Featured Video

Sabtu, 15 Desember 2012

Galodo Hantam Solsel




MA. LABUAH – Galodo menghantam Solok Selatan (Solsel) Kamis malam sampai Jumat subuh (13-14/12). Dua orang dinyatakan hilang, sejumlah rumah hanyut dan puluhan lagi rusak parah. 

Mencari cucuTak hanya itu, satu jembatan putus, 175 rumah dan tiga sekolah terendam banjir. Ini banjir terbesar dalam 30 tahun terakhir. Galodo berasal dari dua sungai yaitu Batang Pungkur dan Batang Salak. Musibah ini dipicu curah hujan yang bagai dicurahkan dari langit serta penggundulan hutan di hulu sungai. Hujan deras yang mengguyur wilayah Solok Selatan sejak Kamis menimbulkan galodo di dua Jorong Sungai Pangkua Kanagarian Pakan Rabaa dan di Pinti Kayu Sapan Salak, Pakan Rabaa Timur Kecamatan KPGD (Koto Parik Gadang Diateh).
Bupati Solok Selatan Muzni Zakaria menyebutkan, pihaknya telah membagikan tenda, makanan dan membuat dapur umum. Bantuan juga sudah datang dari tim reaksi gerak cepat BPBD Sumbar.
“Galodo menghantam pemukiman padat penduduk, sekarang tidak ada lagi yang mengungsi,” kata Muzni kepada Singgalang, tadi malam.
Muzni menyatakan tanggap darurat berlaku sejak 14 sampai 21 Desember. Masa tanggap darurat semua kekuatan dikerahkan untuk memberikan bantuan kepada para korban.
Dua korban hanyut Dasinan (57) dan Sinis (35) warga Jorong Sapan Salak Nagari Pakan Rabaa Timur. Hingga kemarin, pencarian masih terus dilakukan.
Saat kejadian ibu dan anak itu berniat menyelamatkan cucunya yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Mereka lalu masuk ke dalam rumah kayu yang terletak di tengah sawah, puluhan meter dari sungai. Beberapa menit berada di rumah, tiba-tiba bangunan ukuran 5 x 6 meter persegi itu dihantam kerasnya galodo. Dansinan, Simis, dan rumah tersebut pun akhirnya hanyut disapu bah. Sedangkan cucu yang ia cari, rupanya telah lebih dulu diselamatkan oleh menantunya, Amra (32)
Dalam waktu yang bersamaan, di tempat terpisah, galodo juga menghantam ratusan pemukiman penduduk di Jorong Sungai Pangkua, Nagari Pakan Rabaa Tangah, KPGD. Galodo yang membawa material berupa lumpur hitam dan kayu gelondongan berdiameter besar, menerjang rumah warga. Akibatnya, 75 rumah dinyatakan rusak berat dan 100 rumah rusak ringan. Warga terpaksa mengungsi karena rumah mereka belum bisa ditempati setelah galodo menggenang mencapai dua meter.
Hasil pantauan Singgalang, rumah warga yang dinyatakan rusak berat, pada umumnya sudah tak lagi memiliki daun pintu akibat benturan keras galodo. Kaca jendela hancur, dan sebagian dinding jebol. Perabot rumah tangga seperti barang elektronik, kursi, tempat tidur, terendam lumpur. Tak bisa lagi digunakan. Hingga Jumat (14/12) pukul 15.00 WIB warga masih terlihat membersihkan rumah mereka yang dipenuhi lumpur.
Data yang berhasil dihimpun dari kantor Wali Nagari Pakan Rabaa Timur, akibat galodo Manggih Jorong Sapan Salak, satu unit rumah dinyatakan hilang, lima unit rumah rusak parah, dan 10 unit rumah rusak ringan.
Wali Nagari Pakan Rabaa Timur, Rusdi Katik Marajo mengungkapkan galodo juga merusak areal persawahan masyarakat di Manggih, Muaro, dan Ngalau Indah. Seluas 75 hektare sawah dinyatakan rusak parah, dan 50 hektare lagi rusak ringan. Hewan ternak pun ikut menjadi korban. Sebanyak 8 ekor kambing warga hanyut diterjang galodo.
Kepala BPBD Solsel, Hamudis mengatakan, pada masa tanggap darurat telah disalurkan bantuan berupa nasi bungkus kepada warga, selimut, tikar, makanan siap saji. Aparat keamanan seperti polisi dan TNI saat masa tanggap darurat, terlihat turun langsung membantu masyarakat menyingkirkan galodo.
Kepala Pusat Pengendalian Operasi BPBD Sumbar, Ade Edwar, mengatakan pihaknya sudah berada di lokasi membawa berbagai bantuan.
“Yang kita utamakan menyelamatkan warga yang selamat dan evakuasi ke daerah yang aman dari lokasi galodo,” katanya.
Normalisasi
“Ini galodo,” kata Bupati Muzni Zakaria. Menurut dia, pihaknya telah mengerahkan beberapa alat berat dan puluhan truk untuk membersihkan lokasi bencana.
“Kayu-kayu bekas penebangan, batu-batu besar, krikil kita singkirkan dari palung sungai,” kata dia.
“Galodo ini yang terbesar dalam 30 tahun terakhir,” sebut Muzni.
Menurut dia, curah hujan yang tinggi telah memicu bencana. Selain itu, palung sungai sempit sehingga tidak mampu menampung debit air. Berikut kemiringan dasar sungai yang tajam sehingga kecepatan air sangat tinggi. Apalagi daerah alian sungai (DAS) di bagian hulu sudah gundul akibat penebangan liar.
Solusinya membuat cekdam atau bangunan penangkap sedimen, batu dan kayu di daerah hulu, untuk menyaring agar kayu dan batu tidak hanyut. Harus ada pemeliharaan secara reguler. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar