Featured Video

Rabu, 19 Oktober 2011

Pengantin Membelah Lautan Manusia


Kereta Jong Wiyet dan iring-iringannya beringsut membelah lautan manusia. Kereta itu, membawa pengantin Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat GKR Bendara dan KPH Yudanegara yang diarak dari keraton menuju Bangsal Kepatihan. Rombongan harus membelah lautan manusia yang sudah menutup jalan yang dilalui mempelai, di Yogyakarta, Selasa (18/10).
Iring-iringan rombongan mempelai yang akan melakukan resepsi di Bangsal Kepatihan tersebut dipimpin oleh bergada prajurit keraton. Kedua mempelai menaiki Kereta Jong Wiyet yang berada di barisan kedua iring-iringan kereta. Keduanya mengenakan kebaya warna merah marun dengan rias paes ageng jangan menir.
Prosesi pernikahan dilaksanakan seperti pada era Hamengku Buwono VII. Ijab kabul pernikahan Kanjeng Pangeran Haryo Yudanegoro dan putri bungsu Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gusti Kanjeng Ratu Bendoro digelar di Masjid Panepen Keraton Yogyakarta, pada Selasa pagi. Pernikahan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudho yono dan Wakil Presiden Boediono. Kraton juga mengundang 40 raja dari seluruh Nusantara.
Masyarakat pun langsung bertepuk dan kemudian melambaikan tangan kepada kedua mempelai saat mereka melintas.
Di dalam kereta yang berbentuk terbuka tersebut, kedua mempelai juga terus membalas salam kepada seluruh masyarakat yang telah rela berdesak-desakan untuk melihat pengantin dari dekat.
Sejumlah masyarakat, seperti dilaporkan Antara bahkan rela naik ke tiang lampu antik, atau menaiki pagar. Ada juga yang berdiri di atas sepeda motor yang diparkir. Sebagian ke atap gedung dengan tujuan mampu melihat jalannya kirab dengan lebih baik.
Di belakang kereta yang membawa kedua mempelai, juga terdapat sejumlah iring-iringan kereta dari keluarga. Di antaranya adalah Kereta Kyai Permili, Kyai Roto Biru, Kyai Kus Cemeng dan Kyai Kus Ijem. Iring-iringan kirab tersebut kemudian ditutup oleh barisan prajurit berkuda yang berjumlah 20 orang.
Kirab pengantin tersebut dimulai dari Gedong Srikaton, kemudian melalui Jalan Rotowijayan, melintasi depan Masjid Gedhe Kauman, menuju Kantor Pos Besar, Pasar Beringharjo. Selanjutnya melewati Toko Batik Terang Bulan untuk selanjutnya masuk ke Bangsal Kepatihan.
Di sepanjang jalan yang dilalui rombongan kirab juga telah dipasangi 100 buah penjor dari janur kuning. Tujuannya agar suasana di sepanjang jalan terlihat lebih semarak.
Selama pelaksanaan kirab hingga resepsi pernikahan, jalan-jalan di kawasan Malioboro ditutup, antara lain jalan di sekitar Alun-alun Utara, simpang empat Kantor Pos Besar, Jalan Ahmad Yani hingga Malioboro ditutup setelah pukul 16.00 WIB sebelum kirab berlangsung.
Sebanyak 2.500 tamu undangan diperkirakan meng hadiri resepsi pernikahan ini. Resepsi pernikahan berlangsung pada Selasa (18/10) mulai pukul 19.00 WIB di Bangsal Kepatihan, kompleks Kantor Gubernur DIY.

Berjubel
Ribuan masyarakat dari berbagai daerah di Yogyakarta dan sekitarnya terus berdatangan ke Malioboro. “Saya penasaran ingin melihat secara langsung kedua pengantin, sehingga menyempatkan diri datang ke sini untuk bisa melihat kirab,” kata warga Kotagede, Muji Rahayu di sela-sela kirab pengantin keraton.
Ia mengatakan, telah berada di sekitar titik nol kilometer sejak pukul 14.30 WIB meskipun hingga pukul 16.15 WIB, pasangan pengantin keraton belum juga terlihat melewati jalur kirab yang sudah ditetapkan.
“Saya juga ingin melihat pengantin pria nya. Di televisi, ia terlihat sangat berwibawa. Seper tinya, dia sangat cocok menjadi menantu raja,” katanya.(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar