Featured Video

Sabtu, 29 Oktober 2011

Mekkah Sudah Penuh Sesak


Basril Basyar

Kota Makkah sudah penuh sesak oleh jutaan umat Islam seminggu menjelang hari Raya Haji. Kota ini telah hinggap dalam memori saya sejak kecil. Beberapa kali terlihat tayangan di televisi, seperti mengimbau-imbau.
Saya melaksanakan Sai, menuruti langkah Sitti Hajjar. Ribuan orang serba putih menjadi permadani padang pasir. Masjidil Haram, menelan keangkuhan manusia. Masjid itu, seperti menatap satu persatu anak manusia yang berada di dalamnya.
Pagi, siang dan malam Masjidil Haram penuh jemaah yang menunaikan shalat, dzikir, berdoa dan iktikab di seputar Kabah yang agung itu. Asma Allah menyatu di langit kota tua bersejarah itu, berpendar ke dinding-dinding bukit batu di sekitar kota. Jemaah haji Indoseia adalah yang terbesar jumlahnya, sehingga dimana-mana selalu terlihat mencolok. Para pedagang makanan dan souvenir, benar-benar piawai dalam berbahasa. Mereka menawarkan dagangan dalam Bahasa Indonesia.
“Mari-mari, murah-murah,” kata pedagang. Serasa di negeri sendiri.
Hampir seluruh kedai makanan di Mekkah selalu diser bu jemaah Indonesia, apalagi saat-saat selesai shalat sembari menunggu waktu shalat berikutnya. Saya sempat mampir di sebuah kedai makanan, memesan seporsi yang pas. Habis mengisi perut, saya kembali ke Masjidil Haram.Saya merasakan betapa suasana senang dan gembira selalu nampak, terasa hebatnya syiar agama Islam. Kerinduan banyak orang untuk menginjak Tanah Suci, rupanya memang sebuah kerinduan yang manusiawi sekali.Berbagai aliram keagamaan tidak dihiraukan. Mereka hanya khusuk beribadah, tidak ada saling menyalahkan. Dari Asia, Afrika, Eropa dan berbagai negera lain berhimpun di sini, untuk satu tujuan, mengi kuti prosesi haji yang sudah berusia ribuan tahun itu. (*)