Featured Video

Senin, 07 November 2011

Korban Banjir Pessel Mengamuk-pessel


PENANGANAN BELUM MAKSIMAL
Diduga karena belum maksimalnya penanganan pascabencana oleh instansi terkait, membuat warga korban banjir di Pessel tidak puas. Mereka mengamuk dan menyerang dapur umum.

PADANG,  Masya­rakat korban bencana banjir bandang di Pesisir Selatan menga­muk Sabtu (5/11). Mereka menye­berang dan merusak tenda serta dapur umum milik organisasi dan lembaga yang mendirikan posko di sekitar lokasi bencana, Pasir Putih, Kambang.

Mereka merasa diabaikan. Organisasi kemanusian dan peme­rintah daerah dinilai tidak bekerja menyalurkan bantuan, dan mem­biarkan bantuan menumpuk di bagian seberang arah ke Padang. Sedangkan mereka yang berada di seberang arah ke selatan, sangat membutuhkannya.
Sementara, bantuan yang menumpuk itu, diterangai penya­lurannya tidak dikoordinasikan dengan Posko Bencana Pemkab Pessel, sehingga  tidak ada yang mengurusnya. Pemberi bantuan ingin menyerahkan langsung bantuan tersebut kepada korban bencana.
Kepala Markas PMI Sumbar, Hidayatul Irwan yang dihubungi Haluan, Minggu (6/11), membe­narkan peristiwa itu. Seluruh orga­nisasi dan lembaga termasuk peme­rintah daerah yang mendirikan posko di lokasi bencana, mendapat keca­man dari masyarakat setempat. Tenda posko dan dapur umum diobrak abrik.
“Masyarakat yang berada di seberang sana mengamuk kemarin, mereka merasa diabaikan karena bantuan tidak juga didistribusikan. Mereka melihat banyak bantuan menumpuk diseberang. Tetapi kita bisa memaklumi tindakan masya­rakat tersebut,” kata Hidayatul.
Karena tidak ada yang harus dikhawatirkan, maka PMI Sumbar menerjunkan kembali Tim Medis yang terdiri dari 2 dokter, 4 perawat, 15 relawan serta 2 unit ambulan ini ke lokasi bencana. Mereka siap membantu masyarakat yang mem­butuhkan layanan kesehatan.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sumbar, Ade Edwar yang dihubungi terpisah membenarkan adanya keributan dari masyarakat yang berada di seberang. Mereka melihat bantuan ditumpuk begitu saja seakan tidak dibutuhkan, semen­tara mereka sangat membutuhkan. Mereka menilai pemerintah tidak peduli dengan nasib mereka.
Namun bantuan yang menumpuk ini berada di luar kendali Posko Pemkab Pessel, sebab tidak dikoor­dinasikan sebelumnya. Bantuan tersebut berasal dari sumbangan berbagai pihak yang disampaikan langsung kepada masyarakat korban bencana.
Tetapi ketika bantuan telah sampai di lokasi, mereka kebi­ngungan untuk mendistribusikannya. Medan yang sulit menyebabkan bantuan tak dapat langsung didis­tribusikan, karena harus diangkut dengan perahu dan kemudian diangkut lagi dengan mobil bak terbuka atau sepeda motor. “Ak­hirnya bantuan ditumpuk saja di tempatnya. Masyarakat yang berada di seberangnya tentu melihat bantuan ini. Mereka marah-marah, kenapa tidak didistribusikan, mereka sangat membutuhkannya,” terang Ade.
Pihaknya mengharapkan, agar para donatur dapat berkoordinasi dengan Pemkab Pessel atau posko bantuan kebencanaan dalam menya­lurkan bantuan. Posko akan menge­lolanya dan segera menyalurkannya pada korban bencana. Di posko juga terdapat petugas yang siap diturunkan ke titik-titik lokasi yang tersebar.
Distribusi bantuan ini memang tidak mudah dilakukan, karena banyaknya lautan-lautan mini di sekitarnya. Bahkan distribusi bantuan untuk daerah terisolir akan dilaku­kan dengan helikopter. Karena medan yang sulit dan cuaca yang tidak bersahabat, 1 unit helikopter pengangkut bantuan terpaksa men­darat darurat di Air Haji.
Sudah maksimal
Kepala BPBD Sumbar Harmen­syah mengaku mengaku belum mengetahui adanya penolakan masyarakat terhadap lembaga-lembaga kemanusiaan yang mendi­rikan posko di Pessel. Sebab, komando penanganan bencana di Pesisir Selatan berada di tangan Pemkab Pesisir Selatan. Pemprov Sumbar hanya memfasilitasi bantuan untuk korban dan seluruh informasi bagi penanganan tanggap bencana.
Namun pada dasarnya, seluruh organisasi kemanusiaan yang mener­junkan relawannya ke lokasi bencana telah bekerja optimal sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP). Proses pencairan korban yang hanyut telah dilakukan sejak hari pertama masa tanggap darurat.
“Kita belum dapat kabar kalau ada relawan yang ditolak masyarakat. Tetapi saya kira, tim relawan ini telah bekerja optimal, mungkin hasilnya yang belum maksimal karena masih ada korban yang belum ditemukan. Hal itu disebabkan karena terkendala cuaca yang buruk. Mereka bekerja tentunya menurut SOP yang ada,” terang Harmensyah.
Kemarin, Menko Kesra Agung Laksono dan Wakil Gubernur Muslim Kasim meninjau kawasan bencana di Pesisir Selatan itu. Pada kesempatan itu, Menko Kesra menyerahkan bantuan sebesar Rp 0,5 miliar untuk penanganan tanggap darurat. Ia juga berjanji mendorong Kementerian Pekerjaan Umum untuk melakukan langkah agar daerah-daerah yang terisolasi akibat rusaknya infrastruktur jalan karena banjir dapat segera dibebaskan.
Hal ini untuk mencegah terja­dinya kemandekan perekonomian akibat terisolasinya suatu daerah dikarenakan terputusnya jaringan, kata menteri menambahkan. Ia juga meminta pemerintah setempat segera menyiapkan langkah untuk mema­suki tahap rehabilitasi dan rekons­truksi. (h/adk/aci/vie/har/mjn)(haluan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar