Featured Video

Senin, 14 November 2011

AJO ANDRE YANG MULAI BAKAO


Rumahnya tidak jauh dari Balai Tandikek, Kenagarian Tandikek, Kecamatan Patamuan, Kabupaten Padang Pariaman. Hari balainya di Minggu. Meskipun berada di sana bukan di hari balai, namun denyut kehidupan masih terlihat lumayan bagus. Tidak lengang, juga tidak ramai. Lalu lintas boleh dikata tak sepi. Di Balai Tandikek sendiri, banyak juga yang berjualan bermacam-macam keperluan sehari-hari.

Ajo Andre sudah setahun lebih terserang stroke. Dia sempat dirawat cukup lama di Rumah Sakit Stroke di Bukittinggi dan akhirnya menjalani terapi pengobatan alternatif. Dibandingkan dengan serangan awal, dia jauh lebih sehat. Bagian tubuh sebelah kanannya melemah. Saat itu dia tidak bisa bicara. Kini dia sudah bisa berjalan dan menyesuaikan dirinya dengan keadaannya sekarang. Berbicara pun bisa meski untuk beberapa patah kata agak sulit untuk dilafazkannya.
Kedatangan kami membuat dia gembira. Dari ekspresinya tergambar sudah. Ini kali kedua aku menjenguknya di Tan­dikek. Sebelumnya di 13 Mei 2011 lalu. Memang aku tidak bisa mem­berikan bantuan, tetapi hanya dengan cara menjenguknyalah aku dapat menunjukkan bahwa dirinya adalah saudaraku. Aku yakin, dalam kea­daannya sekarang, dia sangat jauh dari teman-temannya. Dia adalah salah seorang adikku.
Mengapa aku dapat mengatakan dia adikku? Aku mengenalnya pertamakali dulunya saat rajin mengunjungi sekolah-sekolah di Sumatera Barat, bersama teman-teman penyairku dalam paket “Kun­jungan Sastra.” Salah satunya yang dikunjungi dimana Ajo Andre sekolah yakni SMPN VII Koto Sungai Sariak. Pada momen itu, Ajo Andre bersama Syofiardi Bachyul Jb (sekarang penulis) dan Febriansyah tampil bermain pan­tomim.
Selanjutnya dia bergabung dengan Sanggar Semut Pariaman, pimpinan alm Jhoni Amrin. Dia takut melihat penampilanku yang pendiam dan berambut panjang. Jika dia datang ke sanggar pagi-pagi, aku masih tidur di atas meja, dengan pelan-pelan dia berjalan, takut aku terbangun dan segera memasak air dan membuatkan kopi untukku.
Ketika dia melanjutkan pen­didikannya ke SMKI-Sekolah Me­nengah Kesenian Indonesia-diapun bergabung dengan Sanggar Semut Padang. Diapun rajin “main” ke Taman Budaya Sumatera Barat, dimana aku tinggal sehari-hari dalam kehidupan sanggar. Lalu waktu aku rajin nginap di rumah keluarga kakak kami teaterawan alm A Alinde di Dangau Teduh, diapun dekat dengan keluarga ini. Begitu juga di rumah suami-istri budayawan Babe Roestam Anwar dan Joesna Roestam Anwar atau kakak kami seniman Alda Wimar dan Nina Rianti.
Dia pribadi yang baik. Kepadaku dia sangat hormat. Dimanapun dia ketemu, pastilah akan mendatangi terlebih dulu untuk bersalaman dan menyapa. Saat itu dia rajin dalam kegiatan bermain teater sampai bergabung dengan Teater Keliling Jakarta pimpinan Derry Sirna-Rudolf Puspa. Kemudian aktif di Sanggar Dayung-Dayung Padang.
Dalam perjalanan waktu kemu­dian, dia masuk ke dapur rekaman. Awalnya membuat kekocakan seba­gai pengisi jeda lagu ke lagu rekaman caset lagu Minang. Kemudian sekaligus menjadi penyanyi. Terakhir kali kami dekat, setelah sama-sama tidak lagi nginap di Rumah Nina Tunggul Hitam. Karena dunia kami berbeda yang kami pilih, otomatis terpisah menjelang dia menanjak namanya di dunia rekaman, kami tidak pernah berjumpa lagi sampai bertahun-tahun.
Aku menjumpai Si An—pang­gilanku untuk Ajo Andre—lagi setelah sekian tahun berlalu, ketika mendapat kabar, sudah dua pekan dia terkapar di rumah sakit stroke Bukittinggi. Saat berjumpa, sama-sama terharu. Kukatakan padanya, aku baru mendapat kabar dan aku datang kini dari jauh, karena kamu adalah adikku. Sebab hal itu kuka­takan padanya, karena persaudaraan tidak pernah pudar. Sedang karir di dunia rekaman dan namanya bisa pudar seiring putaran zaman dan kehendak-Nya, seperti sekarang ini.
(Laporan Abrar Khairul Ikhirma)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar