Featured Video

Selasa, 08 November 2011

Korban Banjir Pessel Mulai Terserang Penyakit


PAINAN,  Korban banjir bandang di Pesisir Selatan mulai diserang berbagai penyakit. Di Pasir Putih Kambang, Keca­matan Lengayang, korban banjir terserang diare dan gatal-gatal.
Iwet (35)  mengaku terserang gatal-gatal di kaki, sementara anaknya sudah satu hari terserang diare. “Mungkin gara-gara minu­man atau makanan,” katanya kepadaHaluan, Senin (7/11).

Dia mengaku, anaknya sudah mendapat pertolongan dari tim medis yang ada di posko kese­hatan setempat.
Sementara itu, di Sungai Liku, warga belum berhasil mem­bersihkan bangkai ternak yang mati akbat dihondoh banjir pada Kamis (3/11) lalu.
Sapi yang mati akibat banjir telah menimbulkan bau tidak sedap di perkampungan Sungai Liku, kecamatan Ranah Pesisir,” kata Ison (40) warga Sungai Liku.
Disebutkan Ison, selain me­nim­bulkan bau busuk di dalam kampung, warga juga khawatir akan berjangkitnya penyakit dari bangkai ternak. Pada beberapa tempat, masyarakat memang telah berupaya mengubur bangkai sapi, tapi belum semuanya selesai.
Kepala Dinas Kesehatan Pesisir Selatan Mirsal menye­butkan, pemerintah telah men­dirikan posko kesehatan di Pasir Putih Kambang sebanyak tiga posko. Dua di bagian selatan dan satu di bagian utara.
Mirsal menyebutkan, selain Posko di tiga titik tersebut, maka Dinas Kesehatan telah meng­instruksikan seluruh Pusat kese­hatan masyarakat nagari (Pus­kesri) di wilayah terkena bencana untuk dijadikan posko.
Ditambahkan Mirsal, Pessel telah memiliki stok obat-obatan untuk enam bulan ke depan. Obat-obatan tersebut terdiri dari obat untuk pengobatan pasien pasca bencana. “Biasanya jenis penyakit yang muncul pasca bencana banjir adalah luka robek akibat ditimpa benda keras, diare, gatal-gatal dan lainnya. Sejumlah pasien korban banjir telah mendapatkan pengo­batan,” katanya.
SPBU Tutup
Akibat mobil tangki BBM tidak bisa masuk ke Inderapura dan Lunang Silaut, maka dua SPBU yang ada di kawasan itu tutup semenjak putusnya jalan nasional di Pasir Putih Kambang.
Masyarakat di sekitar dua keca­matan tersebut yakni Lunang Sialut, Basa IV Balai Tapan, Inderapura tidak lagi dapat memperoleh BBM.
Sementara pengecer BBM di Lengayang, Ranah Pesisir masih dapat memperoleh minyak di SPBU Amping Parak.
Namun masyarakat harus membeli minyak dengan harga tinggi. Terpantau di Balai Selasa harga satu liter premium Rp 15.000.
“Memperoleh premium di SPBU Amping Parak sangat susah, menje­lang sampai disana harus bertarung melawan macet, jadi saya harus jual tinggi BBM,” kata Ujang (40), peagang BBM eceran di Balai Selasa.
Harga Sembako Naik
Harga sembako disejumlah pasar yang tersebar di beberpa kecamatan terus membumbung. Di Balai Selasa, harga beras lokal dipatok pedagang Rp 16.000 pergantang.
“Beras luar, misalnya beras Solok semenjak sepekan ini tidak lagi masuk ke Balai Selasa, sementara beras lokalpun sangat terbatas karena masyarakat belum panen,” kata Yusril (45), pedagang beras.
Telur ayam ras yang dipasok dari Payakumbuh dan berbagai daerah lainnya juga mengalami kenaikan berarti. Harga satu butir telur dipatok pedagang pada harga Rp800.
Masyarakat Lengayang, Ranah Pesisir, Linggo Saribaganti, Pancung Soal dan beberpa tempat lainnya terancam kelaparan.
Sementara berdasarkan pantauan Haluan, truk pengangkut sembako milik pedagang tidak bisa masuk karena kapasitas jalan alternatif tidak memadai. Sejumlah truk di­isti­rahatkan disejumlah tempat, misalnya SPBU Amping Parak, di pinggir jalan nasional.
Dua Korban Ditemukan
Masyarakat Rantau Simalenang, Kecamatan Linggo Sari Baganti, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat berhasil menemukan dua korban banjir dalam kondisi mem­busuk setelah mencari selama empat hari.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pesisir Selatan Nasyaryadi di Painan, Senin, mengatakan, dua korban banjir yang ditemukan yaitu Rayos dan anaknya Azil yang baru berusia sembilan bulan.
Keduanya ditemukan di lokasi yang tidak jauh dari tempat dite­mukannya korban Kidit pada Minggu (6/11) di Bukit Kaciak Air Haji, Kecamatan Linggo Sari Baganti.
“Rayos dan Azil yang merupakan bapak dan anak ditemukan di kebun milik warga setempat, sekitar lima kilometer dari tempat mereka hanyut atau tidak jauh dari lokasi dite­mukannya Kidit,” katanya me­nambahkan.
Ia menyebutkan, korban yang pertama kali ditemukan adalah Azil sekitar pukul 14.00 WIB.
Setelah menemukan Azil, ma­syarakat kembali melakukan pen­carian dan berhasil menemukan Rayos sekitar pukul 15.00 WIB di lokasi yang tidak jauh dari tempat ditemukannya Azil. Kedua dite­mukan sudah membusuk.
Ia menyebutkan, Rayos dan anaknya Azil terseret air ketika hendak menyelamatkan diri saat banjir melanda daerah itu pada Kamis (3/11) dini hari.
Dengan ditemukannya Rayos dan Azil, maka sudah empat korban banjir Pesisir Selatan yang berhasil ditemukan.
Sebelumnya masyarakat bersama tim SAR berhasil menemukan Naisya (8) warga Pasir Putih Kambang, Jumat (4/11), sekitar satu kilometer dari bibir pantai barat Samudera Indonesia di Kecamatan Lengayang.
kemudian juga ditemukan Kidit warga Rantau Simalenang Keca­matan Linggo Sari Baganti pada Sabtu (5/11).
Dengan demikian masih ada dua korban yang belum ditemukan yakni Ismaidarni (40) dan Sintia (22) yang merupakan warga Pasir Putih Nagari Kambang Barat, Kecamatan Lenga­yang.
Belum Sekolah
Para siswa korban banjir di Kabupaten Pesisir Selatan, hingga kini belum dapat mengikuti proses belajar mengajar karena terputusnya akses jalan ke sekolah-sekolah mereka.
Nurjanah, orang tua siswa korban banjir di Painan, Senin, mengatakan, saat ini anaknya yang masih duduk di bangku kelas satu SMP belum dapat mengikuti proses belajar mengajar di sekolahnya karena akses jalan yang terputus.
“Akses jalan menuju sekolah anak saya di Padang Rubiah, Kecamatan Lengayang terputus karena diterjang banjir, jadi anak saya tidak bisa bersekolah,” jelas dia.
Selain itu, tambah Nurjanah, baju seragam sekolah anaknya juga tidak ada lagi karena terbawa arus ketika banjir melanda.
Sementara itu, di SD Inti 07 Labuhan, Kecamatan Ranah Pesisir terlihat para siswa bergotong royong membersihkan sekolah mereka dari endapan lumpur.
Kepala SD Inti 07 Labuhan Ema­wati mengatakan, sejak banjir melanda para siswa tidak dapat mengikuti proses belajar mengajar karena seluruh ruang kelas dipenuhi lumpur.
Menurut dia, para siswa bersama guru-guru datang ke sekolah untuk gotong royong membersihkan lumpur yang masuk ke ruang kelas.
“Adalah keinginan siswa yang mau melaksanakan gotong royong untuk membersih lumpur tersebut,” katanya.
Dia menambahkan, musibah banjir membuat sebagian barang-barang milik SD Inti 07 Labuhan Batu Kecamatan Ranah Pesisir rusak. “Kita tidak tahu berapa kerugian akibat banjir ini,” katanya.
(h/har/ant))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar