Featured Video

Kamis, 03 Januari 2013

Doel Sumbang Protes Kurikulum Sekolah Tanpa Bahasa Sunda

Pencinta Bahasa Sunda unjuk rasa

Kurikulum Pendidikan Nasional 2013 mendapat banyak kecaman. Salah satu kecaman datang dari penyanyi asal Jawa Barat, Doel Sumbang, yang memprotes hilangnya mata pelajaran Bahasa Sunda.


"Mau dibawa ke mana sebuah suku bangsa, bila bahasanya punah. Pemimpin Jawa Barat yang mendukung kurikulum ini harus diturunkan," kata Doel Sumbang saat pertunjukan 'Malam Dongdang 5' di gedung pertunjukan legendaris majestic Bandung, Rabu 3
Januari 2013.

Ia mengatakan Jawa Barat bukan hanya butuh gubernur, tapi butuh pemimpin. "Gubernur cuma orang yang gemar umbar janji banyak hal di banyak tempat. Pemimpin adalah tauladan yang membangun dan menjaga tradisi," katanya di hadapan pasangan calon gubernur Jawa Barat, Rieke Diah Pitaloka dan Teten Masuki.

Doel sangat kahawatir dengan mulai terkikisnya banyak budaya terutama Bahasa Sunda. Kekhawatirannya bertambah ketika banyak kebijakan dari tingkat pusat hingga daerah yang justru semakain mengucilkan sebuah tradisi budaya. Uji publik yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayan mengungkap, kurikulum baru meniadakan muatan bahas lokal dalam materi pendidikan.

Ia secara pribadi menolak semua upaya pengucilan nilai tradisi dan budaya. Doel mengatakan akan melakukan perlawanan sesuai kemampuannya dalam menolak kebijakan ini.

"Salah satu perlawanan, saya bikin lagu Sunda terus tidak peduli laku atau tidak. Saya terus berkarya bukan cari untung. Saya berkarya karena saya tidak ingin bahasa sunda punah," katanya.

"Mau jadi suku apa orang Sunda kalau bahasanya punah. Terserah orang mau bilang apa, minimal saya yang akan menjaganya. Saya yakin banyak seniman dan masyarakat sunda termasuk suku lain yang sepakat dengan saya," katanya.

Rieke Dukung Doel

Sebagai orang asli Sunda, aktris yang juga politisi Rieke Diah Pitaloka merasa bahasa daerah terutama Bahasa Sunda mulai tak digunakan masyarakat Jawa Barat. Demi melestarikan itu, Rieke meminta Doel Sumbang membuat lagu berbahasa Sunda untuknya. Hasilnya, muncul lagu berjudul 'Dong Dang 5'.

Menurut Rieke, lagu itu merupakan salah satu cara yang ia lakukan selain untuk melestarikan bahasa daerah juga untuk melestarikan pop Sunda. "Betul-betul terimakasih karena dukungan dari kawan-kawan, kebudayaan pop Sunda yang dipimpin oleh Doel Sumbang. Saya diminta menyanyi satu lagu, tapi saya tak menyangka seserius ini," ujarnya saat ditemui di Hotel Savoy, Bandung, Jawa Barat, Rabu 2 Januari 2013.

"Komunitas pekerja seni, seperti menitipkan pesan, agar kebudayaan di Jabar bisa hidup, bisa memberikan kehidupan, tanpa ada rasa takut. Kalau dilarang-larang berkreasi, tentu mematikan kreatiVitas," katanya.

Sebagai seorang yang besar dari dunia seni, wanita yang akrab disapa Oneng itu menyatakan ingin pop Sunda menjadi tuan rumah di Jawa Barat. "Kalau lagu Korea bisa populer, saya yakin kalau diberi ruang pekerja seni banyak lagu Sunda bisa dinikmati oleh masyarakat Indonesia," katanya.

"Saya berangkat dari seni saya memahami bentuk kebutuhan itu. Jadi pekerja seni yang menjaga tradisi pasti beda mereka orang-orang yang membuka lapangan kerja sendiri. Kalau mereka dibiarkan hidup berkembang, tentu tak bisa berdiri sendiri," kata calon Gubernur dengan nomor urut 5 itu.

Menurut Doel Sumbang, lagu yang ia ciptakan dalam 2,5 jam itu tidak ada muatan politik apapun di dalamnya. Ia hanya berharap melalui lagu tersebut, masyarakat Sunda bisa lebih cinta dengan wilayah mereka.

"Ini lagu kecintaan terhadap provinsi ini. Lagu ini cocok dipakai Rieke. Yang bukan orang Sunda juga pasti mudah banget, tetap bahasa Sunda, tetap bisa melekat. Denger musik bisa joget, senang. Saya harap ini bisa bantu perjuangan Rieke," kata pelantun 'Kalau Bulan Bisa Ngomong' itu. 

s

1 komentar:

  1. heueuh bener bahasa sunda mah kudu aya,,tong dipilih w lah gubernurna....mending jadi golput kabeh.......sok mending mana rek di euweuhkeun kurikulum bahasa sunda atawa mending golput kabeh.........?????

    BalasHapus