TANDUK KERBAU JAWA
Sebagian besar masyarakat Minang mempercayai bahwa asal usul nama Minangkabau berasal dari legenda adu kerbau, antara kerbau orang awak dengan kerbau orang Jawa.
Dipercayai adu kerbau itu berlangsung sekitar 600 tahun lalu pada sebuah lapangan yang terletak di Jorong Badinah Murni, Nagari Minangkabau, berjarak 4 km dari Kota Batusangkar.
Ceritanya menurut versi masyarakat Nagari Minangkabau, dulu datang rombongan raja dari Kerajaan Majapahit di Jawa membawa seekor kerbau betina bertanduk panjang ke nagari tersebut. Mereka datang ingin menaklukan Nagari Minangkabau melalui beragam teka-teki dan pertarungan.
Oleh Datuak Tuo, setelah diperembukkan dengan anak kemenakan, kayu itu diikat di pertengahannya dengan tali, lalu digantungkan.
“Kemana berat kayu ini maka itulah yang pangkalnya, karena setiap kayu pasti berat ke pangkal,” kata Datuak Tuo kepada orang Jawa itu.
Melihat pembuktian dan Jawaban Datuak Tuo orang Jawa mengaku kalah. Lantas mereka mengeluarkan beberapa ekor itik dalam sangkar dan meminta Datuak Tuo menerka mana itik tersebut yang jantan dan mana yang betina.
Dengan strategi dan taktiknya, Datuak Tuo memberi makan itik tersebut sehingga itik keluar sangkar bergerombol berebut makanan, lantas Datuak Tuo menunjuk ke beberapa ekor itik.
“Inilah yang jantan karena endannya lebih kuat, bukankah itik jantan itu lebih kuat endannya dari pada itik betina,” kata Datuak Tuo.
Orang Jawa kembali mengaku kalah. Pada pertarungan ketiga orang Jawa mengeluarkan seseorang berbadan tinggi. Mereka menantang Datuak Tuo Mencari tandingannya.
Untuk mencarinya Datuak Tuo meminta waktu kepada orang Jawa. Lalu dia meletakkan sebuah belanga pada pucuk rebung, sementara rebung makin hari bertambah tinggi, setelah beberapa lama, Datuak Tuo membawa orang berbadan tinggi ke tempat itu dan menyuruh menjangkau belanga di atas pucuk rebung, namun tidak terjangkau olehnya.
Maka berkata Datuak Tuo, bahwa orang paling tinggi itu bukan orang Jawa tetapi orang Minang sendiri yang mampu meletakkan belanga ke atas pucuk rebung. Orang dari Jawa itu juga tidak berkutik, kalah lagi.
Oleh Datuak Tuo, kerbau besar itu dihadapi dengan anak kerbau yang sedang arek menyusu. Pada tanduk anak kerbau dipasang besi runcing tajam panjang sejengkal yang disebut taji. Sebelum memasuki medan laga, anak kerbau dipisahkan dari induknya selama tiga hari.
Pada hari yang ditentukan orang Jawa mengeluarkan kerbau besarnya di sebuah lapangan. Lantas anak kerbau Datuak Tuo juga dilepaskan. Karena sangat kehausan anak kerbau langsung menyeruduk perut kerbau orang Jawa untuk menyusu. Dan akibat kena taji yang dipasang di tanduknya, perut kerbau besar itu luka berdarah-darah, sehingga melarikan diri ke arah Nagari Simpuruik. Setiba di Sumpuruik isi perut kerbau itu “terborai”. Itu pula makanya nagari itu dinamakan dengan Simpuruik. Sementara kulit atau “jangek” kerbau yang kalah itu dibawa ke sebuah tempat yang kini bernama Jorong Sijangek di Nagari Simpuruik.
Sedangkan di tempat adu kerbau, masyarakat bersorak sorai dengan teriakan,” Manang kabau, manang kabau........!”, lalu tempat itupun dinamakan dengan Manangkabau yang kemudian secara berangsur-angsur berubah menjadi Minangkabau.
Terlepas dari benar tidaknya cerita itu, di Nagari Minangkabau hingga kini masih terdapat sejumlah bukti yang menguatkan legenda adu kerbau tersebut.
Buktinya antara lain, lapangan adu kerbau dan pandam perkuburan Datuak Tuo di Jorong Badinah Murni. Sementara di Jorong Minang Jaya, dekat sebuah pemandian umum terdapat batu kiliran taji yang ditenggarai sebagai alat untuk mengasah taji anak kerbau yang diadu dengan induk kerbau orang Jawa.
Pada lokasi batu kiliran taji juga terdapat batu tujuah lasuang, berupa sebuah batu terdiri dari 7 lobang/lesung. Batu itu biasa digunakan masyarakat sebagai tempat penumbuk cakua dan limau untuk mandi pada sore menjelang hari pertama bulan Ramadan.
Di dekat Kantor Wali Nagari Minangkabau pada rumah gadang kemanakan Datuak Majo Baso masih disimpan sebuah tanduk kerbau besar orang Jawa yang kalah itu. Namun tanduk yang disimpan itu hanya satu, yang satu lagi dibawa ke Jawa oleh pemiliknya. Panjang tanduk kerbau tersebut sekitar 1 meter. Tanduak kerbau itu dibagi dua sebagai bukti kemenangan bagi orang Minang dan sebagai bukti kekalahan bagi pemiliknya.
Menurut Wali Nagari Minangkabau Yusran Munaf, legenda adu kerbau tersebut merupakan aset wisata. Oleh karena itu dilakukan pelestarian dan promosi.
sumber
Tidak ada komentar:
Posting Komentar