Featured Video

Selasa, 24 Januari 2012

Kembalikan Harga Premium ke Asalnya


DHONI SETIAWANIlustrasi


JAKARTA,  Kepala Bidang Minyak dan Gas Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Ari H Soemarno mengatakan, opsi terbaik untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi adalah dengan mengembalikan harga bahan bakar minyak (BBM) ke posisi harga tertinggi yang pernah diputuskan Rp 6.000 per liter.

"Sebetulnya saya enggak sepakat kalau naikinharga (BBM bersubsidi). Saya katakan itu kembali ke asal," ujar Ari kepada Kompas.com, akhir pekan lalu.
Ia menyebutkan, premium seharga Rp 6.000 pernah diberlakukan pada tahun 2008. Pada saat menaikkan harga tersebut, pemerintah pun telah memberikan bantuan langsung tunai (BLT).
Selanjutnya, ketika harga minyak turun, harga premium pun turun. Maka dari itu, ketika harga minyak mentah Indonesia (ICP) naik, maka harga premium tinggal dinaikkan lagi. "Jadi kembaliin ke asal," tuturnya.
Ari pun tidak setuju jika alasan pemerintah tidak menaikkan harga BBM bersubsidi adalah semata untuk menjaga daya beli masyarakat. Menurut dia, daya beli masyarakat semakin tinggi seiring dengan pendapatan per kapita dan pertumbuhan ekonomi yang meningkat.
"Kemampuan masyarakat sekarang harus lebih mampu dong dari tahun 2008," tegasnya. Menurut dia, inilah opsi yang paling rasional dari sisi teknis. Tapi, terang dia, mungkin dari aspek politiknya yang tidak mudah. "Rasional saya semudah itu, ya mungkin kalau di politik tidak semudah itu saya enggak tahu," pungkasnya.
Terhadap hal yang sama, pengamat transportasi dari Universitas Soegijapranata, Djoko Setijowarno, menyebutkan, seharusnya pemerintah tidak mengizinkan sepeda motor menggunakan BBM bersubsidi. Pasalnya, jumlah sepeda motor pasti akan melonjak dan volume BBM bersubsidi pun pasti naik.
"Selama ini sepeda motor menguras BBM bersubsidi sebanyak 40 persen," sebut Djoko melalui pesan singkat, Senin (23/1/2012). Bahkan, kata dia, akan semakin tinggi tingkat kecelakaan motor dan keruwetan kondisi jalan. Solusinya, Djoko berharap motor tidak boleh menggunakan BBM bersubsidi hingga 3 tahun ke depan. Harga BBM bersubsidi pun bisa dinaikkan menjadi Rp 6.000 per liternya.
"Di daerah pedalaman dan perbatasan, harga 1 lliter BBM bersubsidi sudah di atas Rp 6.000. Dan, sekarang pengguna kendaraan bermotor sudah terbiasa gunakan BBM dengan harga mahal, meski gunakan BBM bersubsidi," tutur Djoko.
Seperti diwartakan, pemerintah berencana membatasi konsumsi BBM bersubsidi sejauh ini dengan opsi pengalihan ke bahan bakar gas dan pertamax untuk kendaraan pribadi. Ini akan diberlakukan resmi per 1 April mendatang. Akan tetapi, belakangan ini, pemerintah juga sepertinya akan membuka opsi menaikkan harga BBM bersubsidi. Kuncinya, APBN-Perubahan 2012 harus dipercepat atau pengeluaran peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perppu).   http://bisniskeuangan.kompas.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar