Featured Video

Senin, 12 September 2011

Ratusan Ikan Keramba Apung Danau Singkarak Mati Tiap Hari


DANAU SINGKARAK

TANPA DIKETAHUI PENYEBABNYA
SOLOK, HALUAN — Ratusan ikan keramba apung milik masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Petani Ne­layan Pasir Singkarak (PNPS) di kawasan Danau Singkarak Kabupaten Solok mati setiap harinya. Ironisnya belum diketahui secara pasti apa penyebab matinya ikan-ikan di keramba apung proyek Pem­prov Sumbar tersebut.

Di keramba apung itu sendiri saat ini tengah dibu­didayakan ikan jenis Nila, dengan masyarakat setempat sebagai pengelolanya. Tujuannya adalah untuk meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Namun, akibat peris­ti­wa itu dapat dipastikan masyarakat yang mengelola keramba apung tersebut teran­cam mengalami kerugian.
Dari informasi dan panta­uan Haluan, di sekitar kawasan Danau Singkarak terdapat 21 unit keramba apung yang dikelola oleh masyarakat Nagari Singkarak yang tergabung dalam PNPS. Namun berapa nilai proyek pengembangan budidaya ikan dengan keram­bang apung itu tidak diketahui secara pasti besarnya oleh para petani dan nelayan yang menge­lola proyek tersebut.
Menurut sejumlah petani nelayan di Singkarak, ke-21 unit keramba apung dibagi dalam dua tahap yakni tahap pertama dengan 8 keramba dan dan tahap berikutnya dengan jumlah 13 keramba. Keramba apung yang dibangun oleh Pemprov Sumbar tersebut kemudian diberi bantuan 6 ribu bibit ikan dan 1 ton pakan untuk setiap satu unit keramba. Pengelolaannya kemudian diserahkan kepada masyarakat dalam bentuk kelompok.
Seperti yang dituturkan Nofrianto selaku Ketua Petani dan Nelayan di Nagari Sing­karak, kelompok petani hanya sebagai pengelola dengan sistim bagi hasil. Namun semenjak bibit ikan disemai di dalam keramba apung, setiap hari ada saja bibit ikan yang mati tanpa diketahui penye­babnya.
Khusus untuk tahap II dengan 13 unit keramba apung, yang menurut Nofrianto dimu­lai sekitar tanggal 13 Agustus lalu, ribuan bibit ikan yang disemai juga mati. Tak ayal, para petani yang mengelola khawatir bakal mengalami kerugian yang cukup besar.
“Walau setiap hari ratusan bibit ikan mati tanpa diketahui penyebabnya namun hingga sejauh ini belum ada penang­gulangan untuk menekan kerugian oleh pihak terkait,” paparnya.
Para petani nelayan, hanya bisa termangu dan berusaha membersihkan bangkai ikan yang mati dari setiap keramba. Mereka khawatir semua ikan yang ada juga akan ikut mati sebelum sempat dipanen. Hal yang sama juga dialami para petani yang mengelola 8 unit keramba tahap I.
Rencananya dalam waktu dekat ke-8 unit keramba ter­sebut akan dipanen. Namun pa­ra petani khawatir hasil yang akan didapat tidak sesuai de­ngan harapan semula, karena ba­nyaknya ikan-ikan  yang mati se­tiap hari tanpa diketahui pe­nyebabnya. Para petani me­ngaku sudah mela­por­kan keja­dian tersebut ke Di­nas Kelautan dan Peri­kanan Sumbar. Namun kondisi matinya ikan di ke­ramba apung yang dikelola oleh masyarakat di Nagari Singkarak masih belum juga teratasi. (h/ris)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar