Featured Video

Rabu, 05 Oktober 2011

Selamat Jalan Pak Yonda


WIDYA NAVIES

‘’Jika diizinkan, dengan biaya pribadi pun, saya mau membezuk Pak Yonda yang kini terbaring sakit di Jakarta,’’ kata saya kepada Pemimpin Redaksi Singgalang, Khairul Jasmi, dua hari lampau di ruang kerjanya.
KJ, begitu panggilan akrab Khairul Jasmi serta merta memberi respon. ‘’Tu lah, baa kamaninggakan karajo. Tapi, pai Jumat pulang Minggu, bisa juo mah,’’ ujar KJ singkat.
Diam-diam KJ memang mengurus rencana keberangkatan itu. Senin (3/10) malam, sambil melaksanakan rutinitas redaksi, KJ mengirim SMS kepada salah seorang temannya di Jakarta dan SMS itu ditembuskannya pada saya. Isi SMS itu; “Pak. Bisa bantu boking dua kamar hotel untuk dua malam, nanti saya bayar. Kami akan bezuk Pak Yonda, Jumat sampai Minggu.”
Tapi, apa hendak dikata. Kita hanya bisa berencana, keputusan ada di tangan Yang Satu. Selasa (4/10), sekitar pukul 10.40 WIB, HP saya berdering dan saya diberitahu oleh salah seorang staf sekretariat redaksi, Pak Yonda telah berpulang ke Rahmatullah, dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Innalillahi wainna ilaihi rojiun!
Beliau meninggal setelah beberapa hari dirawat di RSPAD Gatot Subroto Jakarta karena menderita penyumbatan pembuluh darah di otak dan stroke.
Bagi saya, Pak Yonda adalah sosok yang sangat saya segani. Saat saya baru mulai masuk kerja di Singgalang, 25 tahun silam, beliau menjabat Wakil Pemimpin Umum dan juga Direktur Utama PT Prima Singgalang Estate (PSE).
Dalam memimpin, Pak Yonda memang terbilang tegas. Tidak ada neko-neko. Kalau ada pekerjaan karyawan yang salah, beliau langsung memberikan teguran. Beliau juga sering memberi nasihat pada karyawan untuk bekerja sesuai tupoksi masing-masing.
Dalam setiap rapat internal pun, Pak Yonda tak suka bertele-tele. Langsung-langsung saja ke pokok persoalan. Karena itu pula, sepintas, terkesan agak pemarah, apalagi suaranya memang agak keras kalau bicara. Sesungguhnya, tidaklah pemarah, hatinya sangat baik.
Suatu ketika, saya pernah dipanggilnya. Dengan nada agak tinggi, ia menyuruh saya masuk ke ruangan kerjanya di lantai 2. Waktu itu, jantung ini serasa mau copot. Hilang juga nyali saya dibuatnya.
Menjelang menghadap, saya bertanya-tanya saja pada diri sendiri, ada salah apa saya sampai dipanggil. Namun, apa yang terjadi? Belum 5 menit saya duduk, Pak Yonda langsung memanggil sekretaris Prima Singgalang Estate. ‘’Lin, tolong berikan jatah si Wid,’’ katanya.
Saya yang waktu itu menjabat Sekretaris Redaksi, tidak mengetahui apa-apa, bingung saja. Setelah menerima sebuah amplop, saya langsung disuruh ke lantai 3 untuk kembali bekerja. Tidak ada komentar, tidak pula ada teguran.
Penasaran, lalu amplop itu saya buka. Mana tau, amplop itu berisi surat teguran atau apa. Ternyata, di dalam amplop ada sejumlah uang yang saya sendiri tidak tahu kenapa saya sampai diberi uang.
Usut punya usut, ternyata uang itu adalah ‘uang lelah’. Kebetulan, almarhum yang waktu itu juga menjadi salah seorang anggota DPRD Sumbar, beberapa hari sebelumnya pernah menugaskan saya merapikan ketikan dan menyuruh edit Pandangan Umum yang akan disampaikannya pada sebuah rapat paripurna.
‘’Wid, tolong bung baco pandangan umum ko, lai rancak kiro-kiro kalimaiknya. Bung kan Sekretaris Redaksi. Rapikan sakali ketikannyo dan hilangkan kalimaik-kalimaik nan manuruik bung kurang pado tampeknyo,’’ begitu pesan Pak Yonda.
Selesai mengerjakan ‘tugas khusus’ tersebut, pandangan umum itu pun saya printer. ‘’Iko hurufnyo kurang gadang. Tolong pagadang stek, kurang tampak di mato ambo,’’ kata beliau.
Merasa apa yang saya kerjakan itu sesuai dengan seleranya, sejak itu pula, setiap akan menyampaikan pandangan umum, saya mendapat ‘tugas khusus’ dari Pak Yonda.
Tidak hanya itu, setiap ada surat menyurat, stafnya selalu disuruh berkoordinasi dengan saya. Padahal, ia juga punya sekretaris yang tak kalah hebatnya dari saya.
Dari situ pula saya mengetahui kalau Pak Yonda itu ternyata punya salah satu prinsip; menyerahkan sesuatu itu kepada orang yang dipercayanya. Tidak mau sebuah pekerjaan dilakukan orang yang tidak pada bidangnya.

Memantau
Kemudian, semasa sehat, sesibuk-sibuknya bekerja sebagai anggota dewan dan juga mengurus PT PSE, Pak Yonda sesekali tetap meluangkan waktu untuk memantau pekerjaan orang redaksi di lantai 3 sekaligus memberikan motivasi.
Kerap juga memberikan masukan atau ide-ide menarik untuk diekspose. Jika ada isu terbaru, Pak Yonda dengan cepat memberikan bocoran ke redaksi.
Itu baru segelintir dari sekian banyak kesan yang tak terlupakan bersama Pak Yonda. Jika direntang, banyak lagi kesan yang lain. Apalagi saya juga pernah beberapa kali bergabung dengan komisinya semasa Pak Yonda jadi anggota legislatif pergi kunjungan kerja dalam dan luar provinsi.
Yonda Djabar, sebagian memanggilnya, “Bang”, yang lain, “Bapak”. Teman-teman suka sekali merengek dekat bos yang satu ini.
“Ndeh lah siang ari, pai makan ciek lu,” kata teman di dekat Pak Yonda.
“Lun makan angku lai?” Ia bertanya. Sambil bertanya, ia langsung menyelipkan uang ke saku-saku teman tadi. Pancingan mengena.
Ketika lain: “Lah lamo lo wak ndak basuo jo Pak Yonda,” kelakar seorang wartawan. Pak Yonda tersenyum. Senyum belum usai, uang sudah didapat. Wartawan cigin entah kemana.
“Bagaimana kalian, apa ada yang rusak, luka atau ada yang sakit?” Pak Yonda bertanya seusai gempa 2009.
“Jam tangan Syamsoedarman (repdel-red), hilang Bang,” jawab KJ. Tak ada jam yang hilang, hanya gaya KJ saja. Tiga hari kemudian, Syamsoedarman dipanggil ke rumahnya. Dapat jam rancaklah dia. Sepekan ia tersenyum-senyum saja, tiap sebentar melihat arlojinya.
“Oi lai ka naiak oplah surek kaba dek berita tu? Kok indak, cari nan rancak.” kata Yonda pada suatu rapat redaksi. Ia minta wartawan bekerja hati-hati, tapi jangan takut.
Kini, semua itu hanya tinggal kenangan. Dalam usia 66 tahun, Pak Yonda telah pergi untuk selamanya menghadap Sang Khalik. Selamat jalan Pak Yonda, se moga segala almarhum diterima di sisi-Nya. Amin! (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar