Featured Video

Minggu, 30 Oktober 2011

Ketika Mewahnya F1 Berjumpa Kemiskinan India



Driver F1 Nico Rosberg (Reuters)
Jakarta - F1 dapat dikategorikan sebagai olahraga nan mewah. Maka begitu kontrasnya situasi ketika 'Jet Darat' menyambangi India, negara yang penduduknya masih banyak berada di bawah garis kemiskinan.



Menurut data Bank Dunia tahun 2005 silam, sekitar 41,6% dari total penduduk India masih berada di bawah garis kemiskinan internasional--mendapat kurang dari 1,5 dolar AS (sekitar Rp 13 ribu) per hari.

Fakta ini sulit tersamarkan oleh hingar-bingar dan gemebyar gelaran F1 perdana di sirkuit Buddh di Uttar Pradesh pada akhir pekan ini. Simak penuturan Jenson Button, driver McLaren, yang hobi mengoleksi mobil dan salah satu koleksinya adalah sebuah Bugatti Veyron seharga 2,7 juta dolar AS.

"Anda tak bisa melupakan kemiskinan di India. Sulit datang ke sini untuk kali pertama, Anda sadar ada kesenjangan besar antara orang berada dan orang tak punya," akunya seperti dikutip Sport24.

"Semoga balapan di sini akan membantu semua orang. Bagus melihat balapan ini menyerap banyak tenaga kerja dan semoga itu membantu mereka dalam hal membuat hidupnya menjadi lebih baik," lanjut si pria Inggris.

Jalannya balapan yang menjadi seri ke-17 musim ini bahkan dibayang-bayangi oleh ancaman demonstrasi dari sejumlah petani yang merasa tidak mendapatkan haknya secara penuh, sehubungan dengan adanya balapan tersebut.

Di luar sirkuit megah tempat balapan nanti atau hotel mewah tempat para pembalap dan kru tim menginap, kemiskinan India memang memperlihatkan diri dengan jelas.

Untuk kampiun F1 2011 Sebastian Vettel dari Red Bull, pemandangan yang ia saksikan dalam perjalanan 200 km dari New Delhi ke Taj Mahal sebelum membalap, bak sudah menjadi sebuah pencerahan.

"Ini sudah pasti membuat kaki Anda menjejak bumi lagi dalam banyak hal dan membuat Anda memahami banyak hal. Ini adalah sebuah inspirasi dan membuat Anda menghargai apa yang selama ini kurang Anda hargai," tutur Vettel.

Gelaran GP India sendiri juga mendaptkan kritikan dari salah satu atlet ternama negara tersebut, Gagan Narang. Mengingat situasi dan kondisi yang ada, atlet menembak itu menilai GP India sama sekali tak membantu perekonomian lokal yang mana menjadi salah satu tujuan GP India..

"Mari kita akui olahraga ini bukanlah untuk semua orang. Hanya mereka yang berkanton tebal saja yang memiliki akses. Aku sudah mendengar dari rekan-rekanku bahwa GP India bahkan lebih mahal dari GP Singapura. Itu sama sekali tak sesuai tujuannya," kritik Gagan.



( krs / rin ) Kris Fathoni W - detiksport

Tidak ada komentar:

Posting Komentar