Featured Video

Jumat, 21 September 2012

Polisi Tembak Mati Orang Gila






Masih ingat polisi duel dengan seorang pencuri seng pelat kereta api di Simpang­haru, Padang pekan lalu? Di Batang Anai, Padangpariaman, seorang anggota korps Bhayang­kara justru terli­bat perkela­hian dengan orang gila.  


Dalam peristiwa itu, orang gila tersebut tewas ditembak polisi. Se­dang­kan sang polisi, mengalami luka bacok di punggung, lengan dan kepala.

Pria stress itu diketahui ber­nama Jamaris, 45, warga Pa­sar Usang, Kecamatan Batang Anai, Padangpariaman. Dia di­tembak setelah membacok polisi yang berusaha me­nenang­kan­nya saat mengamuk di jalan raya.

Jamaris mengamuk di jalan raya Pasar Usang sekitar pukul 12.00. Dia membawa sebilah sabit dan mengayun-ayunkan pada pengguna jalan dan ma­syarakat. Tak ayal, aksinya itu membuat warga ketakutan dan mengganggu arus lalu lintas di kawasan tersebut. Warga ke­mudian melaporkan kejadian ini ke Polsek Batang Anai.

Mendapat laporan, petugas piket Polsek Batang Anai melun­cur ke lokasi menenangkan Ja­maris.  Bukannya tenang, Ja­ma­ris malah menyerang petugas.

Malang bagi Aipda Julius. Saat lengah, Jamaris melayang­kan sabit ke tubuhnya. Jamaris membacok Julius bertubi-tubi, sehingga melukai kepala dan punggungnya. Merasa terancam keselamatannya, Julius menca­but pistol di pinggangnya dan melepaskan beberapa kali tem­bakan ke arah Jamaris. Tem­bakan itu mengenai dada pria yang diketahui menderita ke­lainan jiwa dan sering mangkal di lokasi itu.

“Mungkin saat itu anggota saya merasa nyawanya teran­cam, dia lalu melepaskan dua kali tembakan yang mengenai dada korban. Pengakuan anggo­ta lain yang ikut ke lokasi, dia sempat melepaskan tembakan peringatan namun tidak diacuh­kan korban. Akhirnya, dalam kondisi terjatuh dia melepaskan tembakan ke arah korban,” kata Kapolsek Batang Anai Iptu Indra Syaputra.

Sekitar pukul 15.30, jenazah Jamaris, 45, dan Aipda Julius sampai di RS Bhayangkara Pa­dang. Jamaris dibawa dengan mobil ambulans Puskesmas Keliling Pasar Usang, sementara Julius dibawa ambulans Pus­kesmas Keliling Sikabu.

Begitu sampai di RS, jenazah Jamaris dimasukkan ke ruang jenazah RS Bhayangkara, se­men­tara  Aipda Julius dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD). Setelah dilakukan penanganan medis, Julius dipindahkan ke Ruangan Anggrek IV.

Di ruang perawatan, Julius dijaga beberapa anggota kepo­lisian. Terlihat, luka di tubuh korban telah dibalut perban. Ada beberapa bagian yang dibalut, yaitu kepala, punggung, dan lengan.

Menurut Kapolsek Batang Anai, Iptu Indra Syaputra, saat dibawa ke RS, kondisi Julius sempat kritis. Beruntung, sete­lah ditangani dokter kondisinya mulai membaik. “Kami belum bisa meminta keterangan, kare­na dia masih shock dan menda­patkan perawatan,” jelas Indra.

Di sisi lain, beberapa keluar­ga Jamaris yang tewas terlihat berkumpul di depan ruang je­nazah RS Bhayangkara untuk menunggu proses penanganan jenazah oleh pihak RS.

Sap, 43, salah seorang adik korban mengatakan, dia menge­tahui kejadian tersebut setelah mendapatkan telepon dari salah seorang warga. “Kakak saya ini (Jamaris, red) memang sudah lama mengalami gangguan jiwa. Namun, selama ini dia tidak pernah mengamuk. Saya yakin dia mengamuk karena ada orang yang telah mengganggunya,” ungkap Sap.

Walaupun begitu, Sap me­nya­yangkan kakaknya harus ditembak sampai mati. Dia mempertanyakan, kenapa harus ditembak di bagian dada, yang jelas-jelas akan mematikan. “Apakah tidak bisa menembak bagian lain untuk melum­puh­kannya?” tanya Sap.

Menurut Sap, saat ini keluar­ganya masih berembuk, apakah akan menuntut polisi atau me­nyelesaikan kasus ini sampai di sini saja.

Kapolsek Batang Anai, me­ngaku jajarannya sudah mela­kukan pembicaraan dengan pihak keluarga korban terkait kejadian ini.  Dia mengklaim, pihak keluarga korban sudah memaklumi kejadian tersebut. “Saat ini proyektil peluru telah dikeluarkan tim dokter, jenazah korban hanya dilakukan otopsi luar. Sedangkan seluruh biaya rumah sakit ditanggung polisi,” jelasnya.

Tidak Harus Main Tembak

Koordinator Police Wacth Sumbar, Ilhamdi Taufik menya­yangkan penembakan itu. Dia menilai, polisi tidak harus me­nembak di bagian dada.

“Polisi kan sudah menda­patkan pelatihan beladiri yang baik mulai dari menjalani pendi­dikan. Kalau memang harus melepaskan tembakan, kan bisa di bagian kaki sehingga warga tersebut tidak tewas,” jelasnya.

Lebih tegas dikatakan Il­ham­di, polisi memiliki ilmu ten­tang psikologi masyarakat. Seha­rusnya, kata Ilhamdi, saat mene­rima laporan dari warga mereka lebih berhati-hati, sehingga tidak terjadi hal seperti ini. Dia men­du­ga polisi tidak menjalankan tugas sesuai protap. (*)


sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar