Featured Video

Rabu, 21 September 2011

Susi Penyanyi Hit Minang Dirundung Malang


Jantung Anaknya Bocor, Royalti Lagu tak Ada
CHUN MASIDO dan RAHMAN

Gamang-gamang mimpi manyeso
mulo den babadan duo
kini pisau bamato duo
samo tajam kaduonyo
uda pacik di hulunyo
gamang-gamang si aia mato
den paluak anak ka dado
cameh oi cameh....
***

ni adalah sebait lagu Gamang Diseso Mimpi ciptaan Syahrul Tarun Yusuf yang dengan enak dilantunkan Susi Susanti,35. Lagu hit tahun 2002 itu, terutama tentang “den paluak anak ka dado”, sepertinya kini menikam jantungnya.
Susi sedang malang. Ia peluk anak ke dada. Sang anak sedang sakit berat; kelainan jantung. Ia harus diobati, namun tak ada langit yang akan dipanjat.
Tak ada royalti dan nyaris tak ada pula perhatian ketika derita mendera. Saat butuh uang untuk keperluan berobat, misalnya, dalam jumlah besar, kemana harus mengadu. Minta THR saja sama produser, potong separuhnya nanti bila ada honor dalam kerjasama.
Putra keduanya, M. Fathir, yang Desember nanti genap lima tahun, diketahui sejak berusia tiga bulan mengalami kelainan jantung.
Hati siapa yang tidak akan remuk, mendengar berita anaknya mengalami kelainan jantung. Wanita cantik asal Jorong Kubu Durian, Nagari Kubu Anau, Kecamatan Tanjuang Mutiara, Agam, itu pun lunglai. Dia tidak dapat membayangkan bagaimana nasib anaknya kelak.
“Fathir berusia tiga bulan dan dibawa pergi imunisasi ke Puskesmas. Tapi, beratnya tidak bertambah, tetap saja 3,3 kilogram, sebagaimana beratnya ketika lahir. Ketika itulah, dokter Puskesmas menyarankan untuk dibawa ke dokter spesialis anak,” kata Susi pada Singgalang di Bukittinggi, Selasa (20/9)
Oleh dr. Rahmi Yetti, Sp.A., yang berpraktik di kawasan Tembok, Bukittinggi, didiagnosis. Menurut dokter tersebut, ada kelainan jantung Fathir. Karena khawatir dengan kondisi anaknya, Susi bersama suaminya, Jimmy, membawa Fathir ke Rumah Sakit Harapan Kita Jakarta, untuk pemeriksaan lebih intensif lagi.
Hasilnya positif, Fathir mengalami kelainan jantung. Ketika itu, Fathir baru berusia beberapa bulan, dan untuk pelaksanaan operasi jantungnya dibutuhkan biaya sekitar Rp100 juta. Panik, karena tak punya uang sebanyak itu, akhirnya Fathir dibawa lagi pulang.
“Meski sudah tujuh album yang beredar dari lantunan suara Susi, toh itu tidak menjamin dia memperoleh penghasilan berlebih. Setiap rekaman Susi hanya mendapat kontrak, dan tidak termasuk royalti, atau fee penjualan rekaman,” kata Susi, dengan wajah sendu, dan terasa lebih sendu dari lagu “Gamang Diseso Mimpi” yang dilantunkannya.
Sejak beberapa tahun belakangan ini, Susi tak lagi memperoleh kontrak rekaman. Praktis hanya mengandalkan undangan menyanyi. Itu pun tak rutin. Biasanya, orang kenduri pernikahan anaknya yang punya gawe mengundangnya. Honornya sekali tampil berkisar Rp500.000 sampai Rp1,5 juta.
“Paling banyak dua kali dalam sebulan. Itulah penyambung hidup keluarga kami, di samping honor Jimmy yang jadi keyboard orgen di The Hill Hotel, sebesar Rp1,5 juta per bulan. Rumah saja yang terletak di Komplek Perumahan Singgalang Kubang Putiah, Sungaipua, Agam, sampai kini belum lagi lunas,” tambah Susi lagi.
Beban Susi kian berat, karena Fathir harus makan obat. Sekali tebus di apotek Rp700.000, untuk 10 hari makan. Namun sejak setahun belakangan ini, Fathir tak lagi makan obat. Susi mengaku tak makan obatnya anak keduanya itu, karena memang tidak ada uang lagi untuk penebus obat. Tapi, kian hari penyakit yang diderita Fathir kian berat. Bila pada pemeriksaan pertama bocornya katup jantung Fathir 0,5 sentimeter, kini sudah menjadi 1,5 sentimeter.
Akibatnya, Fathir terlihat makin cepat lelah. Sebentar saja bermain dengan kakaknya sudah ngos-ngosan. Bila sudah demikian, dia tertidur saja. Soal daya tangkapnya, sebagai anak seusianya cukup baik. Hanya saja pertumbuhan tubuhnya tidak normal. Dalam usianya yang kini hampir lima tahun, Fathir hanya mempunyai berat 11 kilogram dan tinggi 94 sentimeter.
Itulah malangnya jadi artis Minang. Bila tak ada order rekaman, tak ada uang. Untuk mengobati anak saja kelabakan, dan bahkan tidak tahu jalan. Sebutlah contoh, artis Minang, yang nyaris merana di hati tuanya.
Syamsi Hasan, siapa tak kenal dengan penyanyi dan pelawak itu, begitu juga dengan Zalmon si “Kasiak Tujuah Muaro,” dan kini Andre (Ajo) yang tengah bergulat dengan penyakit strokenya.
Tapi, Susi tetap tabah. Di rumahnya yang berukuran 9 kali 6 meter di komplek itu juga tidak banyak peralatan yang bisa dilego. Sebuah televisi ukuran sedang dan sebuah kulkas, yang tidak mencerminkan sedikit pun bahwa Susi adalah seorang artis, yang suaranya didengar mendayu-dayu. Wajahnya yang keibuan, membuat Susi juga tidak banyak ulah.
Ketika Fathir yang dibawanya ke Perwakilan Singgalang di Bukittinggi, meronta minta pulang, Susi tampak dengan tabah menghadapinya. Bahkan Fathir pun melayangkan tangannya ke perut wanita cantik itu. Namun Susi dengan lemah lembut membelainya, menciumnya.
“Inilah kalau dia lagi rewel, sulit sekali menenangkannya. Saya maklum, dia tengah mengidap penyakit. Tidak mungkin saya kasari, apalagi memarahinya. Saya takut penyakitnya akan kian cepat melebar,” gumam Susi, di sela-sela air matanya yang menetes.
Kendati dia mencoba memperlihatkan ketabahannya, namun di wajahnya terbersit keletihan. Susi pun mengaku bahwa dia bersedia saja membanting tulang. Atau kerja setiap hari. Tapi, itu tidak mungkin, karena tidak ada yang punya gawe. Yang dia tahu, hanya uang untuk biaya berobat anak kesayangannya itu. (*)