SIMFES 2011
SAWAHLUNTO, Tidak salah jika musik dikatakan sebagai bentuk bahasa seni, sekaligus jembatan budaya antara bangsa dan negara. Hal itu ditunjukan, ketika Sawahlunto Internasional Music Festival (SIMFes) 2011 dibuka, Jumat (2/12) malam, meski di tengah gerimis hujan, ternyata musik mampu memikat ribuan pasang mata dan telinga untuk terus menikmatinya.
Bertempat di pelataran Museum Goedang Ransum, kawasan Air Dingin Kota Sawahlunto, belasan musisi dari tujuh negara dan lima benua membuat hadirin tidak beranjak, meski mulai dibasahi derai gerimis yang turun tiada henti.
Memang, jauh sebelum SIMFes dibuka sekitar pukul 20.00 WIB, langit sudah memberikan tanda akan turunnya hujan. Namun, iven yang dilaksanakan untuk kedua kalinya itu, mampu mengalahkan gerimis yang turun. Gendang Karambia pun langsung ditabuh Walikota Sawahlunto, Amran Nur yang didampingi tokoh nasional Siswono Yudhohusodo, Duta Besar Uzbekiztan Shavkut Jamolov, sebagai tanda SIMFes 2011 resmi dibuka.
“Atas nama warga kota, saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran para musisi dunia, sekaligus warga dan wisatawan yang turut hadir melihat pertunjukan ini,” terang Amran Nur.
Amran mengatakan, dalam iven yang untuk kedua kalinya digelar tersebut, dihadiri musisi dari tujuh negara , yang tersebar di lima benua. Para musisi tersebut, didukung dua kurator, yakni Edy Utama dari Sumatera Barat dan Hitrud Cordes dari Jerman.
Walikota Sawahlunto Amran Nur menilai, SIMFes 2011 sebagai bentuk jembatan budaya antarbangsa. Sementara Duta Besar Uzbekiztan Shavkut Jamolov, menyebutkan, kehadiran musisi dari negaranya dalam ajang SIMFes merupakan sebuah langkah kemajuan di bidang seni.
Bagi Uzbekistan yang baru merdeka 20 tahun terakhir ini, ujar Shavkut Jamolov, kehadiran mereka di SIMFes merupakan kehormatan besar dalam mengapresiasikan kesenian budaya yang dimiliki dan pergaulan kebudayaan dunia.
“Suatu kehormatan, kesenian yang ditampilkan musisi Uzbekiztan dalam kesempatan ini. Semoga, musisi kami dapat memberikan yang terbaik,” terang Shavkut Jamolov.
Dalam malam pembuka itu, para musisi SIMFes 2011 mulai dari Cristopher Basile (Australia), Martha Toledo (Meksiko), Jitae Erick Chung (Korea Selatan), Remi Decker (Belgia), Uzbegim Yoshlari (Uzbekhistan), Kerece Fotso (Kamerun), dan Lou Chou Yun (Taiwan), menunjukan kepiawaian mereka dalam bermain musik.
Tapi tidak saja musisi mancanegara, para musisi lokal seperti Gaung Perca, Gambang Longseetong, Sandi Suara, Kota Arang Perkusi, dan M Halim, juga tidak kalah menarik dalam menyajikan kemampuan mereka ke tengah penonton yang bertahan di tengah gerimis.
Menurut Edy Utama, Sawahlunto merupakan kota bersejarah yang tumbuh dan berkembang dalam semangat keragaman etnisitas yang dinamis.
Sejarah kota ini tidak dapat dilepaskan dari kehadiran berbagai suku bangsa Asia, Timur Tengah, Eropa, Minangkabau dan Nusantara yang kemudian membentuk mozaik kebudayaan yang masih membekas dengan nyata sampai hari ini.
“Untuk melacak kembali masa lalu, sambil merayakan masa kini dan merancang masa depan yang lebih baik, perlu digelar sebuah festival musik bertaraf internasional. SIMFes yang kedua kalinya digelar, adalah jawabannya,” kata Edy Utama.
Sebuah festival musik dapat memberikan pencitraan yang lebih kultural pada Kota Sawahlunto. (h/dil)HALUAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar