Featured Video

Rabu, 12 Oktober 2011

Awak Miskin, Istri Buta Pula-Solok


Derita Tiada Akhir
SOLOK - Lengkap sudah penderitaan Hermanto, hidup dibalut kemiskinan, pekerjaan tetap tidak ada, gempa bumi tempo hari, membuatnya kian menderita. Kini sang istri pun mengalami kebutaan, tanpa jelas apa sebabnya.
Dalam kondisi seperti itu, ia harus berjuang untuk menghidupkan enam orang anak. Sementara istri lebih banyak tergolek di rumah berlantai tanah, berdinding tadir karena sakit-sakitan.
“Saya hanya seorang buruh,” ujar Hermanto kepada Singgalang, kemarin, di Jorong Tampuniak, Singkarak, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok. Hidup sebagai buruh tani atau buruh bangunan jelas membuat masa depannya penuh ketidakpastian. Deritanya terasa semakin berat saat sang istri menderita kebutaan sejak empat tahun lalu. Sekalipun sudah dirawat selama sebulan di rumah sakit, tetapi tidak ada kepastian tentang penyembuhan sang istri.
Hidup kadang memang terasa aneh dan sulit ditebak. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok hari. Begitu juga yang dialami oleh Hermanto dan keluarganya. Ia masih ingat bagaimana gempa bumi yang ikut mengubah jalan hidupnya. Ketika gempa terjadi, rumahnya memang tidak runtuh karena ia memang tidak memiliki rumah, selain sebuah gubuk berlantai tanah. Namun sehari setelah gempa terjadi, anak keenamnya lahir. Dua bulan setelah si bungsu menghirup udara segar, sang istri mulai merasakan gejala kebutaan.
“Entah apa sebabnya, tiba-tiba pandangan saya hilang,” jelas istri Hermanto, Kasmarni. Mengetahui sang istri tidak bisa melihat, Hermanto membawa istrinya ke rumah sakit. Sebulan ia dirawat di rumah sakit, tetapi matanya semakin tidak berfungsi. Dokter yang merawatnya tidak pula memberikan kepastian, apakah penyakit bisa disembuhkan atau tidak.
“Setiap ditanya, tidak ada jawaban yang pasti,” ujar Hermanto. Selama sebulan itu, setiap hari ia harus bolak-balik Singkarak-Rumah Sakit Solok. Di rumah sakit sang istri tergolek tak berdaya bersama si bungsu yang berusia dua bulan. Di rumah lima orang anaknya butuh makan dan biaya sehari-hari, sementara pekerjaannya sebagai buruh tani juga menjadi terlantar. Hidup dirasakan sangat berat saat itu. Jangankan untuk biaya rumah sakit, untuk kelangsungan hidup sehari-hari pun, Hermanto pusing tujuh keliling.
Empat tahun sudah berlalu, Hermanto tetap dibalut kemiskinan. Badannya istrinya, terasa lemah, fisiknya tak kuat untuk bekerja. Karena itulah, Hermanto harus membanting tulang sendirian. Sekalipun terasa semakin berat, hidup tidak boleh berhenti. Seberat apapun derita, Hermanto tetaplah seorang ayah yang bertanggung jawab.
Setiap hari ia terus berpikir dan bekerja bagaimana tungku tetap berasap. Apalagi lima orang anaknya membutuhkan biaya yang tidak sedikit karena masih duduk di bangku pendidikan. Anak tertua saat ini sudah berada di kelas XII MAN Singkarak. Sebentar lagi tentu akan mengikuti ujian akhir.
“Saya ingin anak-anak tetap bisa sekolah,” harap Hermanto. Keinginannya itu didorong oleh kondisi ia dan istrinya yang tidak sempat menamatkan Sekolah Dasar. Ia berharap anak-anak bisa mengubah nasib, namun Hermanto tidak bisa menjelaskan bagaimana kelangsungan pendidikan anak-anaknya ke depan. Ada rasa ngeri jika harus menghitung atau membayangkan biaya yang harus ditanggung.
Keinginan Hermanto bukan saja membangun masa depan anak-anaknya, juga berharap sang istri tercinta bisa sembuh seperti sedia kala. Ia berharap sang istri bisa ikut menopang ekonomi keluarga, sekalipun hanya sebagai buruh tani. Namun ia sendiri tidak tahu jalan manakah yang akan diberikan Sang Khalik untuk mengubah perjalanan hidupnya. Ia berusaha menjalani kehidupan dengan sabar dan tabah.
Dibantu
Pasangan suami-istri Hermanto-Kasmarni hanya satu dari ribuan keluarga miskin di Kabupaten Solok. Daerah ini masih mencatat keluarga miskin sekitar 25 ribu keluarga. Namun kemiskinan yang dialami pasangan suami istri ini sangat kompleks. Rumah tiada, pekerjaan tetap tak punya, penghasilan per hari tidak menentu. Kini Hermanto mulai tersenyum, sebab Team Galesoh menjadi penyelamat baginya. Hidup memang sulit diduga. Derita datang tanpa diundang, rezeki datang pun tanpa diduga.
Kini ia bisa tinggal di rumah layak huni karena dibangunkan rumah oleh Team Galesoh. Di samping itu, tim berhati mulia ini juga akan memberikan modal usaha kepadanya, sehingga ia bisa bernafas lega. Suatu saat nanti, ia berharap bisa menjadi keluarga mandiri.
“Kami tidak mungkin selamanya mengharapkan bantuan,” ujar Hermanto. Tanpa mengenal lelah, ia bersama tukang Team Galesoh berusaha menyelesaikan pembangunan rumahnya. Ia begitu gembira saat mendapatkan bantuan rumah ini karena itulah ia ikut terjun langsung sebagai pekerja di rumahnya sendiri.
“Kami sudah mencari orang yang tepat untuk mengobati penyakit Kasmarni,” ujar Fauzi, Koordinator Lapangan Team Galesoh. Ia berharap Kasmarni bisa disembuhkan. Untuk pengobatan ini, Team Galesoh menanggung semua biaya yang dibutuhkan.
Akankah harapan Hermanto akan terkabul, semoga perjalanan waktu bisa menjawabnya.(Waitlem)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar