Featured Video

Kamis, 17 Januari 2013

SOPIR TRAVEL NAAS PASRAH TERIMA HUKUMAN

SOPIR TRAVEL AKUI MENGANTUK


Hasmar Palungan (20), tampak lelap di ruang High Care Unit (HCU) Instalasi Bedah Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) M Dja­mil Pa­dang. Selang infus ber­gan­tungan di kiri kanan perge­la­ngannya. Dengan seli­mut kain ba­tik warna kuning berco­rak co­kelat, ia seakan sudah tak ber­nyawa. Tapi gerakan pelan naik turun dadanya disertai hem­busan nafas kecil di hidung me­nandakan ia akan baik-baik saja.

“Baru tidur setelah diberi obat penenang tadi,” kata perawat kepada rombongan wartawan yang silih berganti mengunjungi ruangan itu.
Bercak darah yang mengering masih memenuhi kening dan seba­gian wajahnya yang lusuh. Beberapa bagian tubuhnya tempak mem­bengkak tak utuh. Ia dirawat di ruangan itu bersama korban lain­nya, Arianto (20) mahasiswa Uni­versitas Andalas (Unand) asal Padang Sidempuan.
Hasmar adalah sopir travel bernomol polisi BB 1130 FP yang bertabrakan dengan angdes  jurusan Batas Kota-Lubuk Alung di Pasa Usang Selasa (15/1) lalu. Kece­lakaan tersebut menyebabkan delapan orang meninggal dunia.
Pasca kecelakaan, Hasmar bersama 15 korban lainnya dila­rikan ke RSUP M Djamil Padang dan mendapat perawatan khusus. Ia mengalami patah tibia (tulang kering) di kaki kanan, dan lecet di kening serta tangan hingga mesti menjalani perawatan bedah.
Sebelumnya, kepada wartawan yang mengunjungi, ia mengaku ber­salah. “Saya mengantuk,” kata­nya pelan. Tetapi karena harus mengejar seto­ran, ia paksakan berangkat dari Pa­dang Sidempuan tujuan Padang de­ngan membawa delapan penumpang.
Hasmar hanyalah sopir tembak yang tidak memiliki trayek tetap. Jika ada penumpang ia berangkat. Kebetulan Senin (14/1) lalu, Unand mulai melaksanakan proses belajar mengajar (PBM) untuk semester genap. Jadilah delapan mahasiswa Unand asal Padang Sidempuan berangkat ke Padang malam itu.
Mereka berangkat sekitar pukul 20.00 WIB. Sama sekali tak ada firasat buruk, karena niat ke Padang ikhlas untuk menuntut ilmu. “Saya berangkat seperti biasa, tak ada tanda apa-apa, juga firasat buruk,” kata Ahmad Sanusi, salah satu penumpang travel.
Namun ia mengaku melihat sopir seperti tengah mengantuk. Beberapa kali penumpang mengi­ngat­kan sopir untuk pelan-pelan saja, agar tidak celaka di perjalanan. Tetapi Hasmar mesti kejar setoran, harus mengejar target pukul 7.00 pagi sudah sampai di Padang. Apalagi jarak tempuh Padang Sidempuan-Padang menghabiskan waktu 11 hingga 12 jam.
Ia sadar itu, antara cepat sampai pada tujuan dan menjaga kesela­matan penumpang. Nyawa kede­lapan mahasiswa itu ada di tangan­nya. Untuk menghilangkan rasa kantuk, Hasmar sampai berhenti empat kali di perjalanan. Menghirup udara segar, hingga berolahraga kecil menghangatkan tubuh.
Terakhir mereka berhenti di Bukittinggi. Pria asal Medan ini sampai membeli sebotol air mineral untuk membasuh muka dan kepala menghilangkan kantuk yang kian mendera. Subuh sudah tiba, penum­pang terlelap tidur di dalam mo­bilnya. Dengan sisa semangat dan tenaga Hasmar memacu L300 mini­bus yang diawakinya menuju Padang.
Tetapi daya tahan manusia ada batasnya, beberapa menit menje­lang tiba di Padang, konsentrasi Hasmar menurun drastis. Kenda­raan yang ditungganginya melaju kencang memotong deretan lima mobil di depannya. Tak disangka, dari arah berlawanan sebuah angdes penuh sesak juga sedang memotong laju sepeda motor.
Braaakkkkk
Keduanya “balago kambiang” di Jorong Talang Jala, Pasa Usang, Kabupaten Padang Pariaman, sekitar pukul 7.15 WIB. Semuanya kaget dan tak sempat menghindar. Hasmar tak sempat menekan pedal rem, bahkan ia baru sadar terjadi tabrakan hebat setelah kaki kanan­nya terjepit.
Kecelakaan tersebut menyebab­kan lima orang tewas di tempat. Se­muanya adalah siswa SMP dan SMA yang berniat mulia menuju sekolah. Dua korban lain meninggal di RSUP M Djamil, dan satu lagi meng­hembuskan nafas di RS Siti Rahmah.
Hasmar tampak menyesali kejadian itu, tetapi nasi telah menjadi bubur. Kesalahan harus dipertanggungjawabkan. “Saya bersalah, saya mengemudi dalam keadaan mengantuk,” katanya. Sampai kemarin, belum satu pun anggota keluarga Hasmar datang menjenguknya ke rumah sakit.
Hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) yang dilakukan oleh Kepolisian Resort Padang Pariaman menemukan travel tidak memiliki buku keur dan berplat hitam yang artinya angkutan ilegal.
Ketika ditanya soal Surat Izin Mengemudi (SIM), Hasmar menga­ku sudah tak memiliki lagi. “Sudah hilang beberapa bulan lalu, dan belum diurus,” katanya. Ia berangkat ke Padang dengan mengandalkan kenekatan saja. Kini ia hanya bisa pasrah, menunggu hukuman apa yang akan ditimpakan kepadanya.
Ruangan tempat Hasmar dira­wat dijaga pihak kepolisian resort Padang Pariaman. “Bukan khawatir sopirnya melarikan diri. Kami berjaga-jaga mengantisipasi ke­mung­kinan adanya keluarga korban meninggal datang menga­muk,” kata polisi yang bertugas di situ enggan namanya ditulis.


S


Tidak ada komentar:

Posting Komentar