Featured Video

Senin, 21 Januari 2013

27 Januari, Jakarta "Tenggelam"?


KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
Warga berjalan hati-hati saat melintasi jembatan gantung yang melintang di atas Sungai Kanal Barat di kawasan Jati Pulo, Jakarta, Jumat (18/1/2013). Meskipun ada larangan melintas karena derasnya arus sungai, warga masih nekat melaluinya demi keluar dari kampungnya yang kebanjiran.


Purnama yang terjadi pada Minggu (27/1/2013) diprediksi akan memperparah dampak musim hujan tahun ini. Diberitakan Kompas.com sebelumnya, pakar hidrologi Universitas Indonesia, Firdaus Ali, mengatakan bahwa Jakarta bisa "tenggelam" alias kembali banjir akibat pasang purnama.

Seberapa besar kemungkinan itu terjadi?

Firdaus mengatakan sebelumnya bahwa curah hujan akan tetap tinggi. Adanya pasang akibat purnama akan menahan air dari daratan. Dikatakannya, sesedikit apapun, aliran dari sungai takkan bisa masuk ke laut.

Thomas, Djamaluddin, Deputi Sains, Pusat Sains Atmosfer, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengatakan bahwa gabungan efek cuaca dan pasang memang perlu diwaspadai, namun tak perlu panik.

"Hal itu bisa terjadi kalau memang ada gabungan antara curah hujan yang tinggi dan merata serta efek pasang," papar Thomas saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (19/1/2013).

Thomas mengatakan, jika curah hujan tinggi dan merata, volume air di sungai akan meningkat. Bila air laut juga pasang, maka aliran air sungai ke muara akan lebih lambat. Volume air berpotensi meluap, menjadi genangan atau banjir.

Pada Minggu nanti, Thomas mengatakan, "Potensi Jakarta tenggelam kecil. Kejadian tanggal 16 dan 17 Januari 2013 yang lalu saya prediksi tidak akan terulang Minggu depan," katanya.

Thomas mengungkapkan, pasang memang akan memuncak Minggu depan. Namun, curah hujan hingga akhir Januari, berdasarkan analisisnya, cenderung menurun. Dengan demikian, syarat untuk Jakarta "tenggelam" tak terpenuhi.

"Tren curah hujan di Indonesia secara umum menurun. Ini karena suhu muka laut juga menurun. Aktivitas konveksi dan pembentukan awan pun demikian," katanya.

Thomas juga menyinggung tentang Osilasi Madden Julian (MJO). Secara sederhana, MJO adalah osilasi sub musiman yang terjadi di wilayah tropis akibat sirkulasi skala besar ekuatorial yang bergerak dari barat ke timur atau Hindia ke aPasifik tengah. MJo memengaruhi curah hujan.

"MJO memengaruhi pembentukan awan di Indonesia. Aktivitas MJO saat ini sedang tertekan sehingga pembentukan awan juga menurun," jelas Thomas.

Thomas mengatakan, sebenarnya secara umum Indonesia mengalami penurunan intensitas curah hujan. Curah hujan tinggi yang menjadi salah satu pemicu banjir Jakarta pada Kamis (17/1/2013) lalu merupakan kondisi lokal.

"Ini karena adanya pertemuan angin dari utara dan selatan dan karena adanya tekanan rendah di selatan Selat Sunda," papar Thomas.

Walau potensi Jakarta "tenggelam" Kamis nanti kecil, Thomas tetap meminta masyarakat untuk waspada.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho,  mengatakan, pasang air laut dalam beberapa hari ke depan diprediksi tinggi. Pada Senin (21/1/2013), pasang akan memuncak hingga ketinggian 0,95 meter. Pada Sabtu (26/1/2013), pasang bisa mencapai 1 meter. Sementara pada Minggu depan, pasang bisa mencapai 0,95 meter.

s

Tidak ada komentar:

Posting Komentar