Featured Video

Kamis, 20 September 2012

“Kami Menyuruk dalam Lumpur…”

MERENUNG DI JENDELA


Angin limbubu itu memisau. Lidahnya berputar bagai gasing. Sekejap saja, semua berderak-derak. Rumah terbelah dua. Langit kian gelap. Selebihnya adalah ketakutan dan air mata.


Malang, baru lima meter berjalan, Farida melihat dengan mata kepalanya, angin menggumpal menyerupai awan. Konon menurut Farida, yang kelihatan shock berat akibat peristiwa itu, saat ditemui Singgalang, angin tersebut seakan berwujud. Tidak lama berselang, gumpalan angin menghempas ke tubuhnya.Air mata itu sampai Rabu (19/9) belum kering. Begitulah sebagaimana diberitakan kemarin, puting beliung mengamuk di Limapuluh Kota. Sebanyak 46 rumah rusak berat.
Selasa petang itu, agaknya, merupakan hari yang paling menakutkan bagi Farida (33) dan anak sulungnya Yulianti Sartika. Betapa tidak, di hari itu pula, dua beranak ini nyaris kehilangan nyawanya setelah rumah mungil yang mereka huni, dikoyak angin kencang dan terbelah dua dihantam pepohonan.
Saat monster bernama puting beliung itu tiba, Farida dan Yulianti Sartika, berniat keluar rumah menjemput si bungsu Rizki Saputra (8) yang tidak kunjung pulang setelah seharian bermain di rumah temannya. Lantaran hujan deras yang mengguyur kampung Sungai Talang, Coran, Nagari Sitanang, Kecamatan Lareh Sago Halaban, Limapluh Kota, mulai reda, maka ibu dan anak ini melangkah dengan pasti.
“Dek koncang angin, kami tatungkuik. (Karena angin yang kencang itu, kami terjatuh),” cerita Farida.
Di tengah ketakutan tersebut, Farida menarik tangan Yulianti, dengan maksud segera lari ke tempat yang aman. “Indak ado tompek lari lai, kami maloncek ka leriang. Sudah tu, kami balaghi dan manyuwuak di dalam sawah. (Karena sudah tidak ada lagi tempat lari, kami meloncat ke jurang. Setelah itu, kami berlari dan menyuruk di dalam sawah,” sambung Farida, mengisahkan peristiwa luar biasa yang dialaminya.
Pantauan Singgalang Rabu (19/9) kemarin, jurang yang diterjuni Farida dan anak sulungnya, tidaklah dangkal. Kedua insan ini yakin, Allah SWT menyelamatkan mereka dari maut. Setelah terjun bebas ke dalam jurang, Farida ingat, dirinya melihat dan mendengar suara pohon kelapa berderak hingga menghantam kediamannya. Setelah pohon kelapa, giliran pohon durian yang copot disapu angin. Mereka melulung ketakutan dan berlari ke areal sawah.
Nah, di sawah inilah, Farida dan Yulianti Sartika, siswi kelas IV SDN Coran yang akrab disapa Tika ini, saling berpelukan dan menyuruk ke dalam lumpur. “Kami indak tahu, kama ka lari lai. Kami lalok di dalam sawah bagayigh tu. (Kami tidak tahu, kemana harus lari. Sehingga, kami bersembunyi di dalam lumpur sawah tersebut),” imbuh Farida yang mengaku, baru berani keluar dari sawah, setelah puting beliung berhenti total.
Dari kesaksian kedua korban dapat diketahui, kalau puting beliung yang mengupak-ngupak 46 unit bangunan di dua kampung dalam nagari Sitanang tersebut, berlangsung dalam tempo waktu lebih kurang 10 Menit. “Lah indak ado angin, baru kami kaluegh daghi sawah. Sudah itu, basobok jo apak anak-anak. (Begitu angin berhenti, kami keluar. Selanjutnya, bertemu dengan Bapak anak-anak),” terangnya, diangguki sang suami Afrizal (41).
Harta benda
Akibat angin kencang dan bangunannnya diterpa dua batang pohon kelapa, keluarga Afrizal dan Farida kehilangan harta bendanya. Rumah kayu berukuran lebih kurang 6×8 meter yang selama ini mereka huni, kini terbelah dua. Selain itu, bahagian atap bangunan juga lenyap disapu angin. Tidak sampai di sana saja, pakaian dan peralatan rumah tangga lainnya, ikut rata oleh tanah.
Baik Farida maupun Afrizal tidak habis pikir, bagaimana dengan nasib dua orang anaknya. Seluruh pakaian dan buku sekolah yang mereka simpan di kamar kecil berdinding triplek, dilumat habis oleh angin puting beliung dan hancur diterpa pepohonan serta material bangunan. (*)

sumber



Tidak ada komentar:

Posting Komentar