Featured Video

Senin, 31 Oktober 2011

RANDANG AKAN DIFESTIVALKAN DI JAKARTA


JAKARTA, HALUAN — UPTD Anjungan Sumbar di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, bekerja sama dengan Masyarakat Peduli Pariwisata Sumatera Barat (Mappas) dan Badan Ko­ordinasi Kemasya­rakatan dan Ke­buda­yaan Alam Minang­kabau (BK3AM) Ja­karta Raya, akan menggelar festival randang bertajuk Festival Masakan Minang.
Ketua UPTD Anjungan Sumatera Barat, Yusman Yus­bar yang dihubungi di kantornya pekan ini, menyebutkan Fes­tival Masakan Khas Minang itu sebenarnya sudah merupa­kan agenda rutin yang digelar di Anjungan Sumbar di TMII. Namun untuk kali ini, pihaknya akan lebih fokus tentang Randang Padang yang sudah menjadi masakan terlezat di dunia versi CNN.

“Saatnya kita menye­marak­kan masakan Randang Padang itu sehingga bisa menimbulkan kebanggaan bagi warga Minang di Ranah maupun di peran­tauan,” kata Yusman menegas­kan. Menurutnya, pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumbar juga akan menggelar acara festival randang di Padang.
Nyonya Gubernur Sum­bar, Nevi Irwan yang di­lapori oleh Yusman dua pekan silam, menyambut baik festival ma­sakan Minang dengan menu utama rendang.
“Beliau berjanji akan membuka festival yang akan diadakan tanggal 25 Desember 2011 itu,” ujar Yusman.
Festival ini akan mem­perebutkan hadiah total Rp20 juta rupiah dan diharapkan bisa didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Krea­tif karena randang termasuk salah satu wisata kuliner yang dicari dari Sumatera Barat.
Di samping hadiah uang tunai, pihak panitia juga menyediakan tropi bagi peserta, antara lain dari Gubernur Sumbar.
Diskusi Panel
Pada acara Festival Ma­sakan Minang tersebut, (Map­pas) yang ikut mendukung acara ini, akan menggelar diskusi panel di Anjungan TMII tentang Randang Padang tersebut.
Dua ahli masakan Indo­nesia, Wiliam Wongso yang mempromosikan Randang Padang ke dunia Internasional dan Bondan Winarno yang pernah lama di Padang, akan diupayakan untuk hadir mem­berikan pengalamannya tentang randing. Acara ini diharapkan akan dipandu langsung oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Barat Burhasman Bur.
“Kami ingin lebih mem­populerkan rendang se­bagai masakan terlezat di dunia ini di mata masyarakat Indonesia dan dunia, sehingga orang paham bahwa yang namanya randing itu, ahlinya dari Suma­tera Barat,” kata Ketua Umum Mappas, Nur’aini B. Prapdanu.
Ujung Tombak Pariwisata
Lebih jauh, Yusman Yus­bar yang pernah menjadi Kepala Kantor Penghubung Pemda Sumatera Barat itu menye­butkan, UPTD An­jungan Su­ma­tra Barat di Taman Mini merupakan salah satu ujung tombak dalam empromosikan pariwisata Ranah Minang kepada pe­ngun­­jung Taman Mini, baik wisatawan nusantara maupun wisatawan asing.
Di depan rumah Gadang ini juga ada dua rangkiang, Si Bayau-bayau dan Sitinjau Laut yang berdiri megah. Dalam waktu dekat, Pemkoa Bukit­tinggi dan Kota Pariaman juga berencana akan membangun replika Jam Gadang dan Ta­buik Piaman.
Dengan gayanya yang unik di antara anjungan daerah lainnya di TMII, membuat setiap tamu asing yang datang ke Taman Mini, hampir tidak pernah tidak singgah di An­jungan Sumbar. Malah tamu-tamu negara pun selalu ber­kunjung ke Anjungan Sumbar.
Yusman menambahkan, karena tingginya jumlah kun­jungan ke Anjungan Sumbar, makaUPTD tidak lagi bekerja 5 hari seminggu, tetapi malah 6 hari seminggu.
Karyawan UPTD hanya libur pada hari Senin, mengikuti waktu libur­nya TMII.
Kepada Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, Yusman per­nah mengusulkan agar ada insentif khusus bagi UPTD Sumbar yang harus bekerja 6 hari seminggu tersebut.
Apakah usulan itu sudah terealisasi, Yusman tidak pula menyebut­kan.
Selain favorit bagi tamu asing dan mancanegara, An­jungan TMII juga sudah men­jadi pilihan bagi masya­rakat Minang untuk meng­gelar ber­bagai acara.
Di samping meng­gelar acara silaturahim dengan berbagai atraksi budaya, kegiatan-kegiatan pelestarian budaya Minang seperti nyanyi, pencak silat, dan diskusi-diskusi masalah kebudayaan juga sudah sering dilakukan di tempat ini. LSM Mappas pun akan meng­gelar Musyawarah Kerja Nasi­onal (Mukernas) per­tamanya pada 29 Oktober mendatang di lokasi ini.
Malah, pada halal bihalal lalu, panggung utama, balai­rung dan ruang per­temuan UPTD ini juga dipakai oleh tiga organisasi Minang pada waktu bersamaan.
“Tempat ini nyaris tak per­nah lengang dari berbagai kegiatan. Tiap bulan juga sudah di­lampilkan atraksi kesenian dan budaya masing-masing kota dan kabupaten di Sumatera Barat,” tambah Yusman. (h/syaf al)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar