Featured Video

Rabu, 18 April 2012

Pengeboran Minyak Marak, Gempa Naik 6 Kali

Pencemaran minyak dari ladang yang dikelola Chevron di perairan Brasil (REUTERS/Rogerio Santana/Handout)



 Angka gempa bumi di Amerika Serikat meningkat di dekat kawasan yang menjadi lokasi pengeboran minyak dan gas. Geolog Amerika memprediksi, ada sejumlah gempa yang muncul akibat ceruk minyak dan gas terkena air yang disemprotkan ke bawah tanah yang menghasilkan gerakan sesar geologi.

Angka rata-rata gempa bermagnitudo 3 atau lebih di tengah benua Amerika ini, yang meliputi Arkansas, Colorado, Oklahoma, New Mexico dan Texas, meningkat enam kali di sepanjang abad 20. Laporan ini disampaikan dalam Abstrak riset dari Badan Survei Geologi Amerika Serikat.

Absrak ini ini tidak secara terang menyebutkan kaitan antara aktivitas gempa dengan patahan hidrolis yang melibatkan air dan kimia yang dipompakan ke formasi bebatuan dalam bumi yang akan menghasilkan minyak dan gas alam. Namun air ini menghasilkan patahan dan proses ekstraksi yang berperan menggerakkan sesar geologi yang menyebabkan gempa bumi.

"Peningkatan luar biasa gempa ini masih berlangsung," kata penulis dalam ringkasan diskusi dalam pertemuan Masyarakat Seismologi Amerika pada Rabu pekan lalu itu. "Meski angka rata-rata perubahan seismis di sini dipastikan hasil karya manusia, namun masih perlu ditentukan apakah mereka berkaitan dengan perubahan metodologi ekstraksi atau angka produksi minyak dan gas."

Dari 1970 sampai 2000, rata-rata gempa bermagnitudo 3 adalah 21, lalu pada 2001-2008 sebanyak 29 kali, 2009 bahkan 50 kali, 2010 sebanyak 87 kali dan 2011 sebanyak 134 kali.

"Kami tak tahu mengapa, namun kami ragu ini proses alamiah karena di alam, satu-satunya waktu Anda melihat peningkatan besar adalah gempa susulan setelah yang besar atau di sebuah kondisi vulkanis di mana Anda sering mendapatkan gempa merambat yang terkait aktivitas magma," kata Arthur McGarr dari Pusat Ilmu Gempa Bumi di California.

Aliansi Gas Alam Amerika, yang mewakili sejumlah perusahaan energi utama yang melakukan penambangan gas, menyatakan sulit menyimpulkan sesuatu dari abstrak yang belum dipublikasikan resmi itu.

"Harus dicatat bahwa tidak ada data ilmiah yang mengaitkan patahan hidrolis dengan gempa bumi yang mengakibatkan kerusakan," kata juru bicara Aliansi, Dan Whitten, melalui e-mail ke Reuters.
http://teknologi.vivanews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar