pun mau serba mengatur; menjilat ke atas dan menginjak ke bawah.
* Pemimpin menyukai komunikasi informil/persuasif, atasan menyukai komunikasi formil/formalitas.
* Pemimpin punya kemampuan komunikasi horizontal yg cenderung tak terbatas. Atasan fokus pada komunikasi vertikal (atas-bawah) ynag cenderung terbatas.
* Pemimpin selalu tertopang panutannya. Atasan bisa melambung karena bawahannya dan balambin karena atasannya.
* Pemimpin cenderung membina, atasan cenderung membinasakan. Pemimpin itu dipanut atau dijadikan panutan karena ada yang bisa diteladani darinya. Atasan cuma diikuti oleh mereka yang mau diperintahinya.
* Pemimpin tidak memerlukan atribut, atasan menyukai berbagai atribut yang menegaskan keberbedaannya terhadap yang lain.
Butir-butir perbedaan di atas sengaja tidak diberi nomor karena jumlahnya bisa terus bertambah berdasarkan pengalaman. Kami juga menuliskan itu semua berdasarkan pengalaman, bukan berlandaskan teori-teori yang sering tidak membumi.
“Lebih baik berjuang melalui karya bermutu (amal shaleh) untuk jadi pemimpin yang dipanut, dibanding jadi pejabat yang dituntut”, kata kemenakan saya.
Camkan sajalah, mudah-mudahan bermanfaat mencegah, kalau tidak bisa mengobati, penyakit di masyarakat yang kini kian merajalela dalam kehidupan kita. Amin! (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar