Featured Video

Sabtu, 05 November 2011

Korban Banjir Pessel Terancam Kelaparan


SUPLAI MAKANAN TERHAMBAT
Setelah rumah mereka terendam dan rusak akibat banjir, kini para korban dan masyarakat lainnya di Pesisir Selatan terancam kelaparan. Meski bantuan sudah mulai berdatangan, namun terhambat karena jalan putus.

PAINAN, Korban banjir dan masyarakat lainnya di Pesisir Selatan terancam kelaparan pascabanjir bandang. Soalnya, selain telah merusak lahan perekonomian warga, suplai bahan makanan  ter­hambat akibat kendaraan tidak bisa masuk ke kawasan bagian selatan daerah itu.
Kecamatan yang teancam kelaparan itu adalah Lengayang, Ranah Pesisir, Linggo Sari Baganti, Pancung Soal, Tapan hingga Lunang Silaut. Mema­suki hari kedua pasca banjir bandang, truk pengankut sem­bako tertahan sebelum lokasi jalan putus.
Berdasarkan pantauan Ha­luan hari Jumat (4/11), sejum­lah harga kebutuhan pokok mulai meroket termasuk BBM. Bahkan di Sungai Tunu Keca­matan Ranah Pesisir, korban banjir bandang sudah menahan tidak makan semenjak banjir me­landa.
Harga beras, sudah mencapai Rp15.000 per gantang di beberapa kecamatan. Sementara minyak tanah di Kambang, Balai Selasa dan Air Haji terpantau dijual pedagang seharga Rp8.000 hingga Rp9.000 per liter. Sementara BBM sudah langka semenjak hari pertama banjir.
Di beberapa tempat, untuk bertahan hidup, korban banjir mengkonsumsi mie instan. “Akibat tingginya air di pemukiman warga, menyebabkan harta benda, termasuk bahan makan tidak bisa diselam­takan. Bahkan di sini ketinggian air mencapai lima meter,” ujar Ison (45), warga Sungai Tunu.
Menurutnya, warga korban banjir di Sungai Tunu hingga hari kedua tidak bisa melakukan aktivitas perekonomian. Sawah yang siap untuk dipanen sudah habis dihondoh banjir. Disekeliling Nagari Sungai Tunu, yang terlihat hanyalah lumpur tebal.
“Kami baru bisa makan untuk pengganjal perut pada hari Kamis sore, itu pun hanya dengan mie instan, bukan nasi,” katanya.
Sementara warga Rantau Simale­nang, Air Haji, hingga kini juga masih mengonsumsi mie instan, karena beras dan persediaan maka­nan disana juga telah habis disapu banjir. Warga korban banjir disini, untuk sementara masih banyak yang menumpang dirumah warga atau tetangga yang terbilang aman.
Tanpa Penerangan
Di Posko bencana alam Pasir Putih Kambang, korban banjir tidak memiliki penerangan yang repre­sentatif, misalnya diesel atau listrik. Soalnya, semenjak kejadian banjir, tiang listrik di kawasan itu banyak yang tumbang, sehingga tidak dialiri listrik. “Kami disini butuh penera­ngan untuk melakukan aktifitas di malam hari. Yah paling tidak untuk urusan di pengungsian. Tidak adanya penerangan menyebabkan kami kesulitan untuk melakukan hal hal penting,” kata Can (60), korban banjir bandang.
Disebutkannya, malam pertama, mereka hanya menggunakan lilin dan lampu minyak Sekarang minyak tanah sudah langka di pasaran. Untuk itu, para korban banjir meminta ke pemerintah segera memulihkan penerangan. Pantauan Haluan, di Lengayang hingga Jumat malam, lampu PLN belum nyala.
Terancam Diserang Penyakit
Di Kambang, selain tidak ada lampu, tempat tinggal yang tidak representatif menyebabkan warga rentan terserang penyakit. Kini warga korban banjir belum memiliki tempat tinggal yang layak, bahkan diantara mereka ada yang masih menumpang diteras rumah warga.
Jumlah warga Pasir Putih Kam­bang yang butuh segera tempat tinggal sekitar 120 KK. Data dari Posko, 21 rumah hancur, 57 rusak berat dan sebagian rusak ringan.
Dirikan Posko
Tim Relawan Rumah Zakat Padang mendirikan dua posko untuk penanggu­langan bencana banjir di Pasir Putih Kambang Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) dan memberikan beberapa bantuan kepada korban banjir yang tinggal di tempat pengungsian, Jumat (4/11).
Menurut koordinator Tim Siaga Bencana Nurmansyah, bantuan yang disalurkan itu berupa susu, biskuit, kornet Superqurban sebanyak 900 kaleng,obat-obatan, selimut, pembalut wanita, dan pakaian. Sedangkan di posko kedua dijadikan dapur umum yang menyediakan kebutuhan kor­ban. Tim ini juga menyalurkan kebutuhan lainnya, seperti tenda dan selimut.
“Daerah Pasir Putih Kambang  telah kami survey sebelumnya, dan daerah ini belum tersentuh bantuan, karena akses ke lokasi terputus akibat dahsyatnya banjir bandang melanda kawasan ini. Rencananya kami akan bertugas selama tiga hari, tetapi bisa lebih, tergantung perkembangannya nanti,” ujar Nurmansyah.
Tim Relawan Rumah Zakat ini kami bagi dua kelompok, yang pertama sebagai tim pionir yang kebetulan orangnya berdomisili dekat dengan lokasi banjir, yang bertugas mengumpulkan semua kebutuhan korban. Sedangkan kelompok kedua bertugas menyalurkan bantuan. Kegiatan ini dilaksanakan sejak Kamis, 3 November 2011 lalu.
Sementara itu, Koordinator Tim Pionir Relawan Rumah Zakat, Rika Mandasari mengatakan, saat ini korban tewas berjumlah empat orang, tiga diantaranya merupakan warga Kecamatan Lengayang, yakni Isnai­darni (40), Naisya (8), Santia (22).
Sementara, satu korban tewas lainnya berasal dari Kecamatan Ranah, Dusun Padang Laban, namun belum diketahui identitasnya. “Kami telah berkoordinasi dengan BPBD untuk mendata jumlah korban dan kerusakan. Saat ini ada sekitar 52.123 warga korban banjir yang mengungsi di enam Kecamatan Kabupaten Pessel. Saat ini, berbagai Tim SAR masih melakukan evakuasi korban di masing-masing kecamatan,” ujar Rika.
Wagub Bantu
Wakil Gubernur Sumatera Barat Muslim Kasim kemarin datang ke lokasi menyerahkan bantuan dana Rp50 juta, 5 ton beras, 900 kaleng sarden, family kits 120 buah, tikar 300 lembar, selimut 125 lembar, Peralatan dapur 100 paket, Kids Ware 120 paket, juga menyampaikan pesan Ketua BNPB Pusat Syamsul Muarif yang turut berduka dan mememberikan bantuan Rp500 juta untuk penanggulangan bencana banjir di Pessel.
Sementara Ketua DPRD Ir. Yulteknil juga menyerahkan bantuan uang tunai sebesar Rp50 juta dan ditambah beberapa anggota DPRD dapil 2 sebesar Rp10 juta.
Selanjutnya rombongan melaku­kan peninjauan kelokasi bencana di Pasir Putih Kambang Barat dan Kecamatan Lengayang. Ikut hadir dalam kesempatan itu Kepala BPBD Sumbar Ir. Hermensyah, Kepala Biro Bina Sosial Abdul Gafar, SE,MM, beberapa anggota DPRD dapil 2, dan beberapa SKPD di lingkungan Pemkab Pesisir Selatan.
Bupati Pessel Nasrul Abit menyampaikan, lokasi yang terkena dampak bencana banjir terdapat pada 7 kecamatan, dengan ketinggian genangan air antara 0,5 – 1.5 meter. Jumlah pengungsi 52.315 jiwa. Korban 6 orang hanyut (hilang) dan baru 3 orang korban meninggal di Lengayang, sementara yang lain masih dalam pencarian.
Hingga saat ini masih ada 4 titik lokasi yang terisolasi yakni, Silaut V, VI, Base Camp. PT Incasi Raya dan Lunang III. Dan saat ini 18.000 siswa yang belum bisa mengikuti proses belajar mengajar, karena sekolahnya terendam lumpur setinggi 40 cm.
Kerugian sementara lebih kurang 99,6 Milar, yang terdiri dari jalan negera 750 meter terban, jalan kabupaten 3000 meter, Irigasi 23 unit, Sekolah 27 unit terendam, rusak berat 9 unit, rumah masyarakat yang terkena 10.219 unit, rumah ibadah terendam 43 unit, rusak berat 24 unit, Jalan kampong/usaha tani 1250 meter, jembatan 6 buah.(h/har/wan)(haluan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar