Featured Video

Rabu, 06 Juni 2012

Jarang Nonton TV, Berselancar Ilmu di Internet Tiga Siswa SMPN 1 Padang, Peraih Nilai Tertinggi UN


(ki-ka) Yumni Nadilah, Naufal Hamdan Rivani, dan Ayu Marisa Utami
Setelah tiga pelajar SMAN 1 Padang m­e­raih nilai ujian nasional (UN) tertinggi di Sumbar, giliran tiga siswa SMPN 1 Pa­dang mendapatkan nilai UN tertinggi se-Sumbar. Prestasi prestisius tersebut tidak diperoleh dengan mudah, seperti apa? 


MEREKA adalah Ayu Marisa Utami de­ngan total nilai akhir (NA) UN 38,40, nilai tertinggi di Sumbar. Lalu, Naufal Ham­dan Rivani dengan NA 38,20 pe­ring­­kat tiga di Sumbar, dan Yumni Na­di­lah dengan NA 37,90 peringkat 6 di Sum­­bar. Teknologi komunikasi seperti in­ternet, menurut mereka sangat mem­ban­tunya memperoleh nilai terbaik.

Ayu misalnya. Peraih harapan dua Olim­piade Sains Nasional (OSN) ini, me­r­a­sakan betul manfaat internet dalam me­­nambah wawasan dan bahan pela­jaran.

Semangatnya untuk maju telah dita­nam­kan di benaknya sejak dini. Dia rela mengorbankan masa remajanya un­tuk ber­senang-senang, berfoya-foya, apalagi ber­malasan-malasan. Tiada hari bagi Ayu untuk belajar, belajar dan belajar.      

Ayu sering memanfaatkan waktu di malam hari untuk belajar. Bahkan, aturan di rumahnya, dari Senin hingga Jumat sore, dia tidak boleh menonton televisi. Tak heran, “kotak bergambar” itu pun sangat jarang hidup di ru­mahnya.

Ayu belajar saat orang lain ter­lelap tidur. “Saya sering tidur cepat. Biasanya saya tidur sekitar pu­kul 9 malam, dan sering saya niat­kan untuk bangun subuh. Saat itulah saya belajar,” im­buhnya.

Ayu merasa lebih cepat me­nyerap pelajaran ketika bela­jar dini hari. Jika telah berada di be­lakang meja belajar, Ayu tidak peduli lagi dengan sekelilingnya. Konsentrasi penuh!  

  Dukungan dan dorongan ke­luarga memotivasinya mem­pe­roleh hasil terbaik. Ayu sering di­ha­diahi orangtuanya bila mem­­peroleh hasil maksimal da­lam meraih berbagai prestasi. Se­­but saja ketika dia meraih jua­ra harapan di OSN, Ayu pun di­hadiahi laptop dari orang­tuanya.

Lain lagi Naufal Hamdan Ri­vani. Dia begitu keranjingan ber­selancar di dunia maya untuk me­lahap sejumlah artikel yang ber­­kaitan dengan mata pela­ja­ran di sekolah dan artikel umum lain­nya. Berkat internet, remaja bertubuh jangkung ini mengaku dahaga otaknya terpenuhi.

“Banyak hal baru, dan itu berguna bagi saya untuk belajar. Misalnya saja materi pelajaran fisika, banyak teori fisika yang di­kemas dalam tulisan menarik ter­­dapat di artikel tersebut,” ung­­­kap Naufal yang menyem­pat­kan berselancar artikel mak­simal satu jam sehari.

Naufal juga memadukan be­lajar di sekoah dan di rumah da­lam menimba ilmu. Ketika di se­kolah, Naufal memperhatikan gu­ru dengan seksama. Wajar saja, materi pelajaran langsung me­­lekat di kepalanya. Untuk mem­perkaya bahan sekolah, Nau­fal mencari referensi di in­ternet.

Bagaimana pula Yumni Na­di­lah? Yumni merasa pola bela­jarnya sama dengan teman-te­mannya. Mengulang pelajaran se­pulang sekolah, mempelajari pe­lajaran esoknya pada malam ha­ri. Untuk memantapkan pe­ma­hamannya, dia mengikuti les di luar sekolah. Menjelang UN, intensitas belajar lebih giat lagi.

“Jadi ketika UN, saya nggak perlu lagi belajar. Paling cuma membaca kisi-kisi soal. Ya, lebih menenangin otak aja,” kata Yumni.

Selain kerja keras, Ayu, Nau­fal maupun Yumni menga­kui dukungan guru, terutama wali kelas, sangat membantu.

Bagaimana trik wali kelas me­reka? Wali kelas IX B SMPN 1 Padang, Syahirman menga­ta­kan, seorang wali kelas, harus­lah menjadi  motivator yang he­bat bagi anak didiknya. Itu pu­la yang diterapkan saban hari, selalu memotivasi peserta didik­nya meraih bintang di langit.  Ini ha­nya bisa tercapai bila wali ke­las memposisikan diri sebagai te­man bagi anak didiknya.

”Target tersebut bukan pak­saan, hanya memotivasi setiap anak agar mendapatkan nilai ter­baik,” kata Syahirman. (***)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar