Featured Video

Selasa, 08 November 2011

Sub Divre Bulog Bukittinggi Kirim 6,3 Ton Beras ke Pasbar


BUKITTINGGI, Untuk mengatasi masalah kelangkaan makanan bagi masyara­kat di daerah Sasak dan Kinali Pasaman Barat, yang terkena musi­bah banjir, Sub Divre Bulog Bukittinggi, Senin (7/11) kemarin mengirimkan pasokan makanan sebanyak 6,3 ton beras untuk tanggap darurat selama 7 hari ke depan.

Pengiriman dilakukan berdasarkan  permintaan Bupati Pasaman Barat pada tanggal 5 November lalu. “Berdasarkan permintaan Bupati Pasaman Barat, hari ini kita kirim beras sebanyak 6,3 ton ke daerah Sasak dan Kinali untuk korban banjir di sana,” kata Kepala Sub Divre Bulog Bukittinggi, Majelwan Liza kepada Haluan, Senin (7/11).
Dikatakan, atas arahan Menteri Sosial RI, setiap kabupaten / kota diberikan jatah 100 ton beras selama satu tahun untuk tanggap darurat bencana. Jika pasokan tersebut tidak mencukupi, maka bupati / walikota bersangkutan boleh meminta tambahan melalui gubernur. Maka Bulog akan menambahnya sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan.
Dijelaskan Majelwan, sampai kini khusus untuk Sub Divre Bulog Bukittinggi, pemerintah daerah yang telah mengajukan bantuan beras ke Bulog hanya Pemkab Pasaman Barat, meskipun di Kabupaten Agam juga ada beberapa wilayah kecamatan yang terisolasi akibat longsor seperti di Malalak dan Palembayan, Matur dan Palupuh.
“Jika Agam meminta bantuan beras, kita akan kirim juga sama dengan apa yang kita lakukan untuk Pasaman Barat. Sepanjang ada permintaan dari bupati / walikota, insya Allah kita akan kirim. Tapi jika tidak diminta, kita pun tidak berani memberikannya, karena pendistribusian beras Bulog harus melalui prosedur seperti itu,” katanya.
Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam, Martias Wanto kepada Haluan menyatakan, hingga kini masyarakat di daerah bencana seperti Malalak, Palembayan, Matur dan Palupuh serta Tiku Tanjung Mutiara belum memerlukan bantuan beras. Sebab, hanya transportasi yang lumpuh, tetapi aktifitas masyarakat tetap berjalan seperti biasa.
“Timbunan longsor hanya mengisolasi transportasi seperti di Malalak dan Palembayan. Memang timbunan longsor belum bisa dievakuasi, tetapi warga belum memerlukan pasokan beras untuk dikirim, karena mereka masih beraktifitas seperti biasa,” tambah Martias Wanto. (h/jon)(haluan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar