Featured Video

Rabu, 09 November 2011

SURILI HEWAN PEMALU YANG SUKAR DIURUS


Surili merupakan hewan yang sudah sangat langka. Bahkan International Union for Conservation of Nature (IUCN) sudah memasukkan surili dalam red list atau hewan yang terancam punah.

Dokter hewan di Kebun Binatang Bandung Efi Sofiyanti menjelaskan, hewan yang memiliki nama latin presbytis comata itu merupakan hewan khas Jabar. Hewan sejenis monyet itu banyak terdapat di kawasan Gunung Gede Pangrango, Gunung Halimun, Cipatujah, Cianjur bagian selatan dan Ciwidey.
“Dulu hewan ini banyak di Jabar, tapi sekarang sudah langka. Hewan ini sudah terancam punah, bahkan sudah masuk red list dari IUCN,” ujar Efi kepada wartawan di Jalan Tamansari, Senin (7/11).
Dia menambahkan, sebenarnya Surili tidak terlalu sulit untuk hidup, karena persediaan pakan di Jabar masih melimpah. Menurut Efi, maka­nan utama Surili adalah dedaunan, terutama daun pohon beringin.
Namun dia mengakui saat ini habitat surili sudah terganggu, sehingga keberadaannya terancam. “Sekarang habitatnya sudah banyak yang terfragmentasi, akhirnya mereka terpisahkan, dan lambat laun pu­nah,” jelasnya.
Upaya mengatasi kepunahan binatang mirip kera itu, terus dila­kukan pihak Kebun Binatangt Ban­dung. ­Pada tanggal 5 November 2011 lalu, seekor surili lahir dengan sela­mat.  Bayi Surili jantan itu diberi nama Linov.
“Jadi Linov itu bayi dari pasangan surili bernama Warsih dan Karim. Karena lahirnya tanggal 5 November, makanya surili tersebut diberi nama Linov,” kata Efi Sofiyanti.
Menurut Efi, Linov terlahir de­ngan berat badan 0,5 kilogram panjang 50 centimeter dan proses kelahiran Linov berlangsung lancar.
“Induknya Linov mengandung Linov selama tujuh bulan. Tujuh bulan memang proses kehamilan umumnya surili,” katanya.
Linov yang memiliki bulu ber­warna putih ini merupakan bayi pertama Warsih yang sebelumnya adalah dara.Oleh karena itu, kata dr Efi, ketika melahirkan Linov, Warsih (induknya) belum bisa mengurus dan menerima Linov.
“Kami berharap orang tua Linov mau mengurusnya karena setelah mencoba disatukandangkan, Linov malah tidak diurus.
Mungkin karena bayi pertama, orang tuanya belum memiliki jiwa keibuan. Jadi saat Linov lahir malah didiamkan,” katanya.
Dikatakannya, untuk saat ini Linov diasuh oleh bagian rehabilitasi Kebun Binatang Bandung dan sehari-ha­rinya Linov ditidurkan di dalam inkubator dengan tenaga listrik hampir 100 watt.
Ia menjelaskan, untuk asupan makanan, Linov diberi susu formula dan usai diberi susu Linov disimpan ke dalam inkubator seperti halnya bayi manusia yang baru lahir di rumah sakit.
“Memang awalnya, Linov me­mang tidak mau diberi susu formula. Kami inginnya dikasih orang tuanya. Namun karena diterlantarkan orang tuanya maka kita kasih susu formula,” katanya.
Kelahiran Linov membuat koleksi surili di Kebun Binatang Bandung menjadi empat ekor setelah sebe­lumnya, seekor surili pernah lahir di bobin yang didirikan sejak zaman Belanda itu.
“Akan tetapi, karena surili ter­masuk hewan yang sulit dirawat sehingga surili tersebut keburu mati. Surili juga termasuk hewan pemalu yang sukar diurus manusia. Semoga saja Linov sehat hingga mampu tumbuh dewasa,” katanya.
Sementara itu, dio Kebun Bina­tang Bandung juga untuk lahir seekor kera Sumatra, namun  belum diberi nama. Kera ini lahir dari pasangan Dikdik dan Susi pada 24 Oktober lalu.
“Kondisinya kini sehat, tapi kita belum sempat memberinya nama,” kata dr Efi.
Ia menuturkan, proses kelahiran hewan yang akrab disapa Si Amang itu berlangsung normal setelah menjalani masa kehamilan tujuh bulan.
“Selain itu, kera tersebut lahir dari induk yang sudah pernah melahirkan sebelumnya. Sehingga orang tuanya mau merawat,” ujarnya. (ant/ic)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar