Featured Video

Selasa, 06 November 2012

RONGGENG PASBAR KE DAPUR REKAMAN

Ditulis oleh Teguh 



sakapua siriah paulam pinang
duduk ta saji untuk hidangan
dek group ronggeng alah datang
khilaf jo salah mohon di maafkan.
tinggi manjulang gunuang talamau
tabang maraok ayam denak
dari kesenian group ronggeng lembah talamau, maaf diminta banyak-banyak. 

Bait-bait pantun diatas tak pernah lupa dilantunkan dengan suara nyanyain khas pada setiap ada pagelaran ronggeng. Gesekan pilu biola diringi dendang, gendang dan tarian anak ronggeng, memecah kesunyian, membelah gulita malam, menyeruak dinginnya hawa. Ronggeng berdendang hingga pagi.
Kesenian ronggeng adalah kesenian tradisional asli asal Kabupaten Pasaman Barat yang tidak dimiliki daerah lain di Provinsi Sumatera Barat. Ronggeng sudah ada sejak Pasaman Barat masih dirintis untuk dihuni ratusan tahun yang lalu. Tak jelas siapa yang membawanya. Namun menurut sejarahnya, ronggeng berasal dari orang yang menaruh perhatian seperti rindu, sakit hati, dendam kepada seseorang. Kemudian ia mencurahkannya dengan irama yang tersusun begitu saja, sesuai dengan kondisi suasana hatinya saat itu.
Pada saat H Baharuddin R dilantik sebagai Bupati Pasaman Barat, marwah kesenian ronggeng dia angkat ke jenjang yang leih tinggi. Ronggeng diperkenalkan ke tengah-tengah masyarakat Pasbar sebagai aset daerah yang harus dilestarikan. Bahkan ronggeng dijadikan ikon dan dibawa hingga ke kancah nasional. Menjadi ke­banggaan dan ciri khas yang dimiliki Pasaman Barat.
Ronggeng yang dulu diden­dangkan dari pinggir kampung ke pinggir kampung, mulai merambah ke tengah perkotaan. Bahkan ronggeng Pasaman Barat oleh Bupati Baharuddin R dibawa ke dapur rekaman. Kesenian ini ditampilkan pada iven-iven besar daerah dan dibawa untuk menggelar pertunjukan ke mana-mana.
Dengan sendirinya, marwah kesenian ronggeng jadi bergengsi. Ronggeng dikenal dan sudah sering pula diputar oleh sang pencintanya. Anak ronggeng yang dulu didominasi generasi tua, kini mulai digandrungi anak-anak muda.
Kata ronggeng bukanlah suatu kata singkatan, melainkan istilah untuk seseorang penyanyi atau penari pria yang berpakaian wanita. Seperti bergaun wanita, memakai anting, gelang, sanggul  dan berdada yang dibuat seperi wanita. Dia bernyanyi sambil menari, diringi alat musik sederhana biola, gen­dang dan botol. Nyanyiannya seperti pantun, yang konon tidak pernah tercatat atau dihapalkan. Bait-bait nyanyian itu mengalir begitu saja saat anak ronggeng tampil.
Sehingga jarang ditemui, anak ronggeng akan melantunkan nya­nyian yang sama pada setia pantun ia yang ia sampaikan dalam nyanyian. Biasanya, anak ronggeng akan saling berbalas pantun dengan rekannya. Makanya, setiap tampil anak ronggeng selalu berpasangan. Tujuannya untuk saling berbalas pantun dalam nyanyian. Itulah anak ronggeng yang keseniannya menjadi aset besar Pasaman Barat. Ronggeng merupakan seni suara, tari dalam musik  yang digab­ung­kan menjadi satu sehingga berbuah pantun yang berbalas antara penyanyi dengan yang lainnya.
Pada awalnya ronggeng dilaku­kan sendiri-sendiri tanpa alat musik di tempat yang sunyi. Seperti di ladang, hutan atau tepi sungai. Lambat laun ada yang mengir­ingi­nya dengan suling bambu.
Makanya ronggeng banyak dige­mari oleh masyarakat yang berada di daerah pinggiran Kabupaten Pasaman Barat yang mayoritas masyarakatnya petani atau nelayan. Di tengah kota, ronggeng biasanya kurang di sukai masyarakat. Apa­lagi kesenian ini kini makin tergilas dengan modernisasi.
Kendati demikian, ronggeng adalah kesenian tradisional Pa­saman Barat yang tidak dimiliki daerah lain. Kultur dan budaya Pasaman Barat melekat pada ronggeng itu sendiri. Dan ronggeng menjadi kekayaan terbesar Pasa­man Barat.
Saat ini ronggeng telah bisa mengikuti dunia musik modern. Alat-alatnya telah dilengkapi dengan peralatan seperti biola, gendang, dan sejumlah alat pendu­kung lainnya. Bahkan ronggeng Pasaman Barat sudah menge­luarkan album dan tampil di beberapa ajang festival daerah mulai dari tingkat kabupaten hingga ke tingkat nasional.
Dalam kesenian ronggeng, pan­tun-pantun dinyanyikan dalam bermacam-macam irama. Saat ini, menurut penulis ada sekitar 80 jenis irama dalam ronggeng. Dian­taranya dangdut seperti anak dagang, parak pisang, durian kadam. Kemudian irama pop seperti, durian tinggi, talak tigo, tali ampek. Tapi secara umum, pantun dan lagu dalam ronggeng semuanya menyam­paikan pesan dan ratapan. Pantun-pantun dalam ronggeng juga membe­rikan nasihat, sindiran dan permo­honan kepada pendengar atau penonton.
Setiap judul dan irama dalam nyanian ronggeng mempunyai suatu kronologis yang dialami penciptanya. Makanya nyanyian ronggeng lebih sering tanpa dihapal bait-bait syairnya, tapi mengalir begitu saja dari mulut sang penyanyi.
Beberapa bait-bait ronggeng yang sering dilantunkan anak ronggeng seperti:,
lagu banamo anak dagang
karangan anak di nagari
kalalatu baraja tabang
kapak sentiang tabang nak tinggi
Adiak bajagung dihalaman
Ambo bakacang tapi rimbo
Adiak bakampuang bahalaman
Tengganglah dagang dan baru tibo
Kalau anak pai kalapau
iyu bali balanak boli
ikan panjang boli daulu
kok pai anak karantau
ibu cari dunsanak cari
induak samang cari daulu.
Yang menariknya, ronggeng juga bisa dikombinasikan dengan atrak­si-atraksi berbahaya seperti debus duri salak, pecahan beling, pisau yang dimainkan anak ronggeng itu. ***
Oleh: Masrol Dt. Batuah, Ketua Group Ronggeng Lembah Talamau, Kepala Jorong Timbo Abu

sumber


Tidak ada komentar:

Posting Komentar