Featured Video

Rabu, 05 Oktober 2011

Mau Cewek Bispak SMA juga Ada-Padang Malam Hari (4)


Setelah peristiwa tertangkapnya dua penari telanjang di Fellas Cafe, Padang, warga penasaran bagaimana sesungguhnya kota ini di malam hari. Berikut laporan ‘Kehidupan Malam Kota Padang’ ditulis wartawan Singgalang, Guswandi dan Deri Okta Zulmi
***

Malam itu, pelataran parkir salah satu
tempat hiburan malam seperti tempat
fashion show. Gadis-gadis muda berpakaian seksi melintas berjejer sambil ketawa-ketiwi. Dilihat dari paras wajah, gadis itu masih remaja dan ada yang beranjak dewasa.
Mendapati kondisi itu, tidak ada bedanya antara Kota Padang dan Kota Jakarta. Gadis Minang nan elok laku, tak berlaku di sini. Mereka lebih mementingkan mode dan memamerkan keelokan tubuhnya.
Semakin seksi pakaian mereka, semakin tinggi pula percaya dirinya.
Penasaran dengan sisi kehidupan remaja itu, Singgalang pun mencoba menggali dan memasuki tempat hiburan itu.
Makin ke dalam, pakaian cewek-cewek tersebut bak artis ibukota saja. Banyak gadis yang datang sambil menggandeng teman sebaya, bahkan pria paruh baya.
Sesampai di dalam ruangan yang gemerlap dengan lampu warna-warni, telinga rasa mau pecah karena dentuman musik yang membuat jantung berdetak kencang. Tapi, tarian dan liukan tubuh pengunjung makin terpacu dengan kerasnya musik itu.
Biasaya, wanita paling ramai datang ke tempat hiburan pada malam Jumat atau disebut ladies night. Malam itu, para gadis diistimewakan karena masuk tanpa membayar.
Dalam dunia malam, gadis tersebut sering disebut bispak (bisa pakai). Para wanita ini tidak seperti PSK lainnya yang hanya mengharapkan materi, tapi mereka mau melakukan hubungan suka sama suka. Bayaran nomor dua.
Apabila ada seseorang yang mencoba mengajaknya, wanita itu pun memilih siapa yang ia kencani. Kalau pria tersebut mempunyai dompet tebal ia akan menemaninya baik tua maupun muda.
Pada umumnya cewek bispak itu tidak suka dengan hubungan yang mengikat. Mereka lebih suka hubungan yang bebas tanpa batas. “Gue nggak suka kalo hidup gue diatur-atur. Gue memilih bebas, sehingga gue bisa lakuin apa aja,” ujar Rina, 19, (nama samaran) kepada Singgalang beberapa hari yang lalu di sebuah klub malam yang ternama di Kota Padang. Ia berhasil didekati setelah Singgalang mencoba menawari minuman kepadanya. Dalam dunia malam, segelas minuman sama artinya dengan sebatang rokok di kedai kopi, sebagai pembuka pembicaraan.
Rina yang saat ini tengah mengikuti pendidikan di sebuah perguruan tinggi negeri yang ada di Kota Padang, mengaku telah menjalani kehidupan seperti itu semenjak SMA. Ia merasa kehidupan malam itu sudah menjadi bagian dari kehidupannya, yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.
Cewek bispak yang mayoritas berstatus siswi atau mahasiswi itu, biasanya identik dengan cewek matre. Mereka tidak mau sembarangan berkencan dengan pria yang mendekatinya. Disamping menjaga image, mereka juga mengharapkan hal yang setimpal dengan apa yang diber-ikannya.
Rina pun tidak menampik hal itu dan dia sendiri mengaku dirinya cewek matre. “Gue memang suka berkencan dengan cowok kaya, meski dia sudah memiliki istri sekalipun. Kalau dia benar sayang sama gue, tentu dia akan bersedia memenuhi permintaan gue,” katanya.
Sebagai cewek gaul, Rina sangat peduli dengan penampilannya. Untuk membiayai kehidupan glamour-nya, Rina tidak bisa hanya berharap dari kiriman orang tuanya.
“Memang, gue nggak akan selamanya menjalani kehidupan seperti ini. Tapi untuk saat sekarang, gue belum bisa meninggalkan kesenangan malam ini. Gue masih ingin menikmati masa muda yang katanya hanya sekali,” kata wanita berkulit putih itu.
Ia pun sudah sering memikirkan untuk menjalani kehidupan yang normal seperti gadis lainnya. Karena dia paling takut seandainya keluarganya mengetahui perbuatannya selama ini.
Semenjak SMA Rina berpisah dengan orangtuanya yang berada di luar Kota Padang. “Selama itu juga gue berusaha untuk menutup-nutupi kehidupan gue di sini,” katanya lagi.
Saat Singgalang menanyakan berapa tarif untuk bisa berhubungan dengannya, Rina pun menjawab ia memasang tarif minimal Rp500 ribu. Itu pun melakukan kalau ia suka dengan orang yang akan memakainya.
“Sebelum nginap ke hotel, gue lebih dahulu mengajak teman kencan gue havun (bahagia) di club sampai mabuk, habis itu baru gue cek in di hotel dengannya,” ujarnya tanpa malu.

Janji-janji om
Rina juga mengatakan om-om tidak menepati janjinya. “Janjinya tinggal janji aja sama dengan janji calon anggota dewan,” katanya.
Ia mengaku pernah dikencani oleh pejabat, sampai-sampai pejabat itu pun mau menikahinya sebagai istri kedua. “Ada sih pejabat yang mau menikahi gue. Katanya gue mau dijadiin istri kedua, kalau gue mau apa pun yang gue minta dikasih seperti apartemen, mobil, serta segala kebutuhan gue dipenuhi,” ujarnya.
Kehidupan yang ia jalani mengubah ekonominya sampai-sampai ia sudah memiliki sebuah mobil yang dikasih oleh salah seorang konsumennya.
Ia pun mengakui telah banyak pria yang mencoba mendekatinya, namun tidak satu pun yang melekat di hati. Entah mengapa ia selalu rindu akan kebebasan. Ia lebih suka mencari kesenangan.
“Saya punya teman pria. Ia orangnya baik dan tidak pernah menyakiti perasaan,” katanya.
Bersama pria ini, ia sudah berkali-kali pergi ke suatu tempat untuk mencari kesenangan. Hal ini sebatas suka sama suka. Kenikmatan duniawi sudah direguk. Namun tidak ada ikatan.
Terkadang saat ia butuh, ia pun menelepon. Begitu juga sebaliknya. Kalau setuju, jadilah ia dan teman prianya itu pergi ke tempat yang sudah direncanakan hanya untuk bersenang-senang.
“Antara umur saya dan dia terpaut jauh, sekitar 10 tahun. Pria itu dewasa sekali dan selalu membimbing saya jika menghadapi kesusahan.”(*)