Featured Video

Sabtu, 05 November 2011

‘Istana’ Nelayan itu Hancur Sudah



Banjir adalah nestapa. Sebentar saja, semua habis. Beberapa rumah nelayan yang dibangun bata demi bata selama berbilang tahun, remuk. Rumahku adalah istanaku, bagai istana pasir yang megah. Disapu air, lenyap nyaris tak berbekas.
Rumah yang dibangun dengan cucuran keringat dari hasil melaut bertahun-tahun, telah luluhlantak. “Istana” kecil itu dihondoh banjir bandang yang datang bersamaan dengan gelombang pasang air laut, Rabu dinihari.
Derita itu dialami tiga korban banjir masing-masing Novi, 35, Siad, 48 dan Emi, 60 warga Kampung Pasir Putih Kambang, Nagari Kambang Barat, Kecamatan Lengayang, Pessel.
Saat Singgalang menyambangi mereka, Jumat (4/11), wajah duka masih terlihat jelas. Betapa tidak, selain kehilangan tempat tinggal, barang-barang rumah tangga juga lenyap ditelan banjir. Yang tertinggal hanya pakaian melekat di badan.
“Kami tak menyangka bencana ini datang sangat cepat yang memberikan dampak cukup besar bagi warga. Awalnya, hujan turun cukup deras sejak sore Rabu hingga Kamis dinihari. Sekitar pukul 03.30 WIB, terdengar suara gemuruh yang terasah aneh. Biasanya, kami mendengar gemuruh dari arah laut, tetapi datangnya malah dari arah hulu. Tanpa pikir panjang, kami menyelamatkan diri ke luar rumah dan mencari tempat aman. Ternyata, suara gemuruh itu, air bah yang langsung meluluhlantakan rumah kami,” tutur, Novi.
Menurutnya, dalam sekejap ketiga rumah yang berada di pinggir jalan nasional Padang - Bengkulu itu lenyap dibawa arus banjir ke laut. Tak ada yang tersisa. Bahkan isi rumah ikut lenyap. Yang tinggal hanya baju melekat di badan.
“Saya hanya seorang nelayan kecil. Namun memiliki keinganan yang kuat membangun rumah sederhana untuk anak dan istri. Bertahun-tahun saya mengumpulkan uang untuk membangun rumah secara berangsur-angsur. Tapi, Tuhan berkehendak lain, baru 1 tahun ditempati, rumah itu hancur diterjang banjir dan gelombang pasang,” tuturnya.
Ayah dua anak ini mengaku, ia bersama anak dan istrinya terpaksa mengungsi ke rumah saudaranya yang tak jauh dari lokasi kejadian. Tiga hari belakangan, Novi tak berani melaut, lantaran gelombang masih tinggi. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, hanya menunggu uluran tangan dari para dermawan.
Sejauh ini, bantuan yang baru diterima berupa beras sebanyak 10 kg dan beberapa buah mie instan dari pemerintah. “Saya memang berharap agar pemerintah bisa membangun rumah kembali. Karena, rasanya saya tidak sanggup lagi membangun rumah. Kalau di lokasi semula tidak memungkinkan lagi, karena telah menjadi aliran sungai,” kata dia.
Hal senada dikemukakan, Siad dan Emi juga korban yang rumahnya hancur terseret arus di Pantai Pasir Putih Kambang.
“Kami kini terpaksa menumpang di rumah tetangga. Entah sampai kapan. Kalau ada niat baik dari pemerintah, tolonglah kami membangun rumah kembali. Kami warga kurang mampu yang tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk membangun rumah lagi. Memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja amat sulit,” lirihnya.
(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar