Featured Video

Senin, 03 Oktober 2011

Padang Malam Hari (2) Wanita Cantik di Mobil Rental


Kali ini, praktik prostitusi dengan
menggunakan mobil pribadi atau rental.
Sulit dideteksi, tapi bisa ditemukan, jika jeli.
Hampir tidak pernah terdengar selama ini, ada bisnis ‘lendir’ yang dijajakan secara keliling dan menggunakan mobil pribadi.
Usut punya usut, dari informasi yang dihimpun, bisnis ini mulai marak sejak Sat Pol PP sering melakukan razia di kawasan Jalan Diponegoro. Sekaligus ingin menaikkan derajat wanita malam yang siap melayani lelaki hidung belang di Padang.


Kali ini, praktik prostitusi dengan
menggunakan mobil pribadi atau rental.
Sulit dideteksi, tapi bisa ditemukan, jika jeli.
Hampir tidak pernah terdengar selama ini, ada bisnis ‘lendir’ yang dijajakan secara keliling dan menggunakan mobil pribadi.
Usut punya usut, dari informasi yang dihimpun, bisnis ini mulai marak sejak Sat Pol PP sering melakukan razia di kawasan Jalan Diponegoro. Sekaligus ingin menaikkan derajat wanita malam yang siap melayani lelaki hidung belang di Padang.
“Bisnis ini cukup menggiurkan, karena sulit terdeteksi dan terkesan lebih mewah,” ujar salah seorang sumber.
Setiap malam, tatkala Padang masih sibuk, beberapa orang wanita penghibur dibawa dengan mobil dan diajak keliling mencari pelanggan. Bermula dari Jalan Diponegoro, setelah itu menelusuri jalan-jalan lainnya. Usaha untuk mengetahui seperti apa kehidupan wanita di balik mobil-mobil pribadi itu akhirnya tercapai, setelah Singgalang mendapat kesempatan kenalan dengan salah seorang dari mereka melalui perantara seorang teman.
Kali ini agak berbeda. Seorang yang mengaku mahasiswi, Meli (nama samaran). Ia mengenal kehidupan malam ketika masih duduk di SMA di salah satu sekolah swasta di Padang.
Ia mengakui waktu sekolah teman-teman pergaulannya adalah anak-anak borju. Mulai anak pengusaha hingga anak pejabat. Tidak itu saja, harta kedua orangtuanya yang begitu melimpah ternyata tidak memberi berkah buatnya, semuanya dihabiskan begitu saja di jalan yang tidak benar.
Kini, ia hanya bisa menangis dan hanya itu yang ia bisa lakukan setelah segala yang dulu ia punyai telah habis. “Kami semua begitu mendewakan kebebasan dan kesenangan. Kehidupan kami begitu bebas nyaris tanpa batas,” ujar wanita bertubuh mungil itu.
Meli pun menceritakan kembali, selama ini ia banyak berkenalan dengan komunitas dunia malam. “Aku anak keempat dari bersaudara. Aku satu-satunya anak perempuan dalam keluargaku. Tak heran kalau papa dan mama begitu memanjakanku dengan harta, hampir semua permintaanku dipenuhi bahkan tak ada larangan bagiku untuk menikmati kehidupan yang serba bebas,” katanya.
Ia pun menikmati kehidupan malam itu, hingga enjoy di lantai disko, menikmati narkoba. Huru-haranya kehidupan kota yang glamor adalah gambaran dari kisah hidupnya selama ini.
Naik kelas dua SMA, ia makin sulit terkendali. Orangtuanya yang sibuk dengan usahanya dan kepentingan sendiri, membuat dirinya bertambah berantakan. Sebenarnya, sebagai remaja ia juga mulai menyadari betapa yang dijalani ini adalah sesuatu yang tak berguna sama sekali. Namun, ia tidak bisa lepas karena tak ada figur dalam keluarganya yang bisa dijadikan teladan untuk menyadarkannya. Akhirnya, tiga tahun di SMA, tiga tahun pula ia tak pernah tersirami oleh petuah-petuah agama.
Seks bebas dan drugs
Kemudian ia kuliah di salah satu universitas swasta di kota ini. Setiap langkah hanya selalu teriring oleh hiruk pikuk kehidupan malam. Narkoba sudah menjadi konsumsi sehari-hari. Bahkan di usia yang mulai beranjak dewasa, ia tak mampu mempertahankan keperawanannya. “Teman dekatku merenggut semuanya,” ujarnya lirih.
Itupun belum juga disadari betapa segalanya telah hancur. ia tetap enjoy dan malah hubungan seperti itu bukan lagi sesuatu yang tabu bagi dirinya.
Bukan hanya teman dekatnya yang mengisi malamnya. Lelaki yang dianggap layak menemani tidur, juga bisa menikmati tubuh dirinya. Tak masalah bagi dirinya, tak perlu takut hamil, karena setiap kali berhubungan, selalu siap dengan segala macam penangkal kehamilan.
Begitulah hari-harinya yang ia jalani serta ketergantungan drugs dan seks bebas. Sampai tidak ada lagi harta yang akan dihabisi ia pun mulai menjajakan molek tubuhnya ke jalanan.
“Saat itu uang saya telah habis, dan harta di rumah pun habis oleh perbuatan saya. Saya pun mencoba turun ke jalanan. Salah seorang temanku juga mengajakku untuk mencari uang dengan cara yang tidak aku inginkan ini,” ujarnya.
Pertama kali ia menjajakan tubuhnya kepada salah seorang laki-laki yang dipanggilnya ‘Om’ di jalan. “Kami sehari-harinya mengendarai kendaraan pribadi. Kalau pun tidak ada kendaraan, teman kami pun merental mobil untuk berkeliling Padang mencari hidung belang,” katanya lagi.
Begitu seterusnya, sampai ia meninggalkan rumah dan hidup sendiri. Kalau pagi ia pun seperti wanita sebayanya yang pergi ke kampus untuk kuliah.
Hari ke hari semua orang di kampusnya tahu apa profesinya. Bahkan ada salah seorang dosennya meminta melayani dirinya dengan syarat tidak dikeluarkan dari kampus. “Saya sakit hati dengan perilaku seorang dosen terhadap saya. Ia mengancam saya untuk dikeluarkan dari kampus, tapi bisa diganti dengan cara melayani dirinya dan saya pun tidak jadi dikeluarkan dari kampus,” katanya.
Ia menjalani kehidupannya itu, walaupun semua orang sudah tahu apa profesinya. Sebenarnya ia tidak ingin melakukan semua ini, tapi bagaimana lagi. Semua dilakukan demi untuk bisa hidup dan memenuhi kebutuhannya.
Saat ditanya Singgalang, berapa ia mendapatkan hasil dari pekerjaannya itu, ia pun menjawabnya apabila konsumen rame bisa mendapatkan Rp1 juta hingga Rp2 juta.
Pendapatan itu nanti dibagi untuk pembayaran mobil rental, sopir dan bensin. Ia hanya bisa membawa uang Rp1 juta.
Konsumen mereka, adalah para pekerja muda yang lelah bekerja sepanjang siang. Tapi juga suami orang lain.
Jika ada konsumen, ‘segala sesuatunya’ tidak dilakukan di mobil, melainkan di hotel. Sering konsumen pertama, 15 hari kemudian, akan datang lagi. Begitu seterusnya. Sementara itu, konsumen lain terus berdatangan. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar